Warga sipil rela naik Hercules TNI AU meski tanpa asuransi

Mereka memilih menumpang pesawat militer, karena ongkos maskapai umum lebih mahal.

Yan Muhardiansyah
Oleh Yan Muhardiansyah - Reporter
Warga sipil rela naik Hercules TNI AU meski tanpa asuransi
Pesawat Hercules C-130 tiba di Yogya. ©2015 merdeka.com/kresna

Keberadaan penumpang sipil dalam pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara yang jatuh di Medan, Selasa (2/6), merupakan fakta ditemukan di lapangan. Tetapi, banyak pihak mengaku terbantu dengan menumpang pesawat militer itu meski tanpa asuransi keselamatan lantaran minimnya moda transportasi."Kami selalu naik Hercules. Saya sering kirim barang ke Natuna juga naik Hercules," ujar seorang warga Pekan Baru, Riau, Yenti Arizona (36 tahun), Kamis (2/7).Yenti merupakan kerabat dua korban pesawat Hercules nahas itu. Dua keponakan Yenti, Rezki Budi Prakarsa (20 tahun) dan Renaldi Wadianto (15 tahun) tewas dalam kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Medan, Selasa (2/7). Mereka adalah sipil dan bukan keluarga dari anggota TNI.Yenti mengatakan, ongkos menumpang Hercules TNI memang lebih murah ketimbang menumpang pesawat komersial. Menurut dia, bila terbang dari Pekanbaru ke Natuna dengan maskapai umum, mereka mesti merogoh kocek Rp 1,5 juta sekali jalan. Sementara jika terbang dengan Hercules TNI AU, mereka hanya membayar Rp 850 ribu per orang."Kalau naik pesawat komersil, kita harus ke Batam dulu. Dari Batam baru ke Natuna. Terkadang kami masih harus bermalam di Batam," ujar Yenti diamini Widia, ibu kedua korban.Karena selisih ongkos itu, mereka selalu mencari tahu jadwal penerbangan Hercules TNI AU dari Pekanbaru ke Natuna lewat kerabat dan kenalannya. Menurut hitungan mereka, pesawat itu akan datang setiap akhir atau awal bulan.Meski begitu, Yenti tidak masalah dengan keselamatan. Bahkan menurut dia terbang menumpang pesawat militer tanpa asuransi bukan menjadi persoalan."Itu kan soal rezeki. Kalau jatuh, pesawat komersial juga jatuh. Mana ada pilot yang mau jatuh," tambah Yenti.Yenti mengaku ikhlas dengan musibah itu. Apalagi mereka sudah siap dengan konsekuensinya. "Kita kalau mau terbang naik Hercules kan harus ada suratnya juga. Kita teken materai. Kami tidak akan menuntut," lanjut Yenti.Sementara itu, keluarga Sautan Sinurat (61 tahun) dan adiknya, Juriaman Sinurat (59 tahun), bersama istri, P Sitanggang, juga merasa terbang dengan Hercules TNI AU lebih menghemat waktu. Sebab mereka saat itu ingin cepat sampai melihat kelahiran cucunya di Natuna."Naik Hercules lebih cepat. Kalau lewat Batam sampai tanggal 3 katanya tidak ada penerbangan ke Natuna, makanya naik Hercules," kata Nuriati Sinurat (36 tahun), putri pasangan asal Aek Kanopan itu.Hendra Bakkara, sepupu seorang korban tewas Hercules mengatakan, kerabatnya juga sering menggunakan pesawat Hercules TNI. Salah seorang sepupunya, Risma Purba (18 tahun), merupakan penumpang Hercules C-130 jatuh di Medan. Dia ingin terbang ke Natuna dengan membayar Rp 1 juta. "Tapi saya tidak tahu kenapa naik Hercules. Cuma mereka biasa naik itu," kata Hendra.Namun, Pangkoops I Marsekal Muda Agus Dwi Putranto menyangkal ada praktik jual beli kursi pesawat Hercules TNI AU. "Kan sudah dibantah Kasau. Kalaupun ada warga sipil, itu pasti ada surat izin terbangnya," ucap Agus.

Rekomendasi