Longsor di Banjarnegara terus terjadi, pengungsi mulai sakit

Hingga saat ini gerakan tanah masih akan terus terjadi, dalam kondisi yang sangat lambat.

Chandra Iswinarno
Oleh Chandra Iswinarno - Reporter
Longsor di Banjarnegara terus terjadi, pengungsi mulai sakit
Longsor Banjarnegara. ©2016 Merdeka.com

Bencana longsor yang terjadi di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah diperkirakan akan terus terjadi. Dari data yang diperbarui pada Rabu (30/3) sore, tercatat rumah yang rusak berat sudah mencapai 20 rumah. Jumlah tersebut bertambah dibanding hari sebelumnya yang berjumlah 17 rumah.Koordinator pos AJU Desa Clapar, Andry Sulistyo mengatakan, dari visual yang diamati longsoran saat ini sudah sejauh dua hingga tiga kilometer dari ujung hingga bawah longsoran."Rata-rata lebar longsoran sekitar 100-200 meter untuk area terdampak dan diperkirakan luasan area yang longsor sudah lebih dari delapan hektare," kata Andry, di Banjarnegara Kamis (31/3).Menurutnya, massa tanggap darurat bencana longsor di Desa Clapar, sudah diberlakukan mulai 25 Maret 2016 hingga 7 April 2016, atau selama 14 hari. Untuk saat ini, kata Andry, jumlah personel yang terdata untuk penanganan bencana longsor mencapai 232 personel."Kegiatan yang dilakukan selain membantu warga mengevakuasi barang-barang, pembuatan jalan alternatif, distribusi logistik, pendampingan pengungsi, personel juga membantu pengeringan kolam ikan milik warga," jelasnya.Pengeringan kolam ikan, hingga Rabu (30/3) sudah sebanyak sembilan kolam dari 59 kolam yang ada. Pengeringan kolam dilakukan untuk mengurangi penyebab kemungkinan terjadinya longsoran.Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Catur Subandrio mengungkapkan, pengungsi bencana longsor mulai terserang penyakit saluran pernapasan, sakit kepala dan tekanan darah tinggi."Selain itu, dua ibu hamil yang sudah kita evakuasi dikabarkan sudah hamil tua dengan perkiraan kelahiran sekitar minggu pertama dan akhir April," ungkap Catur.Dia mengatakan, Dinas Kesehatan Banjarnegara saat ini sudah membuka pos kesehatan di lokasi untuk para pengungsi. Petugas kesehatan, secara rutin masih memantau kondisi kesehatan warga di pengungsian."Kondisi kesehatan pengungsi terus kita pantau, keluhan kesehatan harus segera ditangani agar tidak sampai parah. Selain itu, petugas kesehatan memberi terapi kepada korban agar bisa lebih tenang dalam hadapi bencana," kata Catur.Terapi tersebut berupa peregangan kaki tangan dan badan. Sementara itu, pergerakan tanah masih terus terjadi dan belum bisa diprediksi selesainya. Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara, Teguh Rahayu menuturkan, hingga saat ini gerakan tanah masih akan terus terjadi, dalam kondisi yang sangat lambat."Kemungkinan untuk relokasi menjadi pilihan, karena saat ini longsor akan terus terjadi. Selain itu, banyaknya bangunan yang rusak berat secara otomatis membuktikan masih terus terjadinya gerakan tanah," tutur Teguh.Dari hasil amatan sementara, kata dia, kondisi tanah di perbukitan yang di bawahnya terdapat aliran sungai serta intensitas hujan yang tinggi membuat pergerakan tanah belum selesai. Hingga saat ini kemungkinan longsor untuk melebar di wilayah permukiman diperkirakan akan terus terjadi."Kalau dilihat dari goncangan pertam yang cukup besar, kemudian goncangan kedua dan ketiga yang cukup besar bisa merusak struktur bangunan rumah. Apalagi, struktur rumah yang ada tidak dibuat untuk menahan goncangan," imbuh Teguh.Sementara itu, Kepala Desa Clapar, Somad menambahkan longsoran yang terjadi di wilayah desanya mengarah ke sungai yang mengalir di dekat permukiman."Dari kemarin longsorannya mengarah ke kali Tulis yang ada di bawah," tandasnya.

Rekomendasi