Perjalanan menuju Puncak Everest yang dilakukan oleh Asmujiono bersama 15 orang yang lain pada 1997, terbilang sangat jauh dari kata teknologi canggih. Bahkan misi besar itu dilakukan dengan penuh keterbatasan, meski demikian hal itu tidak mengurangi semangat anggota tim.
Saat itu, ada 16 orang yang terdiri dari 10 orang dari Kopassus dan 6 orang sipil yang mendapat tugas menaklukkan puncak Everest. Misi mereka adalah menunjukkan kepada dunia, kalau Indonesia sejajar dengan nagara lain di dunia.
Negara di Asia Tenggara, saat itu belum ada yang berhasil, bahkan keberangkatan Ekspedisi Merah Putih 1997 diduga karena rencana Malaysia yang saat itu akan memberangkatkan timnya. Negara yang bisa di Puncak Kaki Langit memiliki gengsi tersendiri.
"Saat itu ada seingat saya ada pameran di Rusia, dibelikan termos dengan bahan tertentu yang katanya canggih. Tetapi saat termos itu dipakai, tetap saja air di dalamnya beku menjadi es. Termosnya diisi air panas, airnya tidak bisa keluar karena beku." kata Asmujiono.
Hal itu dia sampaikan bersama 2 orang anggota 7 Summit 2012, Iwan Kwecheng Irawan dan Galih Donikara saat menjadi nara sumber dalam talkshow Ekspedisi Mount Everest Indonesia 1997, Merah Putih di Atap Tertinggi Dunia. Acara berlangsung di Aula Gedung A Lantai A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, Minggu (24/5) dengan dihadiri oleh sekitar 300 peserta.
Asmujiono adalah salah satu dari tim Kopassus yang ikut dalam misi ke Puncak Everest. Dia juga yang kemudian bisa bertahan sampai ke puncak bersama sesama anggota Kopasus, Misirin. Sementara anggota tim yang lain berguguran, bahkan Iwan Setiawan yang bersama-sama meninggalkan Camp IV tidak bisa tercatat sampai ke puncak karena ancaman badai salju yang membuatnya segera turun.
Asmujiono mengisahkan, saat menuju puncak tiga pelatih yakni Anatoli Beukreev, Vladimir Baskirov dan Evgenie Vinogradsky mendampingi perjalanannya. Satu pelatih mendampingi satu orang.
"Pelatih asal Rusia yang mendampingi kita memiliki botol yang ditaruh di tubuhnya. Ditaruh di sekitar ketiaknya, tetapi setiap saya minta airnya tidak pernah dikasih. Saya lihat dia meneteskan air ke mulutnya," kata Asmujiono.
"Entah dia nggak ngerti bahasa saya atau apa, setiap saya minta tidak pernah dikasih," tambahnya.
Sejak memasuki ketinggian 7.000 meter, Asmuji mengaku sudah tidak ada nafsu makan lagi. Tetapi tubuhnya butuh energi untuk sumber tenaga.
Suhu di bawah minus 30 derajat, saat membawa daging sudah tidak bisa dipotong, bahkan telur menjadi keras. Air mendidih bisa langsung diminum, bahkan buang air kecil langsung berubah menjadi es.
"Saya tiga hari tiga malam sudah tidak bisa makan. Kita semula sudah dipersiapkan emergency camp. Indonesia hanya dianggap akan mampu di Camp 3 di ketinggian 7.300 meter saja," katanya.
Perlu diketahui Camp I berada di 6.100 M, Camp II di 6.500 M, Camp III di 7.300 M dan Camp IV di 7.980 M. Saat ekspedisi pertama hanya tiga orang yang diperkenankan melanjutkan ke Puncak Everest di 8.850 M. Sementara yang mencapai puncak Everest hanya dua orang yakni Asmujiono dan Misirin.
Advertisement