Aksi pemerasan kerap menimpa para TKI pulang ke kampung halamannya. Keadaan ini terjadi tak terkecuali di NTT.Para porter yang berjaga di pelabuhan jadi biang keladi pemerasan dan kerap membuat kekisruhan. Pernah suatu kali, warga Adonara, NTT yang coba diperas berang dan memotong kuping porter dengan parang di Pelabuhan Lembata."Warga Adonara pulang kerja dari luar negeri bawa anak istri dan anak kecil. Porter minta (uang) mereka adu mulut si porter duluan serang orang Adonara. Orang Adonara langsung ambil parang itu," cerita Juven anggota Community Based Organization Delagtus Sosiale yang bermitra dengan Tifa Foundation di Larantuka, Flores Timur, NTT, Minggu (15/2).Juven melanjutkan, menurut para saksi mata, porter mencoba menghindar saat warga Adonara melayangkan parangnya."Tidak kena kepala jadi kena kuping, memang orang Adonara itu ke mana-mana bawa parang," tambah dia.Akhir insiden ini diselesaikan secara kekeluargaan. Peristiwa ini memang terjadi empat tahun lalu, namun efek dari insiden ini sangat besar."Orang Adonara jadi mempunyai solidaritas tinggi terhadap orang-orang yang akan diperas porter. Setelah kejadian itu aparat mulai tertib dan pelabuhan Lembata lebih nyaman," ucap dia.Cerita ketakutan warga NTT yang menjadi TKI terhadap pemerasan para porter di pelabuhan sudah lama berlangsung. Tak tanggung-tanggung mereka meminta uang dari TKI beratus-ratus ribu. Sehingga, seharinya para porter dapat uang paling minim Rp 1 juta per porter.Aparat dianggap lalai dan ikut bermain dalam pemerasan ini. Sebab kasus dan penangkapan terhadap porter dinilai tidak konsisten.Sebagai orang yang bekerja di bawah keuskupan Larantuka bagian sosial, Juven bekerjasama dengan Tifa Foundation menanggulangi angka kemiskinan dan menangani persoalan migrasi di NTT, salah satunya persoalan pemerasan para TKI NTT yang baru pulang dari Malaysia. Proyek ini didanai oleh Aus Aid dan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia.
Kisah warga Adonara NTT tebas kuping porter akibat kesal diperas
Akhir insiden ini diselesaikan secara kekeluargaan.
Rekomendasi