Longsor di Banjarnegara, puluhan hektar lahan salak gagal panen

Akibat lahan hancur, para petani rugi puluhan juta rupiah.

Chandra Iswinarno
Oleh Chandra Iswinarno - Reporter
Longsor di Banjarnegara, puluhan hektar lahan salak gagal panen
Longsor di Banjarnegara. ©2016 merdeka.com/chandra iswinarno

Bencana longsor disebabkan gerakan tanah di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, terjadi sejak Jumat (25/3) berdampak besar. Selain warga harus mengungsi, pergerakan tanah di Banjarnegara menyebabkan puluhan hektare lahan salak gagal panen.Miyanto, petani salak di Desa Clapar mengatakan, saat ini petani-petani salak tidak bisa menikmati hasil panen. Akibat lahan hancur, para petani rugi puluhan juta rupiah."Kalau sudah kejadian seperti ini, banyak yang tidak bisa panen. Lahannya sudah hancur karena longsor dan kerugiannya cukup besar," kata Miyanto saat ditemui, Jumat (1/4).Miyanto menjelaskan, longsor memutus akses langsung ke Banjarnegara melalui Madukara. Jika ada petani yang akan memanen salak, juga akan mengalami kesulitan untuk memasarkannya. "Kalau panen bingung juga, karena harus tambah biaya (untuk dibawa ke pasar). Soalnya harus memutar melalui Karangkobar. Padahal, harga satu kilogram salak saat ini hanya Rp 3-4 ribu," jelasnya.Untuk biaya transportasi menuju pasar, kata dia, butuh tambahan biaya hingga dua kali lipat. Dengan demikian, petani saat ini alami kerugian yang cukup besar.Sementara itu, Komandan Kodim 0704 Banjarnegara, Letnan Kolonel Infanteri Arif Bastari mengatakan, pergerakan tanah di lokasi belum bisa dipastikan. Pihaknya berharap warga yang mengungsi dapat segera kembali ke rumahnya."Cuaca cukup cerah. Gerakan tanah diharapkan berhenti, namun kita belum bisa memastikan. Hingga saat ini, pengungsi berjumlah 296 jiwa, pergeseran belum berubah sejak kemarin. Lebar longsor sampai saat ini mencapai 200 meter dengan panjang luncuran hingga lima kilometer," kata Arif.

Rekomendasi