Cerita di balik ontran-ontran Trunojoyo

Pergantian Kapolri anyar kali ini menimbulkan polemik berkepanjangan baik di pihak luar atau Mabes Polri.

Eko Prasetya
Oleh Eko Prasetya - Reporter
Cerita di balik ontran-ontran Trunojoyo
Ilustrasi Gedung Mabes Polri. ©2014 Merdeka.com

Pergantian Kapolri anyar kali ini menimbulkan polemik berkepanjangan baik di pihak luar atau Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Calon tunggal pilihan Presiden Joko Widodo yaitu Komjen Budi Gunawan ternyata malah ditetapkan KPK sebagai tersangka dugaan transaksi mencurigakan dan rekening gendut.Alih-alih menyerahkan nasib Budi Gunawan ke DPR, nyatanya parlemen justru menyetujui Budi Gunawan menjadi Kapolri. Nasib Budi Gunawan pun dikembalikan ke Jokowi, apakah akan dilantik atau tidak.Mutasi aneh pun terjadi di kalangan jenderal bintang tiga. Tiba-tiba Kabareskrim Komjen Suhardi Alius dicopot dari jabatannya.Suhardi dimutasi ke Lemhannas. Kabar merebak, bahwa pencopotan Suhardi ini berkaitan dengan penetapan tersangka calon tunggal Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan oleh KPK.Betapa tidak, dipindahnya Suhardi dari Bareskrim ke Lemhanas tidak berselang lama dari pengumuman tersangka Budi Gunawan oleh KPK. Informasi yang dihimpun, Suhardi menjadi salah satu jenderal yang tidak setuju jika Budi Gunawan menjadi orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu.Menurut sejumlah sumber merdeka.com, Suhardi bahkan yang melengkapi berkas rekening gendut milik Budi Gunawan ke KPK. Dengan berkas ini, KPK pun bergerak cepat dan langsung menetapkan Budi Gunawan menjadi tersangka gratifikasi sehingga langkah mantan ajudan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri itu menjadi tidak mulus."Informasi itu (Rekening Budi Gunawan) dari bareskrim semua. Tentu sebagai Kabareskrim, internal Polri minta dia yang bertanggung jawab," kata sumber merdeka.com.Internal kepolisian dikabarkan berang dengan tindakan Suhardi yang dianggap mengumbar borok institusi sendiri. Para petinggi Polri sudah menyebutkan ada jenderal yang berkhianat. Diduga Suhardi adalah jenderal itu.Suhardi pun digantikan oleh Irjen Budi Waseso. Budi Waseno merupakan rekan satu angkatan Suhardi Alius yang menjabat Kepala Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri (Sespimti).

Dampak lain dari polemik itu juga menimpa Kapolri Jenderal Sutarman. Sutarman akhirnya diberhentikan oleh Jokowi setelah keluarnya Keputusan Presiden (Keppres)."Saya tanda tangani Keppres pemberhentian terhormat Jenderal Sutarman," kata Jokowi.Dalam Keppres itu, Wakapolri Komjen Badrodin Haiti pun ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt). Entah kenapa Jokowi bersikeras menghentikan Sutarman lebih cepat. Sedangkan calon yang dia pilih Budi Gunawan nyatanya ditunda pelantikannya karena terjegal kasus di KPK.Ini tentu menjadi pertanyaan. Andai Jokowi ragu terhadap Budi Gunawan, kenapa orang nomor satu di republik ini tidak mencari calon baru."Ditunda bukan berarti tidak dilantik," papar Jokowi.Pergantian Kapolri ini memang terlihat buru-buru. Padahal Sutarman pensiun baru pada Oktober mendatang, namun Jokowi memilih opsi pergantian Kapolri secepatnya.Berhembus kabar, pencopotan Sutarman akibat Kapolri memberikan izin kepada Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie (Ical) untuk menggelar Munas di Bali. Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pun berang dan mendesak Jokowi untuk segera mengganti Sutarman.Jokowi yang terus didesak akhirnya menyetujui mengganti Kapolri secepatnya. Sutarman pun tidak terima dan sakit hati lantaran dirinya dicopot karena masalah itu.Sutarman bersama gerbongnya, Suhardi Alius menggelontorkan data ke KPK untuk menjegal Budi Gunawan. Nyatanya, Budi Gunawan kini menjadi tersangka. Dari kabar itu, Sutarman berkeinginan yang menjadi Kapolri adalah Irwasum Komjen Dwi Priyatno dan Wakapolri nya Komjen Suhardi Alius.Politikus PDIP Eva Sundari yang dikonfirmasi merdeka.com terkait kabar tersebut membantahnya. Menurutnya, KIH tidak pernah melakukan intervensi kepada Presiden Jokowi terkait masalah Kapolri."Itu tidak benar. KIH tidak ada mendesak seperti itu. Itu semua kembali ke hak dan pribadi Pak Jokowi, partai tidak ikut campur," kata Eva.

Rekomendasi