Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menilai camilan Bikini alias Bihun Kekinian merupakan bentuk kreativitas yang disalahartikan. Hal ini disampaikannya dalam kuliah umum 'Generasi Kreatif, Generasi Pemimpin Masa Depan' di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, Selasa (30/8)."Bagi saya hanya salah tafsir. Menurut dia kreatif positif tapi waktu dilempar ke pasar responnya negatif. Saya juga tidak yakin dia niatnya jelek," ujar pria yang akrab disapa Kang Emil ini menanggapi pertanyaan seorang mahasiswa soal cemilan Bikini.Kang Emil menekankan bahwa ada nilai-nilai masyarakat yang mengikat setiap anggotanya. Karenanya, tidak heran bila Bikini ditentang oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim dan berpegangan pada nilai-nilai tertentu."Kamu hidup dengan 220 juta ya kamu harus tepat selera dengan pikiran 220 juta penduduk Indonesia. Sekalinya bermasyarakat, kamu berlangganan dengan nilai-nilai di luar kamu. Kalau dia jual di Amerika, monggo, karena nilai-nilai sosial Amerika menerima," lanjutnya.Sembari bergurau, Wali Kota yang juga seorang arsitek ini tidak heran kalau dirinya beberapa kali ikut "dibawa-bawa" dalam kontroversi camilan ini, karena kota yang dipimpinnya lah yang memberikan ide kepada TW (19), sang produsen Bikini."Dilatihnya di mana? Di Bandung pinternya. Ikut workshop UKM di Bandung, pulang ke Depok dia bikin bisnis di rumah. Jadi saya kebawa-bawa juga," guraunya, membuat para peserta yang hadir tertawa.
(Tsana Garini Sudradjat)