Tes keperawanan masuk TNI pakai dua jari menuai kecaman

"Jika karena kecelakaan kita masih mempertimbangkan, tapi jika karena alasan lain, kita tidak bisa menerima" ujar Fuad

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Tes keperawanan masuk TNI pakai dua jari menuai kecaman
Militer Indonesia. ©2013 Merdeka.com

Akademi Militer memberlakukan tes keperawanan bagi para kandidat prajurit perempuan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Juru Bicara TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan tes keperawanan tersebut ditujukan kepada kandidat perempuan sebagai bagian dari tes kesehatan sebelum tergabung.Tes ini menggunakan uji dua jari untuk menentukan apakah selaput dara masih utuh. Menurut Fuad, hal ini ditujukan untuk memilih pasukan bersenjata terbaik."Hal ini dilakukan untuk mendapatkan orang-orang terbaik secara fisik dan mental," ujar Fuad, seperti dilansir stuff.co.nz, Minggu (17/5).Fuad mengatakan dengan menggunakan metode uji dua jari tersebut, dokter akan mengetahui jika ada kandidat yang sudah kehilangan selaput daranya akibat kecelakaan atau alasan lain. Nantinya, kandidat harus menjelaskan mengapa selaput daranya tidak lagi utuh."Jika itu karena kecelakaan kita masih dapat mempertimbangkan, tapi jika itu karena alasan lain, maka kita tidak bisa menerimanya," imbuh Fuad.Tes ini sudah dilakukan sejak tahun 1977 ketika dia bergabung dalam militer. Fuad mengatakan setiap anggota militer membutuhkan mental yang sehat karena mereka harus membawa senjata untuk menjaga integritas dan kedaulatan Indonesia.Selain kepada kandidat, Peneliti Human Rights Watch menemukan bahwa tes ini juga dijadikan persyaratan bagi tunangan petugas militer. Sebanyak 11 perempuan yang diwawancara oleh Human Rights Watch mengatakan tes itu berlaku bagi semua perempuan yang ingin masuk ke militer atau yang mau menikah dengan petugas militer.Namun Fuad justru menolak dengan pernyataan tersebut. "Tidak, kami tidak melakukan itu. Apa gunanya?" ujarnya.Organisasi Internasional Non-Pemerintah mengatakan kandidat militer dan tunangan militer yang gagal dalam tes belum tentu dihukum. Tapi semua perempuan mendeskripsikan tes tersebut menyiksa, memalukan, dan menimbulkan trauma.

Rekomendasi