Rekonstruksi perlawanan rakyat, Gandrung Sewu ajak belajar sejarah

"Kami bangga memiliki beragam seni dan budaya lokal, yang sangat khas," kata Bupati Banyuwangi.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Rekonstruksi perlawanan rakyat, Gandrung Sewu ajak belajar sejarah
Penari Gandrung Sewu‎. ©2015 merdeka.com/moch andriansyah

Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur kembali menggelar pertunjukan kolosal, Festival Gandrung Sewu, yang akan diikuti 1.200 penari di Pantai Boom, Sabtu sore (26/9). Tarian gandrung merupakan tarian khas Tanah Osing yang dinilai mampu memperkuat posisi wisata budaya setempat. Tari Gandrung Sewu‎ telah ditetapkan sebagai warisan budaya 'tak benda' oleh Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah. Tari gandrung akan kembali dipersembahkan untuk meramaikan rangkaian peringatan HUT Banyuwangi ke-244 pada 18 Desember 2015. Ribuan penari akan menari dengan latar pemandangan Selat Bali jelang matahari terbenam yang ciamik. Dan tahun ini, event Gandrung Sewu mengangkat tema: Podo Nonton, yang dalam Bahasa Indonesia artinya ayo saksikan beramai-ramai.Menurut Plt Kepala Dinas Pariwisata, M Y Bramuda mengatakan, tarian gandrung terdiri dari tiga segmen, yaitu Jejer Gandrung, Paju Gandrung dan sebagai penuturnya Sablang Subuh. ‎"Podo nonton, merupakan salah satu bagian dari pertunjukan Jejer Gandrung," kata Bramuda. Podo ‎Nonton, lanjut Bramuda, sejatinya merupakan tembang wajib yang menjadi musik pengiring pada pertunjukan Jejer Gandrung. Tema ini diangkat karena syairnya mengandung makna heroisme dan perjuangan sangat berat dari para pendahulu di Bumi Blambangan saat melawan Belanda. "Tema Podo Nonton akan dikisahkan dalam sebuah drama teaterikal yang sarat pesan," ucapnya.‎Dikatakannya lagi, dalam pertunjukan tari gandrung sendiri, sebenarnya ada banyak tembang yang dinyanyikan. Jadi bukan hanya Podo Nonton, tapi ada banyak. Seperti misalnya, Sekar Jenar, Layar Kumendung, Keok-Keok, dan Jaran Dawuk. "Dalam pertunjukan teaterikal nanti sore, ‎akan diadegankan oleh para penari dengan kondisi sekitar Tahun 1771, yang merupakan tahun kelahiran Banyuwangi. Saat itu, tanah-tanah di Banyuwangi sangat subur dan makmur. Namun tiba-tiba Belanda datang dan memporak-porandakan desa dan hasil tani rakyat. Nanti akan ada visual hasil tani dan perkebunan yang dirampas," cerita Bramuda mengisahkan. Bramuda masih bercerita, dalam kondisi tertindas, para petani bangkit melawan atas kesewenang-wenangan oleh Belanda, hingga akhirnya pecahlah perang awal antara penduduk pribumi dan bangsa kolonial.

"Di masa peperangan, muncul tokoh-tokoh yang menjadi motor penggerak perlawanan rakyat, seperti tokoh Rempeg Jogopati dan Sayuwiwit.""Podo Nonton sengaja diangkat untuk mengingatkan masyarakat akan perjuangan para pendahulu kita. Bagaimana dulu perjuangan penduduk Banyuwangi, yang awalnya hanya puluhan ribu. Karena perang, jumlahnya menjadi ribuan saja," sambungnya. Bramuda juga menyampaikan, pertunjukan Gandrung Sewe Podo Nonton ini, meyakinkan warga Banyuwangi, asal dengan niat dan perjuangan tulus, penderitaan awal akan melahirkan kesejahteraan yang kini dinikmati anak cucu. Sementara Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, event budaya yang digelar pihaknya tiap tahun ini, makin memperkuat posisi wisata budaya yang menjadi unggulan Bumi Blambangan, selain wisata alam. Beberapa tahun ini, kata Anas, Banyuwangi memang konsisten mengangkat seni dan budaya sebagai bagian dari pengembangan wisata lokal. Sebut saja, Festival Kebo-Keboan, Tari Seblang Oleh Sari, Festival Tumpeng Sewu, dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), dan banyak lagi."Kami bangga memiliki beragam seni dan budaya lokal, yang sangat khas. Kami pun ingin seni dan budaya ini dapat dikenal secara luas dan ikut memperkuat khasanah budaya di tingkat nasional dan internasional," harap Anas. Menurut Anas, Festival Gandrung Sewu, juga memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta persaingan pariwisata di Indonesia. "Pantai menjadi salah satu destinasi wisata alam di Banyuwangi. Dengan event Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom ini, berarti kami menjual event budaya sekaligus destinasi alam. Sewu Gandrung terbukti telah menjadi daya tarik pariwisata di Banyuwangi," pungkasnya.

Rekomendasi