Pilkada serentak yang digelar kemarin seperti prediksi banyak pengamat selama ini. Sepi peminat dan tidak ada gairah. Banyak daerah yang menang justru golongan putih (Golput). Partisipasi warga rendah dalam pilkada serentak pertama ini.Meski demikian ada juga warga yang sadar politik dan harus berjuang untuk bisa mencoblos dalam Pilkada kemarin. Rintangan alam yang menjadi kendala mereka taklukan demi perubahan yang lebih baik lima tahun ke depan.Kisah-kisah warga dan penyelenggara pemilu untuk memenuhi hak mereka banyak terjadi di daerah. Demi memilih atau bahkan memenuhi logistik pilkada, nyawa jadi taruhannya. Berikut beberapa cerita susah paya Pilkada serentak yang terjadi kemarin:
Advertisement
6 Hari petugas tak kunjung sampai berikan logistik di Keerom
Panwas Keerom menyatakan akan memberikan rekomendasi penundaan pencoblosan di Towee Atas karena faktor alam."Kami akan memberikan rekomendasi ke KPU Keerom sehingga dapat menunda pelaksanaan pencoblosan dengan alasan kondisi alam," kata anggota Panwas Keerom Natalia Yonggiom di Arso, Rabu (9/12).Dia mengatakan, rekomendasi ke KPU perlu dilakukan karena hingga saat ini anggota PPS yang didampingi anggota linmas dan polisi belum tiba di Towee Atas.Padahal, dari laporan KPU Keerom terungkap, rombongan sudah berangkat sejak 3 Desember lalu di Towee Hitam dengan menggunakan pesawat dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar dua hari dengan menyeberangi sungai musiman.Namun akibat hujan deras menyebabkan rombongan yang berjumlah tujuh orang masih tertahan di Towee Hitam, kata Natalia.Sementara itu Ketua KPU Keerom Bonasafeus Bau mengakui, daftar pemilih tetap (DPT) di kampung Towee Atas hanya sekitar 100 orang dan saat ini rombongan pembawa logistik masih tertahan di Towee Hitam."Mereka harus berjalan kaki sekitar 15 jam perjalanan dan harus menyeberangi sungai yang berair deras akibat hujan turun," jelas Bau seraya menambahkan, dengan adanya rekomendasi dari Panwas Keerom diharapkan masyarakat dapat tetap menyalurkan aspirasinya.Pilkada di Kabupaten Keerom diikuti empat pasangan calon bupati dan wakil bupati masing masing Celsius Watae - Muh Markum, pasangan Yusuf Wally - Sarminanto, Jansen Monim-Ignatius Hasyim dan Benny Suweni - Nursalim.Jumlah pemilih di Keerom mencapai 48 ribu dan akan mencoblos di 123 TPS.
Advertisement
Seberangi sungai 50 meter untuk nyoblos
Jika sebagian warga cukup jalan kaki beberapa meter untuk mencoblos, tidak demikian dengan warga Dusun Jomblang Desa Sidareja Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah ini. Warga Dusun Jomblang ini sejak pagi sudah berdatangan menuju tempat pemungutan suara di dusun tetangganya, Mlayang. Sepintas mungkin tidak terlalu istimewa, namun mereka harus rela menempuh jarak beberapa kilometer dan menyeberangi Sungai Gintung yang arusnya deras.Seorang warga Dusun Jomblang, Riyati mengatakan untuk mencapai TPS 8 Dusun Mlayang, warga harus berjalan kaki dan melewati sungai kecil sebelum menyeberangi Sungai Gintung. "Lumayan jauh, karena tadi dari rumah jalan kaki dan juga harus lewat kali kecil. Terakhir, harus melewati sungai diantar pakai perahu," katanya saat hendak menuju TPS, Rabu (9/12).Bukan tanpa alasan Ruyati menyeberangi Sungai Gintung yang sedang banjir di pagi itu. Ia mengaku, alternatif tersebut dipilihnya karena kalau memutar akan menempuh jarak sekitar 30 kilometer lebih. "Kalau muter lewat Rembang kemudian Bobotsari baru ke TPS. Itu jauh sekali," katanya.Ruyati adalah satu dari 121 pemilih yang terdaftar dari Dusun Jomblang untuk menyalurkan hak politiknya di TPS 8 Mlayang. Sementara itu, Miswati mengaku selama ini warga kerap susah menyalurkan aspirasi politiknya karena kesulitan medan menuju lokasi TPS. "Setiap hari, kami selalu menyeberang sungai," jelasnya.Sementara itu, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0702 Purbalingga Letnan Kolonel Kavaleri Dedi Safrudin mengatakan saat ini pihaknya membantu warga Jomblang yang hendak memilih di TPS 8 Mlayang. "Selain fungsi pengamanan, kami juga melayani warga agar bisa memilih. Dengan menyeberangkan warga menggunakan perahu karet ini, kami harap bisa membantu warga," ujarnya.Diakuinya, saat ini arus Sungai Gintung cukup deras karena hujan. Saat ini, ia mengatakan ketinggian air sungai cukup tinggi hingga mencapai sedada orang dewasa. "Karena itu, kami sediakan perahu karet untuk membantu warga," ucapnya.
Advertisement
Warga Baleendah terjang banjir demi hidup yang lebih baik
Meski dilanda banjir setinggi 60 centimeter, warga Kampung Cieunteung, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, tetap menggunakan hak suaranya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bandung. Warga sekitar tetap mendatangi TPS 61 dan 62 walaupun harus menerjang air.Salah seorang warga Cieunteung, Agus (37), mendatangi TPS 61 dari rumahnya menggunakan perahu. Dia pun berharap suaranya bisa mengubah masa depan Kampung Cieunteung yang menjadi langganan banjir di saat musim hujan."Saya harap bupati terpilih kali ini bisa mengatasi permasalahan di Sungai Citarum sehingga Cieunteung tidak banjir lagi. Warga sudah bosan, jenuh, dengan banjir yang datang tiap tahun," kata Agus di TPS 61.Sementara warga lainnya, Rahmat (39) mengaku rumahnya tengah terendam banjir dengan ketinggian air sepinggang orang dewasa. Meski hanya berjarak 100 meter, dia pun harus berjuang menuju TPS."Perahunya sudah penuh, saya turun saja langsung jalan kaki. Keluarga menyusul akan mencoblos agak siang, mengurus banjir di rumah dulu," ucap Rahmat.Menjelang siang hari, warga Cieunteung yang menuju TPS semakin banyak dan berbondong-bondong. Mereka pun menggunakan perahu dan berjalan langsung menerjang banjir.