Badan Pusat Statistik (BPS) mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). BPS bekerja sama dengan Bappenas, Kementerian Kesehatan, dengan dukungan UNICEF, telah melaksanakan Survei Kualitas Air (SKA 2015) di Provinsi DI Yogyakarta.Hasilnya, 89 persen sumber air di Daerah Istimewa Yogyakarta telah tercemar bakteri E.coli dan beberapa bahan kimia lainnya."Hasil survei kualitas air (SKA) tahun 2015 menunjukkan fakta bahwa kondisi air minum di DIY cukup memprihatinkan," ujar Direktur Statistik Kesra Badan Pusat Statistik (BPS) Gantjang Amanullah dalam Sosialisasi Hasil Survei Kualitas Air Tahun 2015 (SKA 2015), di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa, (22/11).Dia mengungkapkan, bahwa SKA 2015 merupakan uji coba survei kualitas air minum pertama di Indonesia, dengan jumlah sampel sebanyak 940 rumah tangga di seluruh kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta."Pengujian sampel air minum rumah tangga dilaksanakan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) DI Yogyakarta," ungkapnya.Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2015, diketahui bahwa 81,0 persen rumah tangga di DI Yogyakarta memiliki akses terhadap air minum layak libel tinggi dari angka rata-rata nasional 71,0 persen dan 86,3 persen memiliki akses terhadap sanitasi layak."Hasil penguji sampel air minum pada SKA 2015 menunjukkan bahwa 89 persen sumber air rumah tangga terkontaminasi bakteri E.coli," katanya.Di sisi lain, presentase sampel air minum yang terkontaminasi nitrat dan kholrida jauh lebih rendah. Hanya 6,3 persen sampel air minum rumah tangga yang mengandung 50 mg/L nitrat.
SKA 2015: 89 Persen sumber air di Yogyakarta tercemar bakteri E.coli
SKA 2015 merupakan uji coba survei kualitas air minum pertama di Indonesia, dengan jumlah sampel sebanyak 940 rumah tangga di seluruh kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta.
Rekomendasi