Mobil Volkswagen atau VW jenis Kombi Highroof milik Iwan Kuswardi (49) terbilang sangat istimewa. Selain bodinya yang mulus dan mesinnya yang prima, desain interiornya dibuat bak kabin pesawat.Kenyamanan tempat duduk utama, berbahan kulit lembut memberikan kesan lux, ditambah sandaran tangan berbahan kekar memperlihatkan kekokohan. Penumpangnya pun merasa duduk di bangku eksekutif pesawat.Tiga kursi berjajarnya juga menawarkan kehangatan bersama anggota keluarga yang lain. Kaca yang lebar membuat pandangan lega, luas depan, kiri dan kanan. Seolah rela berbagi dengan orang-orang di sampingnya.Kaki pun bisa bebas berselonjoran dan bersandar dengan kemiringan kursi sesuai yang diinginkan. Sambil bersandaran juga bisa menikmati layar video yang terpasang di kursi depannya.VW jenis kombi memang memiliki keistimewaan pada ruangnya yang luas dan lebar. Bahkan khusus hightroof memiliki ketinggian sekitar 2 meter dari lantai mobil."Begitu saya masuk, saya tidak perlu membungkuk, kepala tidak akan terbentur. Tempat duduknya nyaman tidak kalah dengan Alpard," kata Iwan tersenyum sambil menikmati tempat duduknya, Minggu (10/4).
VW Kombi Iwan Kuswardi ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko
Tidak hanya itu, pembatas dengan cabin depan dimanfaatkan sebagai tempat AC sekaligus meja untuk menempatkan minuman dan makanan ringan. Sementara di bagian bawahnya difungsikan sebagai sound system, yang bisa menikmati aneka musik romantis. Semua peralatan-peralatan itu masih aktif digunakan hingga kini.Sementara di bagian belakang difungsikan sebagai tempat tidur anak-anak. Sebuah kasus dengan kanan dan kiri dilengkapi tempat aneka peralatan dan minuman. Cocok memang untuk membaringkan anak-anak yang sudah tidak bisa menahan kantuk.VW Kombi Highroof milik Iwan dibuat tahun 1979 dengan 4 Cylinder, 1700 CC engine, 205 70 R15 Tyres & 5,0 X 15 Rims. Warnanya pun Marine Blue, perpaduan antara warna putih dan biru yang cerah."Saya suka VW, salah satunya karena mesinnya di belakang, tidak banyak mobil dengan mesin di belakang," kata pria yang sehari-hari sebagai pengacara ini.Soal biaya memodifikasi, Iwan mengaku tidak menghitungnya. Tetapi diperkirakan keseluruhan lebih dari Rp 100 Juta. Perbaikan-perbaikan dilakukan dari mulai urusan mesin dan 'tetek bengeknya'. Banyak urusan detail interior agar mobil kebanggaan itu menjadi koleksi yang sempurna.
VW Kombi Iwan Kuswardi ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko
Iwan sendiri pun merasa, tidak ada habis-habisnya melakukan perbaikan dan perawatan. Bahkan lebih besar biaya perbaikan dibanding harga beli awal."Kita mau sedikit korban dari awal. Biaya perawatan relatif tidak ada, karena VW ini adalah VW koleksi. Tidak dipakai sehari-hari. Kita pakai hanya kalau kepingin, baru kita pakai. Paling hari-harinya hanya ingin dengerin suaranya, dipanasi saja. Suaranya seperti apa," ungkapnya.Iwan memiliki pengalaman dengan mobilnya itu saat perjalanan ke Yogyakarta. Ia mengaku lupa lokasi persisnya, seingatnya di sekitar Ngawi.Saat itu suasana malam dan mobil sedang kecang-kecangnya melaju tiba-tiba terlihat gundukan rel kereta api. Ia sudah tidak punya kesempatan untuk mengurangi gas, akhirnya meluncur serasa melompat dengan bodi yang jatuh bersamaan."Mungkin pencipta mobil ini sudah mendesain sedemikian rupa saat menghadapi situasi yang seperti saya alami. Bodinya berat, saat jatuh masih bisa dikendalikan, dan bersyukur aman. Sekali itu saja terjadi, tidak mau kalau untuk mengulang," ungkap ayah dua anak ini.
Advertisement