Hal yang membuat terperangah ketika petugas Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mengamankan badut Winnie the Pooh di depan Lippo Mall Sidoarjo, Minggu lalu (14/6), adalah saat mengetahui si boneka beruang kuning itu memiliki tujuh istri.
Tak hanya itu, dari hasil ngamennya sebagai badut, setiap hari, Suwadi alias Suaedi, orang di balik kostum boneka beruang lucu itu, mampu membawa pulang Rp 500 ribu. Sebulan penuh, Suaedi mampu meraup hasil Rp 15 juta, tanpa potongan pajak, PPn maupun PPh.
Namun, para tetangga Suaedi mengaku tidak mengetahui hal itu. Hampir semua warga Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, cuma tahu, istri Suaedi hanya Karsi seorang. Sebagian, para kaum tua di desa itu, mengaku Karsi sebagai istri kedua Suaedi. Informasi selebihnya, tak satupun yang tahu masa lalu Suaedi dan Karsi.
Warga Desa Sawo mengenal Suaedi dan Karsi sebagai sepasang pengamen badut dari kampung ke kampung. Profesi itu mereka geluti sejak sekitar tiga hingga empat tahun lalu. Sebelumnya, Suaedi berprofesi sebagai pemborong bangunan, sedangkan Karsi, sebagai tukang pijat.
Warga juga tahu, sebelum menjadi badut Winnie the Pooh, rumah sepasang suami-istri ini memang cukup besar sejak dahulu. Sehingga, warga menyangkal jika rumah yang dihuni Suaedi dan Karsi hasil dari mengamen jadi badut.
"Memang, rumahnya sekarang tengah direnovasi dan belum selesai dikerjakan. Kalau beli rumah baru ya gak mungkin, wong dari dulu mereka tinggal di situ, enggak tahu lagi kalau beli rumah di luar desa ini," terang Kasiman, warga Desa Sawo yang dibenarkan Agus, warga yang lain.
Sementara ditemui di rumahnya, di Dusun Bulu, Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Suaedi dan Karsi tidak menyangkal pengakuannya saat berada di Liponsos maupun Dinsos Kabupaten Mojokerto.
Karsih mengaku, dia memang istri ketujuh Suaedi. "Saya memang istrinya yang ke tujuh. Bapak sama istri-istrinya yang lain sudah cerai. Bapak itu menikah, istri-istrinya mudah terpikat laki-laki lain, sehingga kawin-cerai-kawin cerai. Terus ketemu sama saya, kemudian menikah sampai sekarang," aku Karsi pada merdeka.com di kediamannya.
Suaedi yang mengenakan peci hitam duduk diam mendengarkan di sebelah Karsi. "Anak saya, cuma satu, namanya Muadi. Kalau anaknya bapak dari istri-istrinya dulu juga ada. Dulu saya itu kan janda, pas ketemu sama bapak, saya lagi hamil. Bapak bilang mau ngerawat saya, terus saya bilang kalau serius minta (lamar) saya," aku Karsi yang dikenal warga sekitar ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling ini.
Dan sejak menikahi Karsi, Suaedi tak pernah lagi merasa dikhianati. Karsi begitu setia menemani Suaedi, hingga rela sama-sama menjadi badut Winnie the Pooh, meski berkali-kali dilarang Muadi.
Semula, mereka ngamen dari kampung ke kampung. Kemudian ke Sidoarjo, dan mengaku stroke dan sebatang kara untuk memikat simpati orang.
"Anak saya sudah melarang. Tapi bapak bandel, ingin cari uang sendiri. Saya ya ikut bapak jadi badut. Ngamen ke kampung-kampung. Saya ke Sidoarjo itu baru tiga bulan, terus ditangkap persis maling, ditutup-tutupi sama kain. Banyak pengamen pakai badut gak ditangkapi, saya sama bapak kok ditangkap," keluhnya.
Dia mengaku, datang ke Sidoarjo, atas sarankan orang sesama pengamen yang tak dikenalnya. Tapi saran itulah, yang membuat Suaedi dan Karsi, apes. Mereka dibawa petugas ke Liponsos.
"Saya ketemu orangnya di jalan. Katanya ngamen di Sidoarjo enak, ya saya sama bapak ke sana, ngamen di Sidoarjo, gak tahunya ditangkap kaya maling, sekarang saya sudah kapok, pakain badutnya juga sudah saya bakar. Cari makan buat berdua saja, lebih baik jual makanan sama mijit kaya dulu," sambungnya.
Sebelumnya, penangkapan Suaedi dan Karsi ini, gara-gara seorang pendengar stasiun radio lokal di Surabaya, melaporkan kondisi Suaedi yang miris. Kemudian, Kepala Dinsosnaker Sidoarjo perintahkan petugas membawa Suaedi agar dirawat hingga sembuh di Liponsos. Namun, celakanya itu hanya akal-akalan Suaedi untuk menarik simpati orang.