Tangannya terlihat cekatan membuka ban truk. Saat kesulitan, ia mengubah posisi berdiri dan memindahkan tuas pembuka ban ke bagian yang lain. Peluh nampak meleleh di bagian wajahnya yang mulai mengeriput. Tak sampai lima menit, ban berukuran besar terpisah dari velg-nya. Helaan napas legapun terlihat dari wajah Evie Supit (56), penambal ban wanita di ruas jalan Ringroad Manado.Evie wanita biasa. Usianya terbilang uzur untuk seorang wanita penambal ban. Warga Kelurahan Maumbi Ligkungan IX, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara ini, sering kali membongkar ban berukuran besar, biasanya milik truk. Umumnya pekerjaan ini dilakukan pria karena butuh tenaga cukup besar."Walaupun pekerjaan ini berat tapi kalau kita bekerja dengan otak pasti akan jadi mudah. Jangan mengandalkan otot karena akan terasa sangat berat. Paling hanya bisa membuka dua atau tiga ban akan langsung menyerah. Kalau sudah tau tekniknya akan sangat mudah," ujar wanita yang akrab dipanggil Oma Evie ini beberapa waktu yang lalu saat berbincang dengan merdeka.com.Tak ada keluhan yang terlontar dari bibir wanitanya. Namun demikian, Evie terlihat senang dengan bayaran Rp 20 ribu per ban yang ditambalnya meski tubuh tuanya terlihat mulai merapuh dan kelelahan. Pekerjaan yang tak lazim dikerjakan ini dengan rela dilakoni demi membiayai kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah anak bungsunya."Sekarang anak saya sudah semester akhir Jurusan Sastra dan Budaya Universitas Negeri Manado. Saya sangat bersyukur dengan hasil kerja keras ini anak saya sebentar lagi selesai sekolah. Selain itu, uang hasil tambal ban, kami gunakan untuk keperluan sehari-hari," jelas dia sembari mengipas tubuhnya yang penat.
Wanita penambal ban di ManadoMelakoni profesi sebagai seorang penambal ban, dikatakan Oma Evie, bukan pilihan hidupnya. Dia terpaksa menjalaninya karena sang suami pergi dengan wanita lain dan meninggalkan dirinya dan anak-anaknya. Statusnya sebagai single parents dan keterbatasan ekonomi membuat ia terpaksa menjadi seorang penambal sejak sepuluh tahun terakhir.Mulai buka sejak pukul 08.00 Wita pagi, setiap hari Evie mengaku dapat mengantongi uang rata-rata Rp 200 ribu. Bisa lebih namun bisa juga kurang tergantung banyaknya ban kendaraan yang masuk. Hasil pekerjaannya pun tak kalah dengan penambal ban pria. Ketelitian seorang wanita menjadi modal utama dia dalam bekerja hingga mendapat kepercayaan pelanggan."Saya berlangganan tambal ban Oma Evie sudah lama. Dia sangat teliti dan cepat dalam membuka ban. Kualitas kerjanya pun sangat bagus dan tak kalah dengan penambal ban pria," ujar Ventje salah seorang pelanggan.Meski hidup terbatas dan harus menanggung lelah yang amat sangat, wanita ini tak mau menyusahkan orang lain. Mengeluh dan meminta-minta belas kasihan orang adalah suatu pantangan baginya. Wanita tangguh ini hidup dari sebuah kerja keras dan selalu bersyukur dengan apa yang diperolehnya.