Hikayat ibu memasak batu zaman Khalifah Umar terulang di Cianjur

Andun dan Iyah juga diharapkan terbebas dari himpitan ekonomi.

Aryo Putranto Saptohutomo
Hikayat ibu memasak batu zaman Khalifah Umar terulang di Cianjur
Kapolres Cianjur. ©2015 Merdeka.com

Di masa kepemimpinan sahabat Nabi Muhammad S.A.W, sekaligus Khalifah, Umar bin Khaththab R.A., terselip kisah pilu. Cerita tentang seorang warganya yang hidup dalam keadaan sulit.Kisah seorang ibu merebus batu buat menenangkan anaknya dari kelaparan. Ternyata cerita itu terulang di masa kini. Tepatnya di sebuah desa kecil di Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.Adalah pasangan suami istri Andun Suherman (45) dan Iyah (33), yang hidup dalam himpitan ekonomi. Mereka sengaja merebus batu karena anak-anaknya yang tinggal di gubuk reyot merintih tak sanggup menahan lapar.Iyah lantas berpikir keras buat memenuhi keinginan anaknya. Dia lantas mengambil sebuah batu dan merebusnya. Lalu dia mengatakan kepada anaknya sedang memasak telur. Anaknya pun senang. Namun saat menunggu, mereka akhirnya terlelap dan lupa dengan rasa lapar.Kabar menyedihkan itu disampaikan kepada Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu. Asep lantas penasaran dan mencari tahu soal kehidupan Andun dan Iyah, serta anak-anak mereka. Dia lantas menggagas pembangunan rumah Andun supaya lebih layak ditinggali."Jadi awal mulanya empat bulan lalu, ada teman saya yang menceritakan hal tersebut ke saya. Katanya ibunya sampai rebus batu sampai anaknya tidur, teman saya juga bilang gubuknya sudah reyot, kaya mau rubuh," kata Asep Guntur saat berbincang dengan merdeka.com, kemarin.Kemudian terlintas di benak Asep ide merenovasi rumah milik Andun. Dia lantas bergerak dan melobi beberapa pihak ikut membantu kondisi pasutri sudah dikaruniai tujuh anak itu."Di situ ada semacam dana untuk urunan dari enam orang. Kita di situ ada kepala BPN Cianjur, Perumnas, saya sendiri, dan sisanya donatur," ujar Asep.Sekitar sebulan mengurus izin dan lainnya, lahan milik warga setempat bernama Kilin akhirnya dihibahkan. Namun dengan imbalan tanahnya mau diterbitkan sertifikat oleh Asep.

Pembangunan rumah Andun berlangsung sekitar 35 hari, dari rencana semula 40 hari. Setelah selesai, betapa bahagianya keluarga Andun dan Iyah yang mendapatkan bantuan cuma-cuma."Mereka tentu bahagia karena sekarang lebih layak tinggalnya," lanjut Asep.Asep mengatakan, niat memberi kebaikan pada sesama bukan ingin cari muka. "Enggak ada media yang tahu, bahkan media ada yang baru tahu setelah beberapa hari penyerahan kan," ucap Asep.Asep berharap rumah Andun yang berdiri di atas lahan 72 meter persegi bisa membawa kebaikan buat keluarganya."Semoga hidup keluarga mereka bisa lebih layak. Karena kalau lihat rumah sebelumnya sudah sangat mengkhawatirkan," tutup Asep.Asep juga berpikir bagaimana Andun dan Iyah bisa menghidupi tujuh anak mereka. Apalagi hanya bekerja serabutan."Yang perlu dipikirkan itu ya ke depannya bagaimana. Mungkin pembaca dari merdeka.com bisa ada yang membantu," kata Asep Guntur saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (3/11).Andun dan Iyah kini tinggal di Kampung Bolenglang RT 01/10 Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur. Rumahnya sudah jauh berbeda, dan kini lebih layak dihuni bersama tujuh anaknya.Pada masa Umar menjadi Khalifah, daerah kekuasaan Islam memang bertambah luas. Kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkan dalam kurun waktu setahun (636-637 M). Dia juga dijuluki Amirul Mukminin (Pemimpin orang mukmin). Umar memang dikenal sosok sederhana dan peduli dengan rakyatnya ini.Kendati demikian, pada suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadi masa sulit. Masa itu dikenal dengan Tahun Abu. Masyarakat Arab sangat menderita karena dalam paceklik. Hujan tak pernah turun, tumbuhan kering, hewan-hewan mati.Melihat kondisi itu, Umar sigap mengurus rakyatnya. Saban hari dia meminta anak buahnya menyembelih unta, dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat supaya datang mengambil daging itu. Berbondong-bondong rakyat datang makan. Dia pun tak bermewah-mewah saat makan. Dia cuma menyantap sepotong roti dibarengi minyak zaitun.

Hampir saban malam Umar melakukan perjalanan diam-diam. Mirip dengan blusukan di masa kini. Ditemani seorang sahabatnya, Aslam, dia keluar masuk kampung. Hal ini dia lakukan buat mengetahui kondisi rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka belum dipenuhi oleh anak buahnya.Suatu malam, Umar dan Aslam berkunjung ke sebuah kampung terpencil berada di tengah gurun sepi. Tiba-tiba beliau terkejut. Dari sebuah tenda yang rusak, terdengar suara gadis kecil menangis.Umar dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, buat memeriksa bila penghuninya membutuhkan bantuan. Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah meletakkan panci di atas tungku. Asap mengepul dari panci itu, sementara si ibu terus mengaduk-aduk isi panci dengan sendok kayu panjang.Umar lantas menyapa dengan memberi salam. Mendengar salam Khalifah, ibu itu mendongakkan kepalanya seraya menjawab salam Umar. Namun setelah itu, dia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci."Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?" tanya Umar.Dengan sedikit tak acuh, ibu itu menjawab, "Anakku.""Apakah ia sakit?" selidik Umar."Tidak," jawab si ibu lagi. "Dia kelaparan."Umar dan Aslam tertegun. Mereka tetap berada di depan kemah itu sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi panci di atas api.Umar bingung dengan apa yang sedang dimasak oleh ibu itu. Kenapa matangnya lama sekali. Lantas Umar bertanya, "Apa yang sedang kau masak, hai ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?"


Ibu itu menoleh dan menjawab, "Kau lihatlah sendiri."Umar dan Aslam lantas melongok ke dalam panci tersebut. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat apa yang dimasak ibu itu di dalam panci. "Apakah kau memasak batu?" tanya Umar.Si ibu itu cuma bisa mengangguk. "Buat apa?," tambah Umar.Ibu itu lantas menjawab, "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khaththab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Aku seorang janda. Sejak pagi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi dia kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan."Ibu lantas terdiam sejenak. Kemudian dia melanjutkan pembicaraan, "Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khaththab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya."Mendengar perkataan ibu itu, Aslam merasa tersinggung dan berniat menegur perempuan itu. Namun Umar buru-buru mencegahnya. Dengan air mata berlinang, Umar berdiri dan mengajak Aslam lekas pulang ke Madinah. Sampai di Madinah, Umar lantas mencari sekarung gandum dan mengambilnya. Dia lantas membawa karung isi gandum itu di punggungnya, dan kembali menuju tenda perempuan itu. Gandum itu hendak diberikan kepada janda tua itu.Di tengah perjalanan, Umar terlihat keletihan. Aslam lantas meminta kalau Umar bersedia memberikan karung itu buat dibawa olehnya. Namun, Umar murka dan mengatakan, "Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?"Mendengar hal itu, Aslam langsung tertunduk. Umar lantas terus membawa gandum itu, hingga sampai di tangan sang janda.

Rekomendasi