Aksi terorisme telah menjadi persoalan serius dunia internasional. Setiap aksi teror akan diikuti aksi balasan yang dipastikan tidak akan ada muara berhentinya. Seolah tidak pernah akan ditemukan sebuah perdamaian.Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi melihat, perlunya sebuah kajian yang menguraikan secara komprehensif tentang kenapa terorisme bisa terjadi. Uraian itu selama ini dianggap tidak menyeluruh dilakukan oleh dunia internasional."Sehingga yang terjadi sekarang ini seperti ayam dan telur. Dari Barat merasa diteror, dari Timur Tengah merasa diserang dulu, bisanya membalas ya dengan teror itu," kata Hasyim Muzadi di Universitas Maulana Malik Ibrahim di Malang, Minggu (15/11).Maka yang diperlukan, kata Hasyim, adalah mindset penataan keagamaan dan kenegaraan, serta sistem penataan kepentingan. Sehingga memang diperlukan dialog tentang akar dari masalah terorisme."Supaya (teror) tidak terus berlanjut, ini pasti akan terus berlanjut. Nanti Prancis akan menyerang, karena merasa diserang. Nanti akan ada teror lagi kan. Karena merasa diserang, akan balik menyerang lagi. Begitu seterusnya dan hampir di semua tempat," katanya.Kata Hasyim, belum ada dialog internasional secara menyeluruh yang menguraikan sebab semuanya bisa terjadi. Uraian tersebut kemudian dicari penyebabnya dan dianalisa secara menyeluruh.Selama ini yang terjadi saling bereaksi karena merasa diteror. Satu pihak bereaksi, sehingga menjadi teror bagi pihak lain. Karena negaranya diserang, akan muncul balasan. Kenapa negaranya diserang, karena merasa mendapatkan teror."Ini diperlukan dialog internasional yang proporsional, sehingga tidak selalu setiap kejadian teror sebagai sebuah reaksi, tetapi kita harus melihat akar dari masalahnya," ungkapnya.Sebelumnya, serangan teror terjadi beruntun di tujuh lokasi terpisah di kawasan timur kota Paris. Akibat teror tersebut 120 orang dinyatakan tewas, dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Delapan pelaku juga dinyatakan tewas dalam kejadian tersebut, dan tujuh meledakkan diri sebelum kemudian ditangkap polisi.ISIS melalui keterangan tertulisnya yang disebarkan ke media massa Prancis, Sabtu (14/11) mengaku bertanggung jawab. Militan khilafah menyatakan Prancis sejak beberapa bulan ini sudah menjadi target utama operasi. Serangan itu, menurut mereka sebagai balasan atas kebijakan Prancis mengirim jet tempur yang menghancurkan markas ISIS di Suriah.
Hasyim Muzadi: Butuh dialog, urai akar terorisme secara komprehensif
"Yang terjadi sekarang ini seperti ayam dan telur. Dari Barat merasa diteror, dari Timur Tengah merasa diserang dulu."
Advertisement
Rekomendasi