10 Jemaah haji asal Indonesia meninggal dunia dalam insiden jatuhnya crane di Masjidil Haram, Jumat (11/9) petang waktu setempat. Kesepuluh korban merupakan jemaah dari sejumlah kelompok penerbangan di Tanah Air.Keluarga mengikhlaskan kepergian kerabat serta sanak saudara yang meninggal dunia saat peristiwa tersebut berlangsung. Beberapa di antaranya bahkan sudah memiliki firasat.Seperti yang dialami keluarga Sriyana Marjo Sihono. Sriyana merupakan jemaah haji asal Rewulu Kulon, Sidokarto, Godean Sleman, yang meninggal dunia. Keluarga ikhlas jenazah korban dimakamkan di tanah Arab.
Korban sehari-hari adalah guru di STM Mrican. Sriyana berangkat haji dari kloter 27 embarkasi haji Solo, 30 Agustus 2015."Dia di masyarakat jadi pembimbing dan ustaz. Saat berangkat pamitan haji, dia pamitan sendiri langsung kepada masyarakat. Dia sudah lima tahun lalu mendaftar untuk naik haji," ujar kakak sepupu Sriyana, Muhammad Fauzan.Sebelum berangkat, Sriyana sempat berpesan kepada Fauzan untuk menjaga keluarganya selama dia di Makkah."Beliau berpesan hanya menitipkan keluarga. Suruh dijenguk, sering ditengokin gitu aja. Kami ikhlaskan untuk dimakamkan di sana," ucapnya.
Advertisement
Sementara itu di Malang Jawa Timur, keluarga Siti Rukayah korban meninggal dalam kecelakaan crane di Masjidil Haram Makkah, akhirnya percaya kalau korban sudah benar-benar berpulang setelah mendapat kepastian dari petugas Kementerian Agama Kabupaten Malang."Pertama sudah ada informasi dari Depag, selain itu juga ada SMS dari suaminya, Abdullah. Yang bersangkutan telah dinyatakan meninggal dunia," kata Saiful Chozi, salah satu kerabat di rumah almarhumah di Malang, Senin (14/9).Kakak almarhumah, Muhammad Zainuri menceritakan kalau Siti Rukayah ikut menjadi korban setelah mengambil air wudu. Cerita itu berdasarkan pembicaraan Abdullah dengan keponakannya, Ida."Almarhumah sebelumnya membangunkan Abdullah agar mengambil air wudu. Siti baru saja dari mengambil air wudu untuk salat magrib," katanya.Sambil menunggu suaminya yang mengambil air wudu, almarhumah mempersiapkan perlengkapan salat. Saat itu kemungkinan almarhum ikut menjadi korban, karena semua berlarian menyelamatkan diri.
"Kembali dari wudu, almarhum sudah tidak tidak di tempatnya. Setelah itu tidak ada informasi," katanya.Siti sehari-hari tinggal di Dusun Banjarsari RT 02 RW 03 Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Keberangkatan almarhum ke Tanah Suci sudah kali yang kedua. Saat masih belum menikah, tepatnya tahun 1984 berangkat bersama Zainuri.
Advertisement
Jemaah lainnya yang menjadi korban, Nurhayati Rasyad Usman (65) sempat berpesan kepada ketiga anaknya minta agar mengikhlaskannya, apabila dipanggil Allah di Tanah Suci."Pesan itu disampaikan ibu menjelang keberangkatan menunaikan ibadah haji pada kelompok terbang IV," kata anak sulung korban, Irwan Syahputra (35) di Lubuk Basung, Selasa (15/9).Pesan lain yang tidak bisa dilupakan saat-saat terakhir pertemuan itu adalah agar tetap akur dengan kedua adiknya dan selalu mendoakan.Nurhayati merupakan jemaah berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Korban berangkat menunaikan ibadah haji bersama 257 calon jemaah haji lainnya dari Kota Bukittinggi pada 24 Agustus 2015.Nurhayati mendaftar haji pada September 2009 melalui Kota Bukittinggi dengan ayah. Namun ayah telah meninggal empat tahun lalu akibat menderita penyakit.Nurhayati sudah pindah kartu keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari Kabupaten Agam ke Kota Bukittinggi, dengan cara masuk ke KK anak kakaknya beberapa tahun lalu.Sementara daerah asal korban berada di Jorong Banda Tangah, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Advertisement
Bahkan jemaah asal Malang Masadi Saiman bin Tarimin, sempat bermimpi bertemu Rasulullah sebelum peristiwa tragis merenggut nyawanya.Masadi merupakan warga Desa Simojayan RT 06 RW 04 Desa Simojayan, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang."Sebelum kejadian, mimpi bertemu kanjeng Nabi (Muhammad SAW). Pengakuan itu diberitahukan kepada ibu mertua dan teman-teman satu rombongan," kata Muhammad Munir, menantu almarhum di rumahnya, Selasa (15/9).Munir didampingi istrinya, Yunanti Sofa mengungkapkan, cerita bertemu nabi tersebut juga disampaikan kepada kepala desa dan istrinya yang juga dalam satu rombongan. Almarhum berulang-ulang cerita kalau bertemu Nabi Muhammad.
"Pak Kades dan istrinya juga naik haji. Pak Kades satu regu dengan beliau, istri Pak Kades selalu bersama istri Pak Masudi ini. Dia selalu bilang ketemu Kanjeng Nabi di sini," katanya.Istri Munir, sehari-hari menelepon ayah dan ibunya, pertama kali kontak saat sampai di sana. Almarhum minta dibelikan pulsa Rp 100 Ribu dan Rp 50 Ribu. Kontak terakhir, saat almarhum berjalan menuju masjid sekitar pukul 03.00, dia bercerita tentang kondisinya selama di Makkah.
Advertisement
"Beliau mengatakan kerasan, bisa menyesuaikan dengan keadaan di sana," kisahnya.Berikutnya, Sabtu mendapat kabar kalau ayahnya terpisah rombongan, bukan menjadi korban. Karena sempat ada yang melihat, posisinya jauh dari lokasi kejadian.Diduga cuma kesasar saja, tetapi lama ditunggu sampai 2 hari tidak ada kabar. Semua tambah waswas. Dilihat di siaran televisi juga tidak tercantum namanya, dalam daftar korban sakit juga tidak ditemukan.
"Senin pagi baru mendapat kabar kepastiannya, kalau cerita tentang bertemu Nabi disampaikan saat telepon sebelumnya," katanya.