Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, Ahmad Nurani, menyatakan guru asing asal Turki mengajar di tempat itu memang mengagumi Fethullah Gullen, yang dituding sebagai otak percobaan kudeta di Turki. Namun, menurut dia mereka tegas menolak percobaan penggulingan kekuasaan, dan tidak mengajarkan politik di dalam kelas.Ahmad mengatakan, selama ini guru asing itu mengajarkan pelajaran berdasarkan kurikulum sudah ditentukan Kemendikbud. Mereka juga tidak mengajarkan dan membangun wacana tentang situasi politik di Turki."Tentunya guru dari Turki yang ada saat ini mereka tidak terlibat kudeta Turki. Memang mereka juga mengagumi Gullen sebagai tokoh tokoh internasional. Tetapi mereka tidak mendukung kudeta terhadap pemerintah Turki," kata Ahmad Nurani, Selasa (2/8).Menurut Ahmad, jumlah guru asing di sekolah Kesatuan Bangsa ada tiga. Dua berasal dari Turki dan satu dari Amerika. Mereka bekerja dan dikontrak secara pribadi. Bukan kerjasama lembaga atau yayasan pendidikan antardua negara.Salah satu murid Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, Keisha Hanifa, mengaku senang mendapat diajar guru asing karena bisa belajar bahasa Inggris dan Turki. Dia menyatakan para guru asing itu tak pernah mengajarkan pendidikan politik maupun mazhab tertentu."Di sekolah ini pelajaran sains dan agamanya berimbang. Kami mempelajari bahasa Turki," kata Keisha Hanifa.Keisha mengaku mengetahui tentang Gullen bukan karena diajarkan guru asing, melainkan membaca di majalah dan media sosial."Saya tahu tokoh Gullen sebagai penulis novel, bukan politikus. Kalau soal politik, saya kurang paham," imbuh Keisha Hanifa.
Sekolah Kesatuan Bangsa bantah guru asing mereka pro Gullen
Mereka menyatakan para guru mengajar sesuai kurikulum ditentukan Kemendikbud.
Rekomendasi