Kesedihan keluarga saat istri & ibu jadi korban crane di Makkah

Fatalnya, saat peristiwa itu terjadi, sejumlah calon jamaah haji yang sudah tiba di Tanah Suci sedang melakukan tawaf.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Kesedihan keluarga saat istri & ibu jadi korban crane di Makkah
crane jatuh di masjidil haram. ©2015 REUTERS/Stringer

Kecelakaan proyek terjadi di Masjidil Haram pada Jumat kemarin. Crane dari proyek pelebaran masjid besar itu tumbang setelah cuaca di sekitar mendadak terjadi badai pasir disertai angin kencang dan hujan.Fatalnya, saat peristiwa itu terjadi, sejumlah calon jamaah haji yang sudah tiba di Tanah Suci sedang melakukan tawaf. Insiden pun tak terelakkan.Ratusan orang calon jemaah haji dari berbagai belahan dunia tertimpa patahan crane. Sampai kemarin data resmi dari petugas haji di sana seratusan orang lebih meninggal dunia dan dua ratusan lainnya luka-luka.Di antara ratusan korban itu, terdata jemaah asal Indonesia. 7 Jemaah haji dinyatakan tewas dan tiga puluhan luka-luka. Dari 7 tersebut, 4 di antaranya adalah Iti, Masnauli, Painem dan Saparini.Kabar duka itu jelas membuat keluarga di Tanah Air syok. Mereka tak menyangka kepergian anggota keluarga ke Tanah Suci adalah perpisahan selamanya.Berikut rangkuman kenangan para keluarga setelah istri dan ibunda mereka mengembuskan napas terakhir akibat insiden crane jatuh di Makkah:

Suami punya rencana umrah bareng Painem

Suami punya rencana umrah bareng Painem
crane jatuh di masjidil haram. ©2015 REUTERS/Stringer

Keluarga tampak berduka, mata mereka selalu berkaca-kaca. Namun semua ikhlas. Bahkan tak masalah jika jenazah keluarganya dimakamkan di Makkah saja."Kami dapat kabar dari pimpinan rombongannya tadi pagi. Kami ikhlas, dimakamkan di sana (Makkah) saja. Kami ikhlas," kata Muhammad Tayeb (65), suami Painem.Painem tinggal di Jalan Mangaan V Lingkungan XIII, Mabar, Medan.Sebagai suami tentu banyak kenangan yang tak bisa dilupkan Tayeb akan soson sang istri. Belum lagi janji mereka akan umrah bersama tahun depan."Rencananya tahun depan kami umrah sama-sama, tapi kita cuma bisa berencana karena Allah juga yang menentukan. Kita ikhlas saja," ucapnya lirih"Kami tidak bisa sama-sama berhaji tahun ini, karena saya ini cuma seorang penjaga malam di gudang. Saya bersyukur sudah lebih dulu berhaji. Tapi kami berencana umrah bersama-sama tahun depan," sambungnya.

Duka anak Saparini, syukuran acara wisuda tak didampingi ibunda

Duka anak Saparini, syukuran acara wisuda tak didampingi ibunda
Painem Dalio dan Saparini Baharuddin Abdullah. ©2015 merdeka.com/yan muhardiansyah

Rumah Saparini dan Painem masih dalam kawasan yang sama. Mereka memang teman baik. Selalu pergi bersama, hingga akhirnya ajal menjemput saat insiden crane terjadi. Meski demikian, keluarga Saparini ikhlas."Kami ikhlas" ucap suami Saparini, Ngatirin, singkat.Meski ikhlas, kepergian Saparini rupanya menjadi duka mendalam buat sang putri. Sebab, Saparini berjanji akan membuat acara syukuran wisuda sang anak setelah dirinya pulang dari haji."Wisudanya tanggal 18 ini, mamak merencanakan untuk membuat acara tepung tawar. Tapi sudah begini, gimana lagi. Kami ikhlas," ucap Reni, anak Saparini.Sebelumnya, kata Reni, ibunya terakhir berkomunikasi dengan mereka pada Jumat (11/9) dinihari. "Waktu itu juga nanya soal wisuda, nanya kapan, gimana pakaiannya," jelasnya.

Korban Iti Suparti bilang pada keluarga ingin meninggal di Makkah

Korban Iti Suparti bilang pada keluarga ingin meninggal di Makkah
crane jatuh di masjidil haram. ©twitter.com

Iti Rasti binti Darmini, warga Jalan Nyampay No 45 RT 002/010, Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi salah satu korban meninggal akibat musibah crane jatuh di Masjidil Haram, Makkah.Namun rupanya, meninggal di Tanah Suci menjadi salah satu cita-cita wanita berusia 56 tahun itu. Perjalanan haji kali ini adalah yang kali pertama dilakukannya.Ibu tiga anak ini berangkat ke Tanah Suci bersama dengan sang suami, Duskarno (67) dengan rombongan Kloter 23, Sabtu (29/8) lalu. Dua pekan beribadah di Makkah kabar duka itu datang. Crane raksasa jatuh di sela umat muslim sedang beribadah.Iti meninggal dunia. Sementara, sang suami selamat lantaran saat kejadian sedang berada di tempat peristirahatan."Saya mendapat laporan dari KBIH. Bahwa ibu saya sudah meninggal," kata Arbani Sodiq (31) putra kedua Iti saat ditemui di kediamannya, Sabtu (12/9).Keluarga mengaku sudah mengikhlaskan kepergian Iti. Sebab, ilmu ikhlas adalah hal yang selalu disampaikan Iti kepada anak-anaknya.Menurutnya, sang ibu memang memiliki keinginan meninggal dunia di Tanah Suci."Sebelum berangkat memang ibu pernah bilang ingin meninggal di Makkah," terangnya.

Rekomendasi