4 Tahun jadi SPG sapi, Mayang kini terbiasa dengan bau kandang

Mayang awalnya jijik melihat kotoran sapi.

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
4 Tahun jadi SPG sapi, Mayang kini terbiasa dengan bau kandang
SPG sapi di Depok. ©2015 Merdeka.com

Wanita berparas cantik dan seksi identik dengan suasana mal. Namun di Depok, enam wanita cantik justru asyik bergelut dengan sapi dan kambing. Adalah Mayang Megananda yang sudah empat tahun menjadi sales promotion girl (SPG) di Mal Hewan Qurban H Doni di Jalan Akses UI Depok. Mulanya wanita berkulit putih ini merasa takut dengan ratusan sapi-sapi di lapak itu, namun lama-kelamaan dia seolah sudah menyatu dengan mereka.Tiap hari, Mayang memeriksa ratusan sapi yang dilengkapi dengan alat Radio Frequency Identification (RFID), sehingga seluruh data sapi terkoneksi ke smartphone yang dipegangnya. Dengan seksama wanita berambut panjang ini memeriksa kondisi sapi mulai dari fisik hingga kesehatan hewan. Pertama kali, Mayang harus beradaptasi dalam waktu lama. Namun pada tahun berikutnya dalam waktu cepat Mayang sudah bisa menyesuaikan."Bau ya iya tapi sekarang mah udah biasa. Enjoy kok. Ini tahun keempat," kata Mayang, Sabtu (5/9).Mayang yang biasa bekerja sebagai staf showroom mobil milik H Doni pun tiap tahun selalu diperbantukan untuk menjadi SPG Mal Hewan Qurban. Dia menceritakan, empat tahun menjadi SPG hewan qurban bukanlah hal biasa. Banyak pengalaman yang dialami mulai dari terkena kotoran sapi hingga harus berupaya tetap memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen yang datang."Terhadap konsumen kita harus profesional. Nggak ada yang bercanda neko-neko kok," akunya.Bayaran besar bisa kemungkinan menjadi pemikat mengapa wanita-wanita cantik di sini tertarik bergelut dengan aroma amoniak yang dikeluarkan dari kotoran sapi. Namun, Mayang enggan menyebutkan berapa honor yang diterimanya dari sebulan menjadi SPG hewan qurban."Yang penting enjoy," ucapnya tersenyum kecil.Tahun ini H Doni hanya menyediakan 4 ribu sapi, padahal tahun lalu mencapai 6 ribu sapi. Merosotnya nilai rupiah juga berdampak pada kuantitas penjualan."Tahun ini lebih banyak di middle yang harganya Rp 13-17 juta dengan bobot sekitar 250-300 kilogram," kata Doni.Untuk kelas middle, dirinya menyediakan hampir 2 ribu sapi. Sisanya terdiri dari kelas eksekutif dan middle up. Untuk kelas eksekutif dirinya sudah menjual sapi jenis brahman cross seharga Rp 400 juta dengan berat 1,2 ton. Sapi-sapi yang disediakan berasal dari berbagai daerah. Antara lain Madura, Bali dan Kupang. Dia juga memberikan fasilitas asuransi all risk. Artinya, jika jika hewan kurban yang dibeli sakit atau cacat saat diantar, maka akan diganti dengan hewan baru. "All risk. Jadi, jangan khawatir," ujarnya.

Rekomendasi