Belum tuntas kasus Santoso, pemerintah Indonesia kini kembali dibuat pusing dengan aksi kelompok Abu Sayyaf. Kelompok ini menyandera 10 WNI di dekat perairan Filipina dan meminta tebusan hampir Rp 15 miliar.Santoso merupakan buronan paling dicari oleh pemerintah Indonesia saat ini. Bersama kelompoknya, Santoso disebut kerap menyebarkan teror di Poso, Sulawesi Tengah. Tak cuma itu, Santoso juga masuk ke dalam daftar teroris yang paling dicari Amerika Serikat (AS).Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbai menyebut Santoso adalah sosok yang dianggap bertanggung jawab terhadap sejumlah aksi pembunuhan terhadap warga di Poso tersebut rekaan.Dia yakin, Santoso memang benar ada dan dalam waktu dekat akan ditangkap. Apalagi posisi kelompok teroris jaringan Santoso berada di Poso saat ini terus terdesak. Gabungan Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dinamakan Satgas Tinombala ini terus menyisir kelompok Santoso."Memang banyak yang mengatakan dia sengaja dibiarkan, jadi proyek, biar operasi lama-lama di sana. Banyak orang membandingkan seperti DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh dulu," kata Ansyaad kepada merdeka.com, pekan lalu.Ansyaad mengungkapkan, Santoso telah menjadi pria yang paling diburu sejak 2007. Dia dituding sebagai otak pembunuhan dan mutilasi terhadap tiga siswi SMK di Poso, disusul kasus pembunuhan terhadap sejumlah polisi yang dikuburkan dalam satu lubang. Kini, sudah hampir satu dekade dia bergerilya menghadapi polisi dan TNI.
Advertisement
"Pertama awalnya hanya Polisi, kemudian Densus, kalau anda tahu sebagian Polisi lain bahkan Polda sebagian juga banyak yang mengatakan bersama BNPT supaya dapat donatur dari internasional dan sebagainya. Itu banyak isu itu, itu tidak pernah kita tanggapi isu itu," tegasnya.Santoso merupakan pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dibaiat secara langsung oleh Abu Bakar Baasyir, laiknya Jemaah Anshorut Tauhid (JAT). Setelah itu, dia mulai memperkenalkan dirinya dengan membuat video dan menyebarkannya melalui jejaring sosial.Perjalanan terornya bermula di tahun 2009, ketika Noordin M Top tertangkap pasca-peledakan bom Marriott dua. Kejadian itu membuat Jemaah Islamiah dan JAT lumpuh, hingga tersebar dalam kelompok-kelompok kecil seperti jamur.Akhir 2009, tokoh-tokoh utama teroris itu yang dipenjara mulai dibebaskan, salah satunya Abu Bakar Baasyir, dan Mustofa dan yang lain-lain. Sedang di Filipina ada Dul Matin serta Umar Patek."Akhirnya mereka sepakat bagaimana mereunifikasi gerakan ini, artinya mengumpulkan dana segala macam dan di situ lah Abu Bakar Baasyir kena mendanai itu. Ada bukti hukumnya. Dia ada keterkaitan dengan pelatihan di Jantho Aceh, pelatihnya adalah Mustofa dan pendanaannya adalah Abu Bakar Baasyir dari berbagai sumber," ungkapnya.Sayangnya, upaya polisi untuk menghentikan teror tersebut tak sepenuhnya berhasil, sebab ada beberapa orang yag berhasil lolos. Dari mereka, ada yang terlibat dalam kasus perampokan CIMB Medan, serta pembantaian di Polsek Hamparan Perak. Hingga tumbuhnya sel terorisme di Klaten, Jawa Tengah. Rangkaian perampokan dan pembunuhan tersebut disimpan dan digunakan sebagai dana pelatihan calon anggota baru, tempat yang dipilih adalah Poso.Meski begitu, polisi meyakini Santoso bukan putra daerah melainkan pendatang di Poso. Sebelum terlihat dalam organisasi teror, dia pernah tertangkap karena mencuri sepeda motor, namun dibebaskan setelah menjalani hukuman. Walaupun sudah membaiat diri dengan menyatakan bergabung dengan kelompok Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS), namun pengaruhnya masih jauh di bawah Abu Jandal serta Bahrun Naim, otak pemboman di Jalan MH Thamrin, Jakarta.
Advertisement
Sedangkan Abu Sayyaf adalah nama kelompok yang juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyya. Abu Sayyaf kelompok separatis yang terdiri dari milisi Islam yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.Angkatan Bersenjata Filipina menyebut bila kelompok Abu Sayyaf ini dipimpin oleh Khadaffi Janjalani. Kelompok ini dituding bertanggung jawab terhadap aksi-aksi pengeboman, pembunuhan, penculikan, dan pemerasan dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu.Beberapa anggota kelompok Abu Sayyaf pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan.Kelompok ini menyandera kapal Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.Kementerian Luar Negeri Indonesia membenarkan adanya 10 Warga Negara Indonesia (WNI) disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Hal ini diungkapkan langsung oleh juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir. Pria akrab disapa Tata ini mengatakan dua kapal berbendera Indonesia dan 10 awak kapal disandera."Pada hari Senin, 28 Maret 2016, Kemlu menerima informasi awal dari sejumlah pihak mengenai adanya 2 kapal berbendera Indonesia yang dibajak dan 10 WNI awak kapal yang disandera di perairan Filipina. Benar bahwa telah terjadi pembajakan terhadap kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia," kata Tata kepada merdeka.com melalui pesan singkat, Selasa (29/3).
Advertisement
Tata menyebutkan dua kapal Indonesia itu membawa 7.000 ton batu bara. Saat dibajak, kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan menuju Batangas Filipina Selatan. "Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan pada tanggal 26 Maret 2016, pada saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf," lanjutnya.Meski demikian, Kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan saat ini sudah di tangan otoritas Filipina. Sementara itu, kapal Anand 12 dan 10 orang awak kapal masih berada di tangan pembajak, namun belum diketahui persis posisinya.Pihak perusahaan kapal sudah ditelepon pihak Abu Sayyaf dan mereka minta uang tebusan 50 juta peso (sekitar Rp 14,3 miliar)."Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan pada tanggal 26 Maret 2016, pada saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf. Dalam komunikasi melalui telepon kepada perusahaan pemilik kapal, pembajak/penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan," kata Tata.
Advertisement
Sementara itu, Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri, Irjen Pol Ketut Untung Yoga mengatakan semua pihak termasuk TNI terlibat langsung dalam proses pencarian 10 WNI yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf itu. Saat ini, Polri dan TNI fokus mencari lokasi penyanderaan."Perwakilan TNI juga ada di situ. Kita sama-sama mencari tahu tentang di mana wilayahnya dan di mana kapalnya," kata Untung.
Menurut Untung, dalam pencarian ini baik pemerintah atau pihak kepolisian bakal mengandalkan kekuatan TNI. Mengingat, dugaan sementara kapal sudah berada di luar wilayah Indonesia."Iya kalau sudah masuk wilayah perbatasan itu kan pasti menggunakan kekuatan-kekuatan TNI yang ada. Tapi kita tetap koordinasi," ujar dia.Untung bahkan tak membantah saat disinggung pencarian bakal melibatkan satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Dia menilai, Kopassus memiliki kemampuan untuk melakukan pencarian tersebut.