Lima tahun terakhir, Sarbini (52) dan 13 anaknya tinggal di bekas kandang kambing di Palembangan, Desa Dukuh, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Banten. Siti Mutiara, putri ke enam Sarbini memiliki cita-cita besar meski tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah.
Tiara sapaan akrabnya bercita-cita menjadi juru masak atau chef. Cita-cita itu muncul lantaran Tiara yang merupakan anak perempuan paling besar sehari-hari menjadi juru masak untuk ayah dan saudara-saudaranya.
"Cita-citanya mau jadi chef (juru masak). Setiap hari saya yang masak buat bapak. Setiap hari saya yang masak. Makanya pengen jadi chef," kata Tiara di Serang, Rabu (2/8).
Tiara ingin menjadi juru masak hebat agar bisa membantu ekonomi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya. Dia ingin sekali merasakan pendidikan di sekolah agar bisa menggapai cita-citanya seperti anak-anak lainnya. Tapi, karena keterbatasan ekonomi, Tiara hanya bisa menerima dan pasrah dengan keadaan keluarganya.
"Mau (Sekolah), pernah pas main di sekolahan disuruh sekolah, tapi engga ada uang (buat biaya sekolah," ungkap tiara sambil tersenyum.
Meski tidur di bekas kandang kambing, Tiara tidak mengeluh. "Nyaman, paling kalau hujan suka bocor ya ditutupin tidur mah tetap tidur," katanya.
Selain memasak untuk keluarganya, sehari-hari Tiara mengisi waktu dengan membantu ayahnya memperbaiki rumah bekas kandang kambing.
Sebelumnya, Tidak mampu memperbaiki rumah akibat diterjang banjir lima tahun lalu, Sarbini terpaksa tinggal di bekas kandang kambing. Dia tinggal bersama 13 anaknya di kampung Palembangan, Desa Dukuh, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Banten.
Sarbini yang sehari-hari bekerja buruh serabutan terpaksa tinggal di gubuk kayu bekas kandang kambing. Tempat itu sama sekali tak layak untuk dijadikan rumah.
Sarbini yang telah ditinggal sang istri meninggal dunia lima tahun lalu, tak mampu membangun kembali rumahnya. Keterbatasan ekonomi jadi salah satu faktor penyebabnya. Karena itu dia bersama 13 anaknya terpaksa tinggal di gubuk tersebut.
"Rumah sudah lima tahun lalu ambruk makanya kita tinggal di sini (kandang kambing). Mau gimana lagi, mau bangunnya saja enggak punya uang. Saya di sini sejak 91-an. Asli orang sini," kata Sarbini, Rabu (2/8).
Karena keterbatasan dan tidak ada bantuan dari pemerintah, pria berusia 52 tahun ini harus merelakan anak–anaknya tidur di bekas kandang kambing dan kandang ayam. Dia harus rela tidur dengan gubuk apa adanya dan bocor saat hujan.
"ya tidur di sini saja semuanya, anak-anak yang kecil sama saya di bekas kandang ayam. Kalau yang gede di samping bekas kandang kambing. Saat hujan turun, bocor di berbagai tempat. was-was, khawatir sama anak-anak takut ini ambruk juga" ungkapnya.
Lebih miris lagi, 13 anak Sarbni juga tidak pernah merasakan mengenyam pendidikan. "Sekolah enggak punya biaya. Padahal mah deket sekolahan. Tapi ya saya mah ke anak saya bilang. Di sekolah belajar, di sini juga belajar sama bapak. Saya mah ngajarin anak saya saja," katanya.