Jakarta masih jadi magnet tersendiri untuk penduduk daerah yang ingin mengadu nasib. Besarnya peluang kerja di ibu kota membuat kota metropolitan semakin diburu. Namun di balik itu, selalu ada cerita tentang tingkah laku para pengemis yang berlagak miskin demi meraup rupiah dengan mengandalkan belas kasihan.Edi Supriyadi, kakek berusia 78 tahun asal Kudus, Jawa Tengah misalnya. Ia rela jauh dari kampung halaman dan bekerja di Jakarta demi mencari uang yang lebih untuk menghidupi keluarganya. Sadar tak memiliki kemampuan yang lebih, Edi pun tak masalah harus mengemis di sekitar Kecamatan Senen. Dari hasil mengemis setiap hari, Edi mendapat keuntungan fantastis.Selain Edy, masih banyak lagi yang menggunakan kekurangan tubuhnya untuk menampung harta kekayaan. Pun, agak sulit memang membedakan yang mana pengemis sungguhan dan yang mana pengemis abal-abal atau menjadikannya sebagai profesi. Alih-alih memelas, ternyata mereka menimbun harta dari hari ke hari. Berikut cerita orang berlagak miskin di jalanan padahal kaya:
Advertisement
Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur membawa seorang kakek berpakaian badut Winnie the Pooh dari depan Lippo Mall di Kota Udang itu. Pria di balik kostum badut beruang kuning ini bernama Suaedi, hidup sebatang kara di daerah Driyorejo, Gresik.Diduga Suaedi rela melakoni pekerjaan dengan berkostum badut hanya modus, agar banyak orang kasihan dan dirinya mendapat untung lebih banyak dari sekadar mengemis.Kakek berumur 75 tahun itu juga mengaku menderita sakit stroke. Dengan dalih itu, meski sakit, dia berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya menjadi badut, berharap belas kasih orang. Dengan berkostum beruang kuning itu, Suedi bisa kantongi Rp 500 ribu setiap harinya, hasil belas kasih orang.Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Sidoarjo Husni Tamrin akhirnya perintahkan petugas membawa Suaedi agar dirawat di Liponsos Sidoarjo, Jalan Sidokare.Hasil investigasi Liponsos, ternyata Suaedi adalah warga Mojokerto bukan Gresik dan memiliki rumah mewah dengan tujuh istri serta lima anak. Si kakek beruang kuning itu, juga tidak menderita stroke seperti dikabarkan banyak pihak."Setelah kita cek kesehatannya, dia enggak sakit. Senin kemarin, sekitar pukul 10.00 WIB, dia kita pulangkan. Sesuai KTP-nya, dia warga Mojokerto. Dia kita serahkan ke Dinsos Mojokerto. Dia juga dijemput satu dari lima anaknya," kata petugas yang ikut mendampingi Suaedi, Dayat pada merdeka.com di Kantor Liponsos, Sidoarjo, Selasa (16/6).Dayat mengungkapkan, Suaedi sebenarnya hanya mengaku sedang menderita stroke dan hidup sebatang kara, untuk menarik belas kasih orang. "Hasil dari menjadi badut, dia bisa mendapat Rp 500 ribu per hari, ini dari pengakuannya sendiri. Dia bilang kalau sehari tidak dapat (Rp 500 ribu) itu, dia tidak akan pulang," tutur Dayat.Disahuti petugas lain sambil tersenyum geli. "Dari hasil itu, dalam satu tahun dia bisa membeli rumah di Mojokerto, beli motor Yamaha Vixion dan motor matik. Istrinya saja ada tujuh. Katanya istri saya cuma tujuh saja. Cuma tujuh. Loh ini bener dari pengakuannya sendiri," katanya tersenyum geli menirukan keterangan Suaedi."Memang kemarin dia mengaku istrinya ada tujuh. Waktu kita bawa kemarin, kan bukan hanya Suaedi, tapi istri ketujuhnya juga kita bawa. Entah istri-istrinya yang lain meninggal atau cerai, kita tidak tahu. Yang jelas, dia bilang istrinya tujuh," kata Dayat lagi.Jadi, masih menurut keterangan Dayat, saat Suaedi dibawa petugas Liponsos Sidoarjo pada Minggu kemarin, tiba-tiba seorang perempuan mengaku anak Suaedi berlari menghampiri petugas, dan mengatakan masalah itu."Pertama dia mengaku anaknya, tapi setelah kita desak ternyata mengaku istri ketujuh Suadi. Namanya Karsih. Jadi, Karsih ini memang mengawasi Suaedi dari jauh setiap hari. Dia tidak ikut berpakaian badut. Tapi dalam tasnya ada dua pakaian badut," tandasnya.
