Praktik aborsi di Bekasi pakai sendok, si peracik obat lulusan SMP

Praktik aborsi di klinik ini juga menggunakan obat-obatan yang sebagian besar sudah kedaluwarsa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Praktik aborsi di Bekasi pakai sendok, si peracik obat lulusan SMP
Klinik aborsi di Bekasi. ©2016 Merdeka.com

Selama puluhan tahun beroperasi, praktik aborsi dokter Jabat di klinik Bekasi Medical Centre, Jalan Juanda, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, akhirnya terbongkar. Salah satu mantan pasien, Mawar (nama samaran) mengakui cara dokter Jabat mengaborsi benar-benar mengerikan. Dia hanya memakai bius lokal dan tidak menyuntiknya."Pertama di-USG, terus langsung ke ruang aborsi. Lalu Dibius lokal, enggak disuntik, cuma kayak dimasukin sesuatu ke lubang anus," ujarnya, Kamis (28/4).

Klinik aborsi di Bekasi ©2016 Merdeka.com

Selanjutnya, dokter memasukkan obat penghancur janin ke kemaluan. Kemudian menunggu beberapa menit sampai janin di dalam rahim hancur."Habis itu disedot pakai alat sambil di-USG, jadi kelihatan sudah bersih atau belumnya. Enggak sampai lima menit," cerita Mawar.Usai disedot, dokter lalu membersihkan rahim dengan alat seadanya, seperti cocor bebek untuk membuka kemaluan. Pembersihan dilakukan sampai benar-benar bersih."Pendarahannya itu mungkin karena pakai sendok, terkena dinding rahim.".

Usai aborsi, Mawar mengaku diberi obat penghilang rasa sakit serta antibiotik.

Setelah sebulan, menstruasi kembali normal lagi seperti biasa. Menstruasi itulah yang benar-benar bisa membersihkan secara alami kandungan.Meski berhasil melakukan aborsi, Mawar tetap merasa menyesal dengan tindakan dilakukannya. Tiap hari, peristiwa aborsi dialaminya menjadi mimpi buruk."Sampai sekarang jadi beban psikis buat gue, keinget terus, kayak orang gila kalau inget, nyesel," terang Mawar.Mawar nekat melakukan aborsi lantaran mengandung di luar nikah. Sementara keluarga juga tidak ingin aib anaknya tersebut diketahui orang banyak.

Klinik aborsi di Bekasi ©2016 Merdeka.com

"Waktu itu saya hamil, belum menikah," ujarnya.Aborsi dilakukan saat usia kandungan hampir tiga bulan. Keluarga membawa Mawar ke Klinik Bekasi Medical Centre. Pemilihan tempat itu lantaran harga ditawarkan begitu terjangkau, Rp 3 juta.Sebelum memilih klinik milik dr Jabat, Mawar dan keluarga sebenarnya sudah mendatangi beberapa lokasi. Namun, mereka terpincut di klinik ini lantaran murah.

"Sebelumnya pernah ke Jakarta, namun harganya mahal, sehingga tidak jadi," katanya.Dalam kasus ini, Polresta Bekasi mengamankan 17 orang, lima di antaranya YS, MRYN, NN, KRTN, MMN sudah ditetapkan sebagai tersangka. Saat ini polisi masih memburu dokter Jabat dan seorang lagi berinisial ALD.Kesaksian MMN, dia sebenarnya seorang office boy namun dipercaya untuk meracik obat, padahal dia tidak memiliki ilmu di bidang farmasi"Saya lulusan SMP, bagian saya di bidang farmasi," katanya.Mirisnya lagi, obat-obatan yang diracik tersangka sebagian besar sudah kedaluwarsa. Meski begitu, obat racikan lulusan SMP tersebut tetap diberikan kepada pasien aborsi.

Lokasi pembuangan janin hasil aborsi Bekasi ©2016 merdeka.com/adi nugroho

Polisi menyita Medical Record, buku pendaftaran, alat kedokteran, bekas darah di tisu, alat suntik, obat-obatan kedaluwarsa dan CCTV."Kami juga menemukan tulang dari septic tank yang diduga merupakan tulang manusia," ujar Kapolresta Bekasi Kombes Heri Sumarji.


Para tersangka diduga melanggar pasal 194 UU RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dan atau pasal 77 A UU RI no 35 tahun 2004 tentang Perlindungan Anak, dan atau pasal 78 UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Rekomendasi