Raja Keraton Ngayogyakarta, Sri sultan Hamengku Buwono X meminta para bawahannya, termasuk abdi dalem untuk loyal kepada dirinya. Hal ini tertuang dalam dawuh raja yang disampaikan di Bangsal Mangunturtangkil Keraton, Yogyakarta, Kamis (31/12).Titah sultan ini menjadi tanda tanya besar. Mengapa sultan meminta kesetiaan para bawahannya yang jelas-jelas mereka pasti tunduk kepada sang raja. Terlebih ancaman tegas sultan yang tak segan mengusir abdi dalem yang berkhianat keluar dari bumi Mataram.Sumber merdeka.com di lingkup keraton mengungkapkan ada tiga poin penting dawuh raja, yang disampaikan secara tertutup kemarin. Poin pertama merupakan penegasan sultan bahwa dawuh dari dirinya didapat dari Allah dan para leluhur."Bahasanya bagongan, intinya satu aku mendapat dawuh dari Gusti Allah, Aku manut dawuh Gusti Allah, manut Romo dan leluhur," kata sumber yang ikut dalam pembacaan dawuh raja.Kedua rayi dalem, sentono dalem dan abdi dalem harus ikut dengan dengan perintah raja, jika tidak akan diusir dari bumi Mataram.
Advertisement
"Yang tidak menurut akan diplocot dari kalenggahan dan harus keluar dari bumi Mataram," terangnya.Poin ketiga sultan menegaskan bahwa pewaris tahta kesultanan hanya akan diberikan kepada keturunan Sri Sultan HB X."Terakhir soal penerus itu hanya dari keturunan Sultan," jelasnya.Terkait poin terakhir ini, muncul persepsi bahwa sultan mempersiapkan putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi sebagai penerus takhta monarki.Jika hal ini benar, dawuh raja ini bisa jadi merupakan langkah lanjutan setelah sultan sebelumnya mengeluarkan sabda raja dan dawuh raja secara bersamaan pada Jumat (8/5/2015).Dalam sabda raja terdahulu, sultan mengubah gelar yang selama ini disematkan kepadanya. Alasan perubahan gelar tersebut lebih kepada penyesuaian kondisi terkini. Namun pergantian gelar sultan ini urung dilakukan setelah mencabut pengajuan pergantian nama yang sudah dilayangkan ke PN Yogyakarta.
Advertisement
Kemudian dalam dawuh raja saat itu, sultan menetapkan GKR pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Kala itu, sultan membantah pengangkatan putri sulungya tersebut sebagai putri mahkota. Pergantian ini diakui sultan sebagai sebuah perintah.Selain itu, dasar lain dari mandat sultan ini adalah karena sudah habisnya masa berlaku perjanjian pendirian Mataram, antara Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan. Dalam perjanjian tersebut Keraton Yogyakarta hanya akan sampai pada keturunan ke tujuh."Dasarnya perjanjian antara Ki Ageng Giring sudah selesai dan itu tidak bisa diubah," kata Sri Sultan, Jumat (8/5).Karena perjanjian tersebut telah berakhir, maka Mataram baru sudah waktunya diganti. Dia menjelaskan Mataram lama dihitung dari zaman Ken Arok Singosari sampai kerajaan Pajang, sementara Mataram baru dari Mataram yang sesuai dengan perjanjian antara Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan."Sekarang perjanjian itu sudah berakhir, maka ini akan dimulai lagi dari awal," terangnya.Meski demikian, dia tidak mengatakan berakhir perjanjian tersebut berarti Keraton Yogyakarta selesai sampai di sini. Baginya Keraton pada era ini harus mengikuti perubahan zaman."Soal apakah nanti GKR Mangkubumi menjadi penerus saya tidak bisa sampai situ, karena apa yang didawuhkan kepada saya dari leluhur hanya menetapkan GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi," tegasnya.
Advertisement
Tetapi, ucapan berbeda diungkapkan GKR Mangkubumi. Dia mengaku sudah disiapkan untuk menjadi penerus takhta kesultanan sejak masih berusia kecil."Spiritual, lahir batin saya sudah disiapkan sejak lama. Tapi perlu diingat bahwa Keraton itu milik Allah, raja juga begitu dan raja mendapatkan Wahyu. Apa yang diperintahkan kepada saya, berat ringannya harus saya pikul," ujarnya di waktu yang sama.Kala itu, adik-adik sultan menolak jika GKR Mangkubumi didaulat menjadi ratu Ngayogyakarta. Alasan mereka karena masalah gender.Pengamat Politik Keraton Yogyakarta, Bayu Dardias yang juga dosen jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada menilai, dawuh raja sebagai langkah sultan terkait suksesi raja Ngayogyakarta."Ini masih berhubungan dengan suksesi dan juga sabda raja dan sabda tama sebelumnya. Saya melihat ini menjaga kesolidan dan konsolidasi," katanya saat dihubungi, Kamis (31/12).Sementara itu, Pengageng Kabupaten Puralaya Imogiri dan Kotagede, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hastono Ningrat membantah dawuh raja berkaitan dengan konflik internal keraton yang sedang terjadi, karena sabda raja sebelumnya."Enggak ada soal itu. Bukan soal tahta. Ini tadi hanya ditujukan untuk abdi dalem," tegasnya, Kamis (31/12).