Seorang sopir Kopaja Irwansyah (50) membantah penilaian warga Jakarta yang menyebut tindakan yang ugal-ugalan oleh Kopaja jadi penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas. Dia menegaskan, kecelakaan terjadi lantaran meningkatnya volume kendaraan di Jakarta."Kecelakaan di jalan itu akibat meningkatnya volume kendaraan. Sepeda motor semakin banyak. Kopaja itu agak susah bergerak, ke kiri nabrak, ke kanan banyak kendaraan. Saya juga pernah, bukan karena ugal-ugalan," tegas Irwansyah saat berbincang dengan merdeka.com di Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).Selain meningkatnya volume kendaraan, dia menilai kurangnya pengawasan pihak keamanan di setiap titik kemacetan. "Sehingga pengendara itu kadang enggak ngikut jalur. Ada yang menerobos jalur busway. Nah, itukan jadi penyebab kecelakaan. Motor, kopaja, menerobos ke jalur busway," ujarnya.Setiap hari, ungkap Irwansyah, sopir Kopaja tidak dituntut untuk menyetor dengan jumlah yang tinggi. Jumlah setoran tentunya bervariasi dan ditentukan dari pemilik Kopaja itu sendiri. "Kadang Rp 300 ribu sehari. Kalau paling dikit sih Rp 200 ribu. Bahkan kalau sepi itu Rp 50 ribu. Kita enggak maksain diri, namanya juga nyari rezeki kan enggak gampang," ungkap Irwansyah.Sebagai pengguna jalan, Irwansyah mengaku sangat berhati hati saat berkendara. Bukan saja mengancam jiwa diri sendiri, melainkan mengancam nyawa pengendara lain. Dia pun tak menampik adanya ulah beberapa sopir Kopaja lain."Yah, ada. Tapi enggak semua.""Pekerjaan itu semua beresiko. Bukan hanya Kopaja yang bisa kecelakaan. Pekerjaan apapun bisa tabrakan di jalan. Yang penting dari angkutan tingkatkan kewaspadaan. Hati-hati," tandasnya.
Ini pengakuan sopir Kopaja yang disebut sering ugal-ugalan
Tertabraknya driver GO-JEK menambah stigma ugal-ugalan terhadap Kopaja. Ini pengakuan mereka.
Advertisement
Rekomendasi