Beda dengan Keraton Ngayogyakarta, jumenengan Paku Alam adem ayem

Jumenengan Paku Alam X ini menjadi menarik lantaran di waktu yang bersama sedang terjadi gonjang-ganjing di keraton DIY.

Kresna
Oleh Kresna - Reporter
Beda dengan Keraton Ngayogyakarta, jumenengan Paku Alam adem ayem
Geladi bersih Jumenengan Paku Alam. ©2016 merdeka.com/kresna

Rakyat Yogyakarta tak lama lagi akan menyaksikan Jumenengan Paku Alam X. Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo akan dilantik menjadi Paku Alam X menggantikan ayahandanya, Raden Mas Haryo Ambarkusumo atau Paku Alam IX yang wafat pada 21 November 2015 lalu.Sejumlah acara pun sudah dipersiapkan untuk pelestarian ada kebudayaan Yogyakarta ini. Hajatan akbar tersebut pun dipersiapkan tidak seadanya. Penobatan ini disiapkan dengan seksama dan khidmat supaya tidak ada yang luput setiap detik prosesinya.Sejak Minggu 3 Januari lalu Pura Pakualaman sudah menggelar gladi bersih untuk kirab dan Jumenengan. Namun tidak sampai di situ, persiapan lainnya juga tetap dilakukan, seperti mempercantik Pura Pakualaman, latihan penari hingga pemain gamelan.Selasa 5 Januari sore, Pura Pakualaman tampak ramai. Tenda-tenda sudah mulai dipasang dan para penari pun berlatih di bangsal utama."Kami berlatih sudah hampir sebulan yang lalu," kata Anggun Herliani salah seorang penari Bedaya Angron Akung yang akan tampil di depan Paku Alam X pada 7 Januari mendatang.Anggun pun mengaku sangat antusias, sebab belum tentu seumur hidup sekali mendapat kesempatan untuk menari di acara Jumenengan Paku Alam X. "Grogi rasanya, tapi juga senang karena mendapat kesempatan ini," tambahnya.Sementara itu Nyimas Tumenggung Probonegoro pelatih tari menjelaskan tari Bedoyo Angron Akung bercerita tentang pencarian jati diri seseorang. Dalam tarian yang diciptakan Paku Alam II tersebut ada simbol kemakmuran dan kesuburan."Jumlah penari ada 7 perempuan, kalau dulu semuanya harus perawan kalau sekarang tidak seperti itu," ujarnya.

Selain tarian, kelompok gamelan juga melakukan persiapan juga. Sejak ditetapkan tanggal Jumenengan, mereka langsung berlatih."Kami latihan juga sudah lama. Tapi memang tidak ada persiapan khusus karena sudah rutin latihan," kata Sunaryo salah seorang pemain Gamelan.Selama tarian Bedoyo Angron Akung dilangsungkan, pemain Gamelan akan melantunkan Gending Ladrang Mangungkung sebagai pengiringnya. Selain itu prajurit Lombok Abang juga melakukan latihan di depan bangsal utama Pura Pakualaman. Lantunan genderang dan suling mengantarkan tiap langkah prajurit ke pelataran Pakualaman.Saat jumenengan berlangsung 7 Januari mendatang, pura Pakualaman akan disterilkan. Nanti pada waktu pelaksanaan, sejak pagi, wisatawan tidak akan bisa lagi memasuki Pura Pakualaman.KPH Indrokusumo, ketua panitia upacara tradisi Jumenengan menjelaskan kawasan Pura Pakualaman disterilkan dari wisatawan karena pentingnya acara penobatan KBPH Suryodilogo menjadi KGPAA Paku Alam X."Wisata di Pakualaman akan ditutup pada tanggal 7 Januari. Sejak pagi kami juga akan melakukan sterilisasi pengunjung," katanya pada wartawan, Senin (4/1).

Meski demikian, lanjutnya, para wisatawan bisa menyaksikan prosesi Jumenengan dari luar tembok Pakualaman. Selain itu mereka juga bisa menonton kirab ageng yang akan dilaksanakan usai Jumenengan."Tetap bisa menonton, nanti kan saat kirab Paku Alam X akan ikut di dalam rombongan kereta," terangnya.

Jumenengan Paku Alam X ini menjadi menarik lantaran di waktu yang bersama sedang terjadi gonjang-ganjing di keraton DIY. Sri Sultan HB X kini sedang berseteru dengan adik-adiknya gara-gara suksesi raja.Seperti diketahui Sultan HBX sudah menunjuk putri tertuanya sebagai putri mahkota yang akan menggantikannya memimpin DIY. Namun penunjukkan KGR pembanyun yang telah berubah gelar menjadi GKR Mangkubumi itu mendapat penolakan dari adik laki-laki Sri Sultan.Para adik laki-laki Sultan menyebut penunjukkan GKR Mangkubumi menyalahi paugeran keraton Ngayogyakarta. Selama ini tidak pernah ada raja perempuan atau ratu di kerajaan Mataram Islam itu.Jika dibandingkan, tentu jumenengan di Paku Alaman ini sangat adem ayem, berbanding terbalik dengan keraton Ngayogyakarta. Diketahui, KBPH Suryodilogo diangkat sebagai pelaksana harian Adipati Puro menggantikan tugas sementara mendiang ayahnya.

"Dari hasil rapat keluarga, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo diangkat sebagai pelaksana harian (Plh) Adipati Puro," kata kerabat Puro Pakualaman, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Kusumoparasto beberapa waktu lalu.Hasil rapat keluarga Puro Pakualaman yang digelar pada Sabtu (21/11) pukul 10.00 WIB sebelum Paku Alam IX wafat, diputuskan bahwa KBPH Prabu Suryodilogo akan menjadi pelaksana tugas. Rapat keluarga digelar lantaran Paku Alam IX sedang sakit."Karena beliau sakit lama maka keluarga menggelar rapat mengenai siapa yang sementara melaksanakan tugas-tugasnya," kata dia.Menurut Kusumoparasto, keluarga memutuskan menunjuk KGPH Prabu Suryodilogo karena dirinya telah ditetapkan sebagai Putra Mahkota sejak tiga tahun yang lalu. "Jadi sebagai putra mahkota, secara struktural posisinya memang di situ," kata dia.Dengan telah dilantiknya KBPH Prabu Suryodilogo membuat jumenengan ini adem ayem dan tidak ada konflik di internal Keraton Pakualaman.

Rekomendasi