Banyak kalangan menilai kaum difabel selama ini sulit mengembangkan diri dalam kehidupan yang wajar. Penyebabnya adalah mereka masih terbelenggu dengan dirinya sendiri. Untuk keluar dari belenggu tersebut bukanlah hal mudah dilakukan.Direktur Yayasan Talenta, Sapto Nugroho mengatakan ada beberapa hal yang menjadi penyebab sulit berkembangnya penyandang disabilitas. Selain secara internal pada diri penyandang disabilitas, juga eksternal menyangkut lingkungan masyarakat secara umum."Ada anggapan bahwa terdapat jurang pemisah dalam interaksi sosial kaum difabel dengan masyarakat umum," ujar Sapto di Solo, Minggu (25/1).Sapto menepis adanya jarak tersebut. Anggapan tersebut menurutnya sangat tidak beralasan. Di satu sisi, lanjut dia, mereka merasa memiliki hambatan psikologis saat hendak berinteraksi dengan masyarakat."Masyarakat juga dibayangi kekhawatiran ketersinggungan ketika hendak berinteraksi dengan kaum difabel. Kedua belah pihak tak pernah mencapai titik temu untuk saling berinteraksi secara harmonis," katanya.Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya kekhawatiran dari kedua belah pihak, saat sebelum memulai interaksi. Sehingga pola relasi tersebut tak pernah terjalin. Padahal, interaksi sosial menjadi kunci utama bagi difabel untuk mengembangkan diri sendiri."Kaum difabel yang mampu eksis dan berprestasi saat ini pasti memiliki relasi interaksi sosial cukup baik," terangnya.Sapto menegaskan, jika penyandang disabilitas hanya berkutat pada dunia sangat terbatas pada sesamanya, ia yakin mereka tak akan dapat mengembangkan diri dengan baik, atau bahkan semakin inklusif."Hal paling awal harus dilakukan kaum difabel sebelum mengembangkan diri adalah menjalin interaksi sosial dengan masyarakat umum," pungkas pria yang juga penyandang disabilitas ini.
Sulit kembangkan diri, kaum difabel dinilai terbelenggu diri sendiri
Ada anggapan terdapat jurang pemisah dalam interaksi sosial kaum difabel.
Halaman Berikutnya
Tito Karnavian Sepakati Langkah Percepatan Pemulihan Pascabencana di Bener Meriah
Rekomendasi