Banyak bangunan tinggi di Jakarta tak layak berdiri. Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak berpenghuni alias kosong.Bertahun-tahun gedung menjulang itu tidak ada aktivitas. Malah yang terdengar sekelumit cerita mistis yang tak diketahui kebenarannya.Salah satu gedung tinggi di Jakarta yang lama tak dipakai adalah Menara Saidah di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. Meski bangunannya masih terlihat kokoh berdiri, gedung itu sudah lama kosong.
menara saidah ©2012 Merdeka.com
Menara Saidah dan gedung-gedung mangkrak lainnya akan diaudit oleh Pemprov DKI Jakarta. Gedung yang dianggap sudah tak bisa dimanfaatkan diminta untuk dirobohkan."Sekarang lagi diaudit nanti kalau sudah ada beberapa gedung seperti di Cikini, kita audit, terpaksa kita lihat. Kalau robohin bukan kita, mereka yang robohin, enak aja, tapi sebagian (pemilik) sudah kita panggil," terang Kepala Dinas Penataan Kota DKI Jakarta, Benny Agus Chandra, kepada wartawan, Senin (17/10) kemarin.Ditambahkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, gedung tak terpakai lahannya bisa dimanfaatkan. Namun untuk mewujudkan itu, harus diselesaikan terlebih dulu melalui proses audit."Soal Menara Saidah, kita sudah minta tolong untuk diaudit Dinas Tata Kota, sampai kita mau robohin. Tapi katanya sengketa," kata Djarot.
Advertisement
Informasi yang diterima Djarot, permasalahan Menara Saidah sangat rumit. Ada yang bilang konstruksi bangunan miring namun ada yang mengatakan gedung sengketa. Namun yang jelas, katanya, karena lama tak dihuni gedung itu mirip rumah hantu."Saidah itu sudah sengketa rame dan katanya miring. Waktu itu kita undang dinas tata kota, katanya konstruksinya masih oke. Tapi enggak dimanfaatkan akhirnya jadi rumah hantu. Kalau masalah gedung seperti itu bisa kita manfaatin," terangnya.Merdeka.com sekitar tahun 2012 lalu, pernah mendatangi gedung yang letaknya tak jauh dari Stasiun Cawang itu. Secara kasat mata, konstruksi bangunan memang masih cukup kokoh. Namun penampilan fisiknya tidak. Gedung gelap, dan sangat kotor. Beberapa bagian gedung mulai berlumut dan sejumlah kaca jendela terlihat pecah.
"Sekarang sudah kosong mas, gak tau kenapa, gak ada lagi yang nyewa gedung itu," kata seorang penjaga yang enggan disebut namanya kepada merdeka.com, Kamis 24 Mei 2012.Penjaga tersebut menceritakan, dahulu sejumlah perusahaan berkantor di sana. Namun satu per satu menyatakan tak memperpanjang kontrak sewa gedung."Awalnya pemakai gedung sudah komplain kepada manajemen tentang lift yang lambat, namun tidak pernah ditanggapi, akhirnya pada keluar," sambungnya.Dia menjelaskan, awalnya, menara bergaya romawi itu bernama Gedung Grancindo. Didirikan jauh sebelum krisis moneter 1998 terjadi. Kemudian pemilik gedung mengalami kebangkrutan sehingga menjual gedung kepada Saidah Abu Bakar Ibrahim.
Advertisement
Kemudian, Saidah melakukan renovasi besar-besaran, termasuk menambah jumlah lantai dari 15 menjadi 28 lantai. Terakhir mengganti nama gedung sesuai dengan namanya, Menara Saidah.Hingga dalam perkembangannya, Menara Saidah dikelola oleh beberapa perusahaan berbeda namun masih di dalam Merial Group. Di antaranya PT Merial Esa, PT Merial Medika, dan Dewa.com.Namun, kejayaan Menara Saidah tidak berjalan cukup lama. Masa keemasan bisnis penyewaan gedung perkantoran ini hanya bertahan enam tahun.Sekian lama Menara Saidah tak berpenghuni, banyak cerita mistis bermunculan. Satpam di sana berkisah tentang pengalamannya.Suatu malam, ketika ada keperluan di lantai basement Saidah, dia mengaku dikerjai oleh makhluk halus. Di dalan gedung yang sepi itu, terdengar suara yang memanggil namanya. Bahkan ada yang mencoleknya. Kejadian itu membuatnya merinding."Waktu itu saya langsung merinding, bahkan tidak lama ada yang mencolek saya," jelas satpam itu.Ditambahkannya, pernah ada rumah produksi ingin syuting film horor di sana. Tapi batal, karena merasakan aura negatif yang begitu kuat."Kata paranormalnya jangan syuting di sini, terlalu banyak penghuninya," bebernya.
Advertisement
Pengamat perkotaan Yayat Supriyatna, menceritakan, pada masa kejayaannya, Menara Saidah milik Saidah Abu Bakar cukup megah dan mewah. Ditambah lagi dari segi bentuk, Menara Saidah memiliki aksen seperti bangunan kuno di Eropa.Meredupnya Menara Saidah, kata dia, berawal dari penelitian yang menyebut pondasi bangunan sudah tidak lagi berdiri tegak."Konstruksi bangunan Menara Saidah memang bermasalah sejak awal. Tetapi, baik pemilik maupun dinas P2B tidak ada yang mau memberikan penjelasan," ujat pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna kepada merdeka.com.Bahkan beredar kabar pengelola gedung sudah pernah mendatangkan tim ahli bangunan dari Jerman untuk meluruskan kembali pondasi gedung. Namun, karena biaya yang cukup tinggi, ratusan miliar, membuat pengelola mengurungkan rencananya.Beberapa tahun berlalu setelah kedatangan merdeka.com saat itu, belum terdengar kabar Menara Saidah sudah laku terjual atau kembali disewa perusahaan. Gedung itu masih seperti empat tahun yang lalu, tak ada aktvitas apapun dan gelap.Lantas, apakah rencana Pemprov DKI mengeksekusi Menara Saidah akan benar-benar terjadi. Tim audit masih melakukan pengecekannya.