Advertisement
Sebanyak 6 orang gelandang dan pengemis (Gepeng) ditangkap Satpol PP yang beroperasi di kawasan Banda Aceh, Rabu (18/3) sekira pukul 17.00 WIB. Hal yang mencengangkan, petugas mendapatkan emas, uang rupiah hingga ringgit Malaysia.Bahkan salah seorang dari mereka yang memiliki emas mengaku, perhiasan ini yang didapatkan dari mengemis di Banda Aceh untuk bekal menikah. Mereka sudah mengemis di Banda Aceh selama 1 bulan lebih."Salah satu pengemis menjawab, emas yang dimilikinya untuk mahar menikah," jelas Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Banda Aceh, Tarmizi Yahya yang juga ikut hadir di lokasi.Selain memiliki paspor, emas dan ringgit, di antara gepeng ini juga memiliki uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu sebanyak Rp 1,8 juta, termasuk ringgit. Gepeng yang memegang ringgit mengaku dia hendak berangkat ke Malaysia kembali, namun butuh ongkos untuk keberangkatannya."Bahkan ada satu orang yang pegang uang ringgit, dia itu hendak berangkat kembali ke Malaysia, maka cari uang dulu di Banda Aceh dengan mengemis," jelasnya.Tarmizi mengaku, ini bukan penangkapan, akan tetapi mereka akan dikumpulkan di rumah penampungan di Ladong, Aceh Besar. Setelah diberi bekal berupa keahlian, kemudian dikembalikan pada keluarganya masing-masing. "Ini dengan harapan dapat mandiri dengan usahanya dan tidak mengemis lagi," katanya. Sementara itu, Wakil Kapolsek Baiturrahman, Iptu Suwandi Desky dalam kesempatan yang sama membenarkan proses penangkapan gepeng ini. Katanya, dirinya juga sempat heran ketika melihat barang-barang berharga yang dimiliki para gepeng. "Namun perlakuan terhadap mereka sangat humanis, tidak ada kekerasan dari petugas. Saya pikir ini untuk masa depan mereka juga. Dengan dikumpulkan dan dibina tentunya mereka akan punya modal untuk mengarungi hidup tanpa mengemis lagi," ujarnya.Para gepeng ini sempat dibawa ke kantor Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh sebelum akhirnya di bawa ke rumah penampungan milik Dinas Sosial Provinsi Aceh di Ladong, Aceh Besar.
Advertisement
Edi Supriyadi, kakek berusia 78 tahun asal Kudus, Jawa Tengah ini rela jauh dari kampung halaman dan bekerja di Jakarta demi mencari uang yang lebih untuk menghidupi keluarganya.Sadar tak memiliki kemampuan yang lebih, Edi pun tak masalah harus mengemis di sekitar Kecamatan Senen. Dari hasil mengemis setiap hari, Edi mendapat keuntungan fantastis."Setelah digeledah ada sejumlah uang tunai senilai Rp 11 juga di dalam tasnya," ujar Kasie Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Sudin Sosial Jakarta Pusat, Wanson Sinaga. Dikutip dari situs resmi Pemprov DKI, Edi diamankan Selasa kemarin saat petugas melakukan razia rutin Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Setelah diamankan dan digeledah, petugas terkejut di dalam tas milik Edi yang ditaruh di gerobak berisi uang tunai Rp 11 juta."Makanya langsung kami naikkan ke atas mobil dan dilakukan penggeledahan tasnya," tambahnya.Uang Edi terdiri dari pecahan Rp 100 ribu. Sedangkan uang pecahan Rp 50 ribu hanya ditemukan empat lembar. Petugas juga menemukan pisau dapur, selimut, alat penerangan dan air mineral dari dalam gerobak milik Edi Supriyadi tersebut."Gerobaknya juga berfungsi sebagai rumahnya. Karena kami menemukan sejumlah alat-alat rumah tangga," katanya.Hingga kini, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap kakek pengemis tersebut. "Setelah didata akan kami kirim ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya di Cipayung, Jakarta Timur," tandasnya.Kasus pengemis kaya di Jakarta bukan yang pertama kali terjaring petugas Dinas Sosial. Beberapa waktu lalu, Walang bin Kliwon (54), pengemis asal Subang, Jawa Barat, yang kedapatan membawa uang Rp 25 juta sempat ingin menyogok petugas saat dirinya terjaring razia oleh Suku Dinas Jakarta Selatan di Pancoran.
Advertisement
Belum hilang ingatan khalayak saat terkuaknya penghasilan pengemis di Ibukota yang mampu meraup Rp 3 juta tiap harinya. Kini, petugas dari Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan kembali menjaring dua orang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang kedapatan membawa uang sebesar Rp 25 juta.Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda menuturkan kedua pengemis tajir tersebut bernama Walang bin Kilon (54) dan Sa'aran (60)."Keduanya bisa terjaring setelah petugas intai selama 2 hari berdasarkan laporan dari masyarakat," ujar Miftahul, saat dihubungi, Rabu (27/11)."Keduanya beroperasi hanya malam. Dan kita tangkap di bawah fly over Pancoran semalam," tambahnya.Saat terjaring, keduanya kedapatan membawa uang tunai yang dimasukkan ke dalam plastik hitam."Plastik pertama kita buka dan hitung ada Rp 7 juta. Lalu plastik lainnya juga ada uang, dengan total keseluruhan Rp 25.448.600," terangnya.
Advertisement
Waktu menunjukkan pukul 10.20 Jumat pekan lalu. Suasana menjelang siang di sekitar emperan Jatinegara, Jakarta Timur, tidak begitu ramai. Tidak jauh dari sana, pengemis pria paruh baya berkemeja putih bergaris hitam berjalan dituntun oleh seorang pemuda.Jalannya tertatih-tatih sambil memegang pundak pemuda berkaos kuning di kolong jembatan. Dua pengemis itu baru saja turun dari dalam Kopaja 506 jurusan Kampung Melayu-Pondok Kopi. Saat meletakkan kaki di emperan kaki lima, pengemis buta itu tiba-tiba saja berjalan normal. Matanya tiba-tiba saja terbuka.Pulihnya mata tukang minta-minta itu bukanlah mukjizat. Kedua matanya melek lagi setelah melihat puluhan anggota Satuan Polisi Pamong Praja merazia sepanjang Matraman hingga Stasiun Jatinegara. Dua pengemis itu lantas berjalan terburu-buru menaiki Kopaja rute sama.Berpura cacat juga dilakoni pengemis anak berinisial BR, 12 tahun. Saban sore dia berjalan dari kontrakannya di bilangan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Dia membawa tas gemblok berisi celana pendek berukuran besar untuk beroperasi di sekitar Blok M Plaza hingga simpang CSW, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.Celana itu digunakan untuk membungkus kakinya setelah ditekuk agar terlihat buntung. "Saya ganti celana di gorong-gorong dekat (masjid) Al-Azhar Kebayoran Baru," kata BR saat berbincang dengan merdeka.com di dekat Blok M Plaza Jumat malam pekan kemarin.BR bercerita terpaksa menjadi pengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan patungan membayar kontrakan. Dia datang dari Kota Palembang, Sumatera Selatan, karena diajak rekannya menumpang truk ke Jakarta. "Saya tidak punya ayah dan ibu, kakak saya juga nggak tahu ke mana," ujarnya.Cara mengemis dia dapat dari teman satu kontrakannya. Untuk menyiasati agar seperti orang cacat, kaki kiri dia tekuk ke dalam dan dibungkus celana pendek longgar. BR mengaku enak mengemis lantaran pendapatannya per hari lumayan untuk makan dan sisanya juga ditabung. Paling tidak, dia membawa pulang Rp 50 ribu. "Sisanya saya tabung Rp 500 ribu per bulan," katanya. Dia mengaku menjadi pengemis bukan disuruh dan sistem setoran, menjadi pengemis karena temannya juga demikian.