Butuh waktu 40 menit dari Denpasar buat melacak kediaman dari warga Australia, Robert Endrew (70), di desa Selemadeg, Kabupaten Tabanan. Bule uzur itu kini berurusan dengan polisi karena diduga merupakan pengidap paedofilia.Seorang tetangga Robert, I Nengah Rotog (60), mengaku dia kerap melihat Robert membawa anak perempuan berbeda."Dia (Robert) tinggal di sini sudah 14 bulan yang lalu. Warga sini sering lihat dia bonceng anak-anak kecil, ya semua wanita," kata Rotog di Desa Selemadeg, Rabu (13/1).Sebagian warga setempat nyaris mengaku tak mengenal Robert. Hanya saja mereka bisa menunjukkan rumah Robert kerap mondar-mandir masuk desa."Kita tahunya bule berewok. Kalau nama kami tidak tahu. Soalnya mister itu juga ramah kalau lewat desa kami," kata Rotog.Robert di desa dengan nama lengkap Robert Andrew Fiddes Ellis. Rumahnya di Banjar Campuhan, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemdeg Timur, Tabanan letaknya agak jauh dari rumah warga. Rumah dengan luas empat are itu dikelilingi tembok setinggi empat meter memiliki dua pintu masuk. Masing-masing di sebelah selatan dan timur. Buat menuju ke rumah ini, kita harus menuju jalan desa melewati jalan batu kapur berlubang dan bergelombang.Rotog sukarela mengantar menuju lokasi. Dengan jalan berbelok-belok melintasi tegalan dipadati kayu, akhirnya sampai di sebelah barat pintu masuk rumah Robert.Di dalam rumah itu ada dua kamar berukuran 4x4 meter. Satu berisi tempat tidur dan televisi 14 inci. Satu kamar lagi berada di sebelah timur difungsikan sebagai dapur. Sementara kamar tengah dibiarkan terbuka berisi kulkas dan barang lainnya. Di halaman rumah terlihat tumbuh pohon tinggi. Ada juga kolam, tetapi sudah tidak ada airnya.Di dalam kolam itu juga ada ayunan anak-anak terbuat dari tali plastik dengan posisi diikat di atas pepohonan. Rumah itu dilengkapi dengan kamar mandi berisi pancuran letaknya terpisah di sebelah selatan. Terlihat hamparan rumput Jepang tampak kurang terurus.Dikatakan Rotog, tanah itu dibeli oleh Robert dari pemiliknya asal Seminyak, Kuta, bernama Pak Diana. Saat membangun rumahnya, Robert menggunakan buruh dari luar Bali.Pada awalnya, Robert biasa bergaul dengan warga, bahkan sering belanja di warung yang ada di sekitar banjar campuhan. Namun, setelah sebulan dia tinggal di sana, Robert berubah. Dia seakan tertutup dengan warga sekitar. Kecurigaan warga semakin menjadi saat melihat Robert dilihat sering membonceng anak-anak perempuan diajak ke dalam rumahnya."Kami sangat kecewa kalau benar rumah ini dijadikan tempat untuk mencabuli anak-anak yang berada di bawah umur," lanjut Rotog.Rotog mengatakan, Robert fasih berbahasa Indonesia dan bisa bahasa Bali sedikit demi sedikit. Menurut dia, warga setempat sempat melaporkan hal itu secara lisan ke polisi. Namun saat itu tidak ada tindaklanjutnya.
Tetangga curiga Robert kerap bonceng anak perempuan berbeda
Warga menyebut perangai Robert berubah setelah sebulan tinggal.
Rekomendasi