Muhammad Husen Saputra putra ketiga dari pasangan Hendra (33) dan Mursidah (34), meninggal dunia karena mengalami sesak napas yang hebat atau diserang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Husen dikebumikan pada Rabu (7/10).Mursidah mengatakan anaknya mulai mengalami sesak napas pada Senin (5/10) malam. Karena situasi di luar dipenuhi kabut asap, Mursidah dan suaminya menunda pergi berobat. Pagi keesokan harinya, Husen dibawa ke seorang bidan dekat rumahnya. Belum sempat dirawat, bayi itu langsung dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, Selasa (6/10) pagi.Saat diperiksa di unit gawat darurat, diketahui di dalam paru dan perut bayi malang itu sudah lembap, dipenuhi cairan karena banyak terpapar asap, dan didiagnosa mengidap ISPA."Kata dokter kondisi bayi saya waktu itu memang kritis, kena ISPA," kata Mursidah saat ditemui di rumahnya di Jalan Talang Banten, Lorong Banten I, Kelurahan 16 Ulu, Palembang, Kamis (8/10).Kemudian, lanjut dia, dokter meminta persetujuan kedua orangtua korban memasang selang untuk menyedot cairan tersebut. Namun, usaha itu gagal lantaran kondisi Husen makin kritis. "Kira-kira jam setengah delapan malam Rabu kemarin meninggal, masih di ruang gawat darurat," ujar Mursidah.Mursidah, ibu Husen, mengaku anaknya mulai mengalami sesak napas pada Senin (5/10) malam. Karena situasi di luar dipenuhi kabut asap, Mursidah dan suaminya menunda pergi berobat. Pagi keesokan harinya, Husen dibawa ke seorang bidan dekat rumahnya. Belum sempat dirawat, bayi itu langsung dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, Selasa (6/10) pagi.
Advertisement
Saat diperiksa di unit gawat darurat, diketahui di dalam paru dan perut bayi malang itu sudah lembap, dipenuhi cairan karena banyak terpapar asap, dan didiagnosa mengidap ISPA."Kata dokter kondisi bayi saya waktu itu memang kritis, kena ISPA," terang Mursidah.Kemudian, dokter meminta persetujuan kedua orangtua korban memasang selang untuk menyedot cairan tersebut. Namun, usaha itu gagal lantaran kondisi Husen makin kritis. "Kira-kira jam setengah delapan malam Rabu kemarin meninggal, masih di ruang gawat darurat," imbuh Mursidah.Mursidah membeberkan, saat dilahirkan melalui operasi caesar pada 11 September lalu, Husen memiliki bobot sekitar 2,5 kilogram. Berat badannya terus bertambah hingga menjadi 3,5 kg."Alhamdulillah, selama ini sehat-sehat saja. Mimik (nyusu ASI) lancar, tidak ada masalah," ujarnya.Pulang dari rumah sakit usai persalinan, Mursidah memilih tinggal di rumah saudaranya di Jalan Sentosa, Palembang, tak jauh dari tempat tinggalnya di Jalan Talang Banten, Lorong Banten I, Kelurahan 16 Ulu, Palembang.Hal itu lantaran rumah Mursidah sangat kecil, hanya berukuran 3x4 meter dan terbuat dari papan, sehingga akan sulit mengasuh Husen. Apalagi kamar mandi berada jauh dari rumahnya."Waktu di rumah saudara saya, saya jarang ajak anak saya itu (Husen) keluar rumah karena takut asap. Paling kalau udara agak bagus baru keluar," ucap Mursidah.Meski jasad bayi berusia 28 hari itu sudah dikuburkan, hingga saat ini belum satu pun pihak-pihak terkait yang mendatangi keluarganya, seperti dari Pemerintah Provinsi Sumsel dan Kota Palembang. Padahal, bayi Husen meninggal karena mengidap penyakit ISPA."Belum ada kalau dari pejabat, tadi cuma ada orang yang ngakunya kerja di Dinas Kesehatan, tidak tahu dari mana, kasih kartu nama sama nanya-nanya," ungkapnya.Menurutnya, dia tidak mengharapkan sama sekali bantuan pemerintah atas musibah yang dialaminya. Bagi dia, kematian anaknya tersebut sudah menjadi takdir."Tidak apa-apa, kami ikhlas. Cuma berharap tidak ada lagi yang bernasib sama seperti kami," pintanya.