Puluhan pegiat lingkungan Forum Satu Bumi, memperingati hari air sedunia yang jatuh pada Selasa 22 Maret 2016. Mereka mengingatkan 12 areal tambang batu bara di Samarinda, telah mencemari Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Karang Mumus (SKM) yang mengalir dan bermuara di Sungai Mahakam.Pegiat lingkungan, menelusuri DAS SKM dimulai dari Bendung Benanga sekitar pukul 10.00 WITA. Penelusuran mereka menggunakan perahu karet sepanjang SKM berakhir di kawasan Jalan Dr Soetomo, Gang Nibung sekitar pukul 13.00 WITA. Perjalanan mereka memakan waktu lama lantaran menemukan banyak enceng gondok dan gulma, di sepanjang SKM yang berwarna hitam pekat."Air sebagai sumber penghidupan kita kan ada di SKM dan Sungai Mahakam," kata Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur, Merah Johansyah, kepada merdeka.com, Selasa (22/3).Merah mengatakan, pemerintah semestinya tidak hanya mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampai ke sungai, menjaga sanitasi dan mengeruk pendangkalan sungai, namun juga bicara pencemaran sungai yang dimulai dari hulu DAS Karang Mumus."Hulu DAS di hulu Waduk Benanga, ada 12 areal perusahaan tambang batu bara. Itu berkontribusi pada pencemaran dan pendangkalan SKM," ujar Merah."Kami meminta Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, dan juga Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, mengevaluasi 12 izin tambang itu, untuk mengurangi beban sedimentasi sungai," tambahnya.Pegiat lingkungan Forum Satu Bumi yang menelusuri DAS SKM, juga melibatkan mahasiswa pencinta alam. Mereka juga memasang spanduk 'Save Water, Stop Mining' pada mesin keruk Water Master milik Pemkot Samarinda, yang dibeli dengan APBD Samarinda senilai Rp14 miliar, namun minim manfaat.Catatan merdeka.com, Water Master itu sendiri mangkrak di bantaran SKM di Gang Nibung sejak Desember 2015 lalu sampai dengan hari ini. Hal itu lantaran defisit keuangan Pemkot untuk dana operasionalnya."Water Master adalah simbol kegagalan pemerintah mengurus air untuk penghidupan, dan mengurus banjir. Jangan cuma soal relokasi warga bantaran sungai, tapi di hulu sungai, ada aktivitas 2 areal tambang," pungkas Merah. Selain orasi, para pegiat lingkungan, juga memasang banner raksasa bertuliskan 'Tambang Racuni Karang Mumus'. Mereka akhirnya membubarkan diri dengan tertib.
Hari air sedunia, ada 12 tambang cemari sungai di Samarinda
Pegiat lingkungan Forum Satu Bumi yang menelusuri DAS SKM, juga melibatkan mahasiswa pencinta alam.
Rekomendasi