Setiap anak presiden punya kisahnya masing-masing. Anak-anak Presiden Soeharto terkenal dengan kerajaan bisnisnya.Dengan kuasa sang Ayah semua urusan fulus selalu lebih lancar. Cerita mengenai bisnis keluarga Soeharto memang bergaung hingga tingkat di dunia. Bahkan, majalah TIME di tahun 1999 pernah khusus membahas kekayaan Soeharto dan kroni-kroninya.Hutomo Mandala Putra atau yang lebih dikenal dengan Tommy Soeharto merupakan anak yang paling getol berbisnis. Bisnis yang paling terkenal adalah PT Timor Putra Nasional yang bergerak dalam bidang otomotif. Kemudian, Tommy juga sempat terjun ke bisnis otomotif. Dia mendirikan PT Timor Putra Nasional yang bergerak di bidang industri mobil, yakni Teknologi Industri Mobil Rakyat (Timor) Indonesia. Sayangnya, nasib mobil nasional itu tak semulus Proton di Malaysia. Timor hilang karena kalah populer dibanding mobil buatan Jepang. Bisnis itu semakin terpuruk karena dilanda krisis Asia di tahun 1999 yang juga meruntuhkan rezim sang Ayah. Sebelum mengembangkan bisnis mobil itu Soeharto memberikan monopoli cengkeh kepada Tommy, yang waktu itu banyak merugikan para petani di tahun 1990.Namun demikian, bisnis pangeran Cendana itu tetap menggurita. Dia dikenal sebagai pemilik dan pengendali Grup Humpuss yang didirikan pada 1984. Kini, Humpuss menjadi induk perusahaan (holding company) yang memiliki beberapa unit usaha selain menangani lini bisnis sendiri. Bisnisnya berkibar di berbagai bidang mulai dari energi, batu bara, petrokimia dan transportasi.Perusahaan-perusahaan Tommy itu di antaranya; PT Humpuss Patragas, PT Humpuss Trading, PT Humpuss Aromatik, PT Humpuss Pengolahan Minyak, PT Humpuss Karbometil Selulose, PT Gatari Air Service, PT Usaha Gemilang Utama, PT Kaltim Methanol Industri, PT Sekar Artha Sentosa, PT Humpuss Intermoda Transportasi.Selain Humpuss, konon Tommy juga melebarkan bisnis bidang properti di Bali. Dia mengembangkan 5 properti di kawasan Pecatu Indah Resort, Jimbaran, Bali. Kawasan itu mengintegrasi sejumlah properti, yakni Klapa Entertainment, Green