Petani bawang merah di Desa Lam Manyang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar mengeluhkan harga jual komoditas anjlok. Bahkan, mereka mengaku kerap merugi akibat saat panen sulit mendapat wilayah yang mampu menyerap bawang merah itu.Seorang petani, Sisgunawan (26), mengaku modal tidak menjadi masalah baginya. Akan tetapi, pasca panen dan saat memasarkan bawang justru menjadi kendala besar.
Bahkan, Sisgunawan menyatakan hasil panennya bisa membusuk, karena pemasaran yang terbatas. Kondisi itu membuat petani bawang merugi. Sebab bawang merah tidak bisa tahan lama."Modal enggak jadi masalah bagi kami, pemasaran yang perlu pemerintah bantu, sehingga kami tidak rugi," kata Sisgunawan di sela-sela panen bawang merah, Jumat (30/10).
Selama ini, kata Sisgunawan, pemasaran hanya dilakukan di tingkat lokal, yakni di daerah Banda Aceh. Bila pemerintah membuka pemasaran hingga keluar Aceh maupun luar negeri, lanjut dia, hal itu bisa merangsang petani menggenjot produksi bawang merah.Sisgunawan mengaku, bawang merah miliknya sedang dipanen di lahan seluas 5000 meter, dan di sisa lahannya masih belum panen. Panen bawang merah setiap satu hektare menghasilkan 12 ton.
Advertisement
"Harganya antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Ini sangat tergantung harga di pasar, bisa saja lebih murah," ucap Sisgunawan.Selama ini, Sisgunawan mengaku tidak menggunakan pupuk kimia. Dia lebih memilih memakai pupuk kandang atau pupuk kompos."Pupuk kompos kami gunakan, pupuk kandang," imbuh Sisgunawan.