Derita dokter-dokter yang dikirim ke pedalaman

Faktor kesehatan dan kesejahteraan menjadi salah satu pertimbangan berat dokter-dokter muda ketika dikirim ke pedalaman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Derita dokter-dokter yang dikirim ke pedalaman
Ilustrasi Periksa ke Dokter. ©2015 Merdeka.com

Dokter Dionisius Giri Samudra meninggal dunia saat internship atau magang di Puskesmas Dobo, Kota Tual, Maluku Tenggara. Dia meninggal setelah didiagnosis mengalami infeksi campak dan radang selaput otak.Dokter RSUD Cendrawasih dr Martin, yang menangani Andra, sapaan Dionisius mengatakan, Andra mengalami demam tinggi sejak pulang dari Jakarta. Sekitar dua pekan lalu, Andra bersama dua temannya meminta izin untuk pulang.Saat itu suhu badan Andra mencapai 40 derajat celsius. Kecurigaan awal dokter, Andra mengalami infeksi campak. Kemudian diberikan penanganan biasa dari diberi obat penurun panas.Tapi suhu badan Andra tak juga turun. Malah kesadaran Andra semakin kacau. Bahkan kondisi suhu badannya sempat sampai 42 derajat celsius, fungsi ginjal menurun, lever terganggu, paru-parunya menjadi tak stabil.Usaha terus dilakukan, sampai akhirnya Andra tak dapat tertolong dan mengembuskan napas terakhir Rabu malam pukul 18.18 WIT.Cerita pilu dokter yang dikirim ke pedalaman bukan kali ini saja terjadi. Seperti dikutip dari akun Facebook Bambang Budiono, seorang dokter di Rumah Sakit Awal Bros Makassar menceritakan bahwa kejadian ini merupakan kali kedua tahun ini.

Sebelumnya, dokter muda Dhanny Elya Tangke yang mengabdi untuk program pegawai tidak tetap Kementerian Kesehatan di Distrik Oksibil dan Waime, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, meninggal dunia di Rumah Sakit Abepura, Jayapura, Papua, Rabu (13/5).Almarhum meninggal dalam tugasnya pada usia 26 tahun akibat serangan malaria.Selain faktor kesehatan, yang menjadi halangan dokter di daerah pedalaman adalah tidak ada kejelasan terkait kesejahteraan."Padahal kalau semua sakit butuhnya dokter. Kami dikirim ke pedalaman tetapi tidak jelas hidup penghasilan kami," kata salah satu dokter muda.Bisa jadi karena faktor ini, lowongan menjadi dokter pemerintah di daerah terpencil dan pedalaman sepi peminat. Hal ini pernah terjadi di tahun 2014."Kita butuh 3.000 dokter untuk di kecamatan terpencil, pulau terluar dan tidak diminati tanpa tes. Ini tidak laku. Sudah satu tahun pengumumannya di website Kementerian PAN-RB," ucap Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sewaktu dijabat Azwar Abubakar.


Kala itu, baru sekitar 500 dokter yang menerima tawaran pemerintah tersebut.Kondisi di tahun 2015 juga tak jauh beda. Setidaknya 600 tenaga kesehatan dikirim untuk 120 Puskesmas yang disebar di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan di 48 kabupaten.Para tenaga kesehatan ini tergabung dalam Tim Nusantara Sehat Angkatan I dan sudah dilepas oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) Mei kemarin.Peserta program adalah para tenaga profesional kesehatan dengan latar belakang medis seperti dokter umum, perawat, bidan, ahli gizi, ahli kesehatan lingkungan, analis kesehatan, tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan masyarakat.

Rekomendasi