Tewasnya gadis cantik penjual angkringan Eka Mayasari (27) masih menjadi misteri. Sebab, hingga kini polisi belum bisa menangkap pelaku pembunuhan dan pemerkosaan yang menimpa alumnus Universitas Gadjah Mada itu.Paska kematiannya, beragam fakta mengenai Eka mulai terkuak. Mulai dari kisahnya menjadi seorang mualaf, hingga pernah mengalami kelumpuhan total yang menyebabkan dirinya tidak bisa beraktivitas.Eka yang merupakan asal Pulau Kijang, Riau itu dikenal sebagai anak yang mandiri dan pekerja keras. Dia membiayai hidup sendiri tanpa membebankan orangtua. Bahkan, Eka juga disebut turut membiayai kuliah adiknya.Namun nasib berkata lain, sebelum dia mengantarkan adiknya selesai kuliah Eka meninggal dunia dengan secara tragis.Berikut kisah Eka Mayasari, pernah lumpuh & jadi inspirasi mualaf Ibu-adik:
Advertisement
Eka Maya alergi dengan nasi
Kematian Eka Mayasari yang tragis membuat geger warga Yogyakarta. Bahkan, keluarga dan teman-temannya hingga kini masih belum percaya jika Eka harus meregang nyawa seperti itu."Setelah baca berita di Media, baru sadar jika mahasiswi asal Riau yang dikabarkan meninggal karena di bunuh di Janti Yogya itu adalah sahabat saya. Ya, Maya begitu saya memanggilnya," ujar Didik Herwanto, saat berbincang dengan merdeka.com Selasa (5/5) di Pekanbaru.Didik mengaku awal perkenalan dengan Maya pada awal tahun 2008, awal mulanya Maya menempuh pendidikan di kota gudeg tersebut. Saat itu pula Didik merasa aneh melihat selera makanan Maya yang alergi dengan nasi dan lebih suka makan mie.Didik berkenalan dengan Maya saat masih duduk di bangku Universitas Pembangunan Veteran Yogyakarta tahun 2008."Selama hidupnya, dia (Maya) sangat alergi dengan nasi. Sehingga selama itu pula dia hanya memakan mie. Karena itu dia sering sakit," ungkap Didik.
Advertisement
Struktur tulang belakangnya di serang virus, Eka pernah lumpuh
Didik salah satu teman kuliah Eka di Universitas Pembangunan Veteran menceritakan, sosok Eka dikenal sebagai wanita yang mudah bergaul dan energik. Menurutnya, Eka juga pernah menjalin kasih dengan teman Didik."Dia (Maya) pacarnya temen saya, sering nongkrong di kampus kami. Pacarnya Maya itu adalah teman sekampus dengan saya," kata Didik yang kini berdomisili di kota Pekanbaru.Akan tetapi yang lebih mengharukan, kata Didik, ketika Maya mengalami sakit parah, struktur tulang belakangnya di serang virus yang mengakibatkan dia lumpuh total. Menurut Didik, mukjizat Tuhan membuat Maya sembuh dan dapat beraktivitas seperti semula meskipun kehilangan dua ruas tulang belakangnya."Supel, energik dan mandiri sepenggal kisah yang tersisa yang mampu saya ingat dari pribadi alamarhumah Maya," kenang Didik.Seperti diketahui, Warga Desa Karangjambe, Janti, Banguntapan, Bantul digegerkan dengan tewasnya Eka, Sabtu (2/5) sore. Korban pertama kali ditemukan oleh Fandi Indrajaya (18) adik korban.Saat ditemukan, Maya yang juga penjual angkringan ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya. Dari hasil visum sementara, ditemukan beberapa luka memar di bagian leher korban.Korban juga ditemukan dalam keadaan tanpa busana di indekosnya. Diduga Maya menjadi korban pemerkosaan lalu dibunuh yang dilakukan oleh orang yang belum ditangkap hingga saat ini.
Advertisement
Eka Mayasari mualaf jadi inspirasi ibu dan adiknya
Ratusan umat Islam di Yogyakarta tadi malam menggelar doa bersama untuk almarhumah Eka Mayasari, pedagang angkringan yang ditemukan tewas diduga korban pembunuhan serta pemerkosaan. Eka adalah seorang mualaf asal Pulau Kijang, Riau.Informasi yang dihimpun dari Dewan Syuro Laskar Hamka Darwis, Faisal, lewat Komunitas Mualaf Jogja, Eka memeluk Islam dengan bersyahadat di hadapan Faisal tahun 2011. Perjalanan spiritual Eka ini tidak lepas dari hobinya membaca buku."Berawal dari hobinya membaca buku hingga Eka menemukan buku tauhid Ketuhanan Dalam Islam, dan dari situlah Eka Mayasari mulai goyah imannya yang akhirnya menyakini diinul (agama) Islam adalah kebenaran yang nyata, dan Eka Mayasari memutuskan untuk mualaf," kata Faisal dalam akun Facebook Komunitas Mualaf Jogja yang dikutip merdeka.com, Selasa (5/5).Keteguhan iman dan Islam yang dimiliki Eka ini akhirnya mengetuk hati keluarganya. Dia menjadi inspirasi adik dan ibunya yang kemudian menyusul jadi mualaf.
Advertisement
Eka pernah diusir orangtua & tak dinafkahi
Pada awal-awal masuk Islam, Eka mulai belajar menggunakan kerudung tetapi sering dilepas ketika bapaknya datang. Dia menyembunyikan identitas Islam ketika berkumpul bersama keluarga. Hingga akhirnya semuanya diketahui keluarga.Saat keluarga mengetahui Eka sudah memeluk Islam, ibu bapaknya tidak terima. Eka diusir dari rumah, kuliah tidak lagi dibiayai, nafkah tidak lagi diberikan. Dia dibiarkan oleh orangtua.Hingga akhirnya kehidupan Eka ditampung oleh Faisal. Eka diberi tempat tinggal di kawasan Kampung Pedak, Yogyakarta."Maya ini orangnya tidak mau bergantung pada orang, pernah dia membuka warung bakmi di daerah Baciro tepatnya samping Polsek Baciro, lalu dia buka usaha angkringan di bawah jembatan layang daerah Janti hingga Sabtu petang, 2 Mei 2015 ajal menjemputnya," cerita Faisal.Semangat Eka membuka usaha angkringan bukan hanya untuk menghidupi dirinya sendiri, namun hasilnya juga untuk membiayai sekolah adiknya yang bernama Fandi hingga akhirnya mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.