Steve Jobs ternyata juga doyan LSD seperti sopir Outlander maut

Namun, dari kasus Steve Jobs bukan berarti ada pembenaran mengonsumsi narkoba.

Eko Prasetya
Oleh Eko Prasetya - Reporter
Steve Jobs ternyata juga doyan LSD seperti sopir Outlander maut
Steve Jobs. ©2014 Merdeka.com/abcnews.go.com

Christopher Daniel Sjarif (23), pengemudi Outlander maut yang tewaskan 4 orang di Pondok Indah ternyata positif konsumsi narkoba jenis LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide). Hasil tersebut setelah polisi memeriksa urine dan darah Christopher.Di dunia hitam, narkoba berbentuk seperti kertas itu biasa disebut 'Smile'. "Harganya cukup mahal, 1x1 sentimeter harganya bisa sampai Rp 300 ribu," kata Martinus.Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri Brigadir Jenderal Arman Depari pernah menuturkan, LSD sempat 'booming' di Indonesia pada 1990. Dari wujudnya yang seperti kertas, LSD sepintas tampak tidak berbahaya. Namun, efek yang ditimbulkan sama berbahaya dengan narkoba jenis lainnya."Ini golongan narkoba yang cukup berbahaya," kata Arman dalam jumpa pers di Gedung Direktorat IV Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Timur, November 2013 silam. Saat itu, Polri baru saja mengungkap perdagangan narkoba jenis tersebut.LSD, lanjut Arman, biasanya berbentuk lembar persegi berukuran sekitar 10 x 10 cm dengan isi sekitar 100 potongan kecil yang dapat disobek untuk digunakan. Tiap sobekannya sekitar 1 x 1 sentimeter, cukup diletakkan di bawah lidah.Reaksi yang muncul, ungkap Arman, sama dengan narkotika lainnya, yakni menyebabkan pengguna mengalami depresi dan juga halusinasi, euforia, dan juga kecanduan."Pada kertas LSD, ada gambar naga terbang. Banyak beredar di Eropa dan Amerika," ujarnya.Namun, siapa sangka jika CEO Apple Steve Jobs dulu pernah doyan konsumsi LSD. Bahkan, Jobs mengatakan pernah berhalusinasi dengan sangat nyaman dan tenang."Saat itu indah sekali, Aku sering sekali mendengarkan musik komponis Johann Sebastian Bach. Mendadak ladang gandum seolah bisa memainkan musik Bach. Itu adalah perasaan paling indah dalam hidupku sejauh itu. Aku merasa menjadi konduktor dari simfoni ini dengan Bach keluar melalui ladang gandum," kata Jobs dalam buku Steve Jobs by Walter Isaacson, Penerbit Bentang, 2011.

Chrisann Brenann sering menghabiskan waktu dengan Jobs mengisap LSD bersama. Jobs juga merasa menjadi konduktor dari simfoni yang diciptakan oleh Bach. Padahal tentu saja Bach tidak pernah bertemu dengannya, apalagi Jobs tidak belajar seni musik klasik yang merupakan domain Bach.Jobs mengatakan, mengonsumsi LSD adalah pengalaman yang mendalam dan salah satu hal yang paling penting dalam hidupnya. Menurutnya, LSD menunjukkan bahwa ada sisi lain di dunia ini dan tidak dapat mengingat kembali ketika narkoba itu habis dipakai."Tapi kau tahu itu. Saya rasa yang penting menciptakan hal-hal besar daripada membuat uang, menempatkan sesuatu kembali ke dalam arus sejarah dan kesadaran manusia sebanyak yang saya bisa," kata Jobs.Fakta Jobs menggunakan LSD dan merasakan pengaruh narkoba dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran luar biasa dibidang teknologi komputer, ternyata banyak dialami para jenius komputer lainnya. Menurut Markoff, NAPZA pyschedelic mendorong revolusi komputer dan internet dengan menunjukkan pada masyarakat bahwa hal-hal nyata dapat diubah melalui cara-cara tak biasa, melalui pemikiran yang sangat intuitif.Pemikiran yang berbeda atau think different, slogan Jobs, adalah salah satu pengalaman yang dihasilkan saat menggunakan LSD. "Ketika saya menggunakan LSD dan mendengarkan sesuatu, itulah ritme yang sesungguhnya. LSD membawa saya ke dunia berbeda, ke sebuah tempat di mana otak saya berhenti berpikir dan mulai memahami," ujar Kevin Herbert, pelopor Cisco System, sebuah perusahaan global produsen perangkat keras jaringan internet dan intranet.Namun, dari kasus Steve Jobs bukan berarti ada pembenaran mengonsumsi narkoba. Narkoba tetaplah sesuatu yang dilarang dan berbahaya.

Rekomendasi