Seribu anak lereng Gunung Slamet menulis surat untuk presiden

Seribu anak lereng Gunung Slamet menulis surat untuk Presiden. Gerakan menulis dengan tangan ini dimotori Ridwan Sururi, gerakan ini diharapkan bisa menjadi penyemangat anak-anak di lereng Gunung Slamet untuk bisa menggapai masa depan, sekaligus menumbuhkan budaya literasi di pelosok.

Chandra Iswinarno
Oleh Chandra Iswinarno - Reporter
Seribu anak lereng Gunung Slamet menulis surat untuk presiden
Seribu anak lereng Gunung Slamet menulis surat untuk presiden. ©2016 merdeka.com/chandra iswinarno

Berbagai harapan dan keinginan siswa sekolah dasar di Desa Kutabawa dan Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah dituang dalam dalam lembaran kertas putih. Surat yang ditulis bersama-sama itu dilakukan sekitar seribu anak di lereng selatan Gunung Slamet yang dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo.Agenda yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB di kawasan Rest Area Desa Serang tersebut menjadi salah satu bagian dari program gerakan menulis dengan tangan di Purbalingga, Jawa Tengah. Setiap anak wajib menulis surat dalam tulisan tangan dengan berbagai ciri khas. Harapan dan cita-cita siswa dari sembilan sekolah dasar yang ada di lereng Gunung Slamet tersebut pun berbeda-beda."Seperti yang ditulis siswa Madrasah Ibtidaiyah Guppi Desa Serang, Maratun Soleha. Siswa kelas VI tersebut menulis harapannya untuk bisa meneruskan sekolahnya hingga mencapai cita-citanya. "Saya ingin agar bisa meraih cita-cita menjadi guru," ujarnya, Selasa (18/10).Berbeda dengan Maratun, siswa SD Negeri 1 Kutabawa, Fauzi Nur Hidayat menuliskan keinginannya kepada pemerintah. Harapan tersebut, jelas Fauzi, berupa perbaikan jalan menuju sekolahnya. "Selain itu, saya ingin agar buku paket untuk belajar kami cepat dikirim, serta juga memberikan fasilitas sekolah," kata siswa kelas VI.

Seribu anak lereng Gunung Slamet menulis surat untuk presiden

Selain fasilitas sekolah, keprihatinan mengenai kondisi alam yang semakin gundul juga ditulis seorang siswa dari SD Serang 4, Fikri Alzami. Dalam suratnya, ia meminta agar diperhatikan alam dan lingkungan. "Saya berharap agar hutan yang gundul bisa direboisasi dan juga presiden mau memperhatikan lingkungan hidup," jelasnya.Sementara itu, relawan Gerakan Menulis dengan Tangan, Nury Sybli mengatakan agenda ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan anak-anak dari generasi sekarang yang sudah mulai terbiasa dengan teknologi dalam gawai. "Kami ingin agar kebiasaan anak untuk menulis tangan bisa terus ada dan berkembang. Karena dengan menulis menggunakan tangan bisa mengasah motorik anak agar lebih kreatif dan juga bisa mengingat apa uang dipelajari," ujarnya.Dia mengemukakan gerakan ini dibangun dengan target anak-anak sekolah yang ada di seluruh Indonesia, mulai dari yang ada di kepulauan hingga pegunungan. Ia mengemukakan, tugas ini bukan hanya pekerjaan rumah orang tua saja untuk mengajak anak-anak untuk kembali menulis dengan tangan, tetapi sudah menjadi tanggung jawab bersama masyarakat.Saat ditanya mengenai Presiden Republik Indonesia yang disurati, Nury mengemukakan Presiden merupakan pemimpin tertinggi negeri ini yang semua anak-anak Indonesia ingin ketemu."Semua anak Indonesia punya cita-cita menjadi Presiden, semua anak bercita-cita untuk menjadi pemimpin negeri ini juga. Sehingga dengan ini, paling tidak Presiden bisa menjadi motor atau penyemangat anak-anak supaya mereka punya harapan yang lebih baik lagi," jelasnya.

Seribu anak lereng Gunung Slamet menulis surat untuk presiden

Gerakan menulis dengan tangan ini juga bekerja sama dengan Kuda Pustaka Purbalingga yang dimotori Ridwan Sururi. Menurut Ridwan, gerakan ini diharapkan bisa menjadi penyemangat anak-anak di lereng Gunung Slamet untuk bisa menggapai masa depan, sekaligus menumbuhkan budaya literasi di pelosok."Saya berharap dengan gerakan ini juga ikut memotivasi anak untuk meningkatkan lagi budaya literasi," ujarnya.Selesai agenda, setiap anak kemudian menyerahkan surat yang ditulisnya ke rak yang digunakan kuda pustaka kala berkeliling desa dengan kuda milik Ridwan Sururi, Luna. Nantinya, surat yang dikumpulkan tersebut akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo.Setelah itu, para siswa mendapat satu buku serta satu lusin pulpen standard sebagai bentuk penghargaan kepada mereka. Dalam agenda tersebut, semua anak yang ikut merupakan siswa kelas tiga hingga kelas enam yang ada di kawasan tersebut.

Rekomendasi