Pembelaan pengacara, Baasyir tak terlibat teror di Jakarta

Menurut pengacara, Baasyir tengah fokus untuk menghadapi sidang PK 26 Januari mendatang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pembelaan pengacara, Baasyir tak terlibat teror di Jakarta
Abu Bakar Baasyir. ©REUTERS/Darren Whiteside

Suasana Ibu Kota Jakarta, Kamis (14/1) lalu mencekam. Warga dikejutkan dengan ledakan yang terjadi di depan Starbucks Coffee, Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Tak berselang lama, ledakan kedua kembali terjadi di Pos Polisi di tempat yang sama.

Aparat kepolisian pun tak tinggal diam. Mereka dengan sigap mengintai para pelaku. Baku tembak senjata antara polisi dan para pelaku terjadi. Tidak hanya kepada polisi, peneror tersebut membabi buta menembak warga sipil yang tengah berada di lokasi.Akibat teror bom tersebut 8 orang tewas, termasuk 4 di antaranya terduga pelaku. Dan 26 orang lainnya mengalami luka-luka. Pihak kepolisian menduga pelaku teror bom Sarinah adalah jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). "Betul (pelaku teror bom jaringan ISIS)," kata Wakapolri Komjen Budi Gunawan, di Jakarta, Kamis (14/1).Terkait dengan terorisme di Sarinah, Tim Pengacara Muslim (TPM) Abu Bakar Baasyir, seorang terpidana kasus terorisme, enggan kliennya dikait-kaitkan dengan peristiwa tersebut. Apalagi tanggal 26 Januari mendatang, Baasyir akan menghadapi sidang lanjutan peninjauan kembali (PK) atas kasus yang membelitnya tersebut."Seolah-olah ustaz (Abu Bakar Baasyir) terkait dengan bom di Sarinah Thamrin kemarin. Padahal dia tidak tahu menahu sama sekali dan tidak mengerti apa-apa," kata anggota TPM, Achmad Michdan, usai menjenguk Ustaz Abu Bakar Baasyir di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Senin (18/1).

Memang, Achmad mengaku dalam pertemuannya dengan Baasyir sempat menyinggung soal aksi teror di Jakarta, di samping membahas persiapan sidang peninjauan kembali (PK) akan digelar pada 26 Januari 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap. Dia menyatakan kliennya memilih konsentrasi menghadapi sidang PK lanjutan, terkait dengan kasus pelatihan militer di Pegunungan Janto, Aceh. Senada dengan Achmad, Ketua Dewan Pembina TPM, Mahendradtta, merasa aksi terorisme kerap muncul pada waktu tak berjauhan dengan kemunculan Ustaz Abu Bakar Baasyir. Jadi menurut dia, seolah-olah Baasyir dibikin selalu dalam kondisi terseret kejadian teror."Saya berkesimpulan, kemungkinan besar selama ini pelaku-pelaku terorisme benci sekali sama ustaz, atau dalang terorisme itu sebetulnya benci sama ustaz Abu Bakar Baasyir. Sebab setiap dia (Abu Bakar Baasyir) muncul, langsung dibikinkan kegiatan," kata Mahendradatta di Cilacap.Sejak awal, Mahendradatta sudah menduga, saban Baasyir melakukan upaya hukum kerap muncul aksi teror. Dia mencontohkan, ketika Baasyir mengajukan praperadilan pertama, terjadi insiden bom di Kedutaan Besar Australia. Sama halnya sewaktu Baasyir sidang di Kemayoran, terjadi ledakan bom di Hotel J.W. Marriot.Menurut Mahendradatta, Baasyir sama sekali tidak tahu soal aksi teror itu. Apalagi, lanjut dia, Baasyir kini berada di dalam penjara dengan tingkat pengamanan super maksimum. Hal itu membuatnya sulit berkomunikasi dengan bebas kepada dunia luar."Saya bersama anggota TPM yang lain menyaksikan sendiri, mengalami sendiri, bahkan melihat sendiri bahwa ustaz itu dalam keadaan terpidana. Artinya, beliau itu dan berada di dalam Super Maximum Security, yang tidak demikian mudah untuk bertemu orang, tidak demikian mudah untuk melakukan kegiatan apa-apa," tutup Mahendradatta.

Rekomendasi