Peluncuran buku bertajuk 'Batuagung Bangkit dari Kenangan Tragedi G30S PKI' ditentang oleh warga Jembrana, Bali. Alasannya, buku karya anggota DPD RI, Arya Weda Karna, dianggap mengesankan Desa Batuagung sebagai basis Partai Komunis Indonesia. Rencana peluncuran buku itu diketahui dari surat undangan dikirimkan dari panitia di Universitas Mahendradata, kepada ke sejumlah tokoh masyarakat Jembrana pada 11 April lalu. Peluncuran rencananya digelar pada Selasa (18/4), pukul 10.00 WITA di Aula Kantor Bupati Jembrana.Penolakan warga disampaikan melalui surat kepada Bupati Jembrana, ditembuskan kepada Camat Jembrana, dan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Jembrana.Dalam surat diteken oleh Ketua BPD Desa Batuagung, Ida Komang Anom, Bendesa Pakraman Batuagung, Ida Bagus Matra dan Perbekel Batuagung, Ida Bagus Komang Widiarta.Ida Bagus Komang Widiarta saat dikonfirmasi membenarkan pihak desa mengirimkan surat penolakan itu."Kita juga telah lakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan Tim Peluncuran Buku tersebut, untuk menjelaskan duduk persoalannya hingga dilayangkannya surat penolakan itu," kata Widiarta, Rabu (19/4).Menurut Widiarta, persoalan utamanya adalah judul buku itu. Sehingga dari penilaian tokoh-tokoh desa setempat mempertanyakan, sebab terkesan Desa Batuagung merupakan basis PKI. Hanya saja, Widiarta mengakui isi buku tidak ada menyatakan hal itu."Hanya judulnya saja. Justru sebenarnya desa kami menerima dampaknya dari tragedi itu," ujar Widiarta.Widiarta menyatakan, selama ini tidak ada pemberitahuan apapun terkait penulisan buku itu. Dia menyatakan penulisan buku itu juga belum lengkap.Menurut Widiarta, jika isi buku adalah hasil penelitian, maka seharusnya sebelum harus ada rekomendasi dan izin dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Peneliti juga harus menyerahkan proposal penelitiannya ke desa. Namun persoalan itu dikatakannya telah diklarifikasi. Ia mengatakan tidak ada pembatalan terkait peluncuran buku itu, hanya penundaan. Ia berharap penerbit bisa merevisi judul, dan sebelum diluncurkan seharusnya dilakukan bedah buku.Terkait permasalahan itu, Ketua Tim Penyusun Buku, Ni Wayan Ari Setiawati, menjelaskan tujuan penulisan buku ini buat mendokumentasikan dan memaparkan tentang keberadaan salah satu desa pernah mengalami kekerasan massal.Selain itu, di dalamnya juga mendokumentasikan jejak budaya lokal Hindu Bali tetap bertahan sampai saat ini. Seperti tatanan adat dan budaya masih dijalankan, dan mampu berjalan seiring serta sejalan perubahan di era modern ini."Jika demikian, tentu akan merevisi judul buku ini sebelum diluncurkan," demikian Setiawati.
Peluncuran buku soal Desa Batuagung ditentang warga Jembrana
Warga Desa Batuagung merasa judul buku seolah menganggap mereka adalah basis PKI.
Rekomendasi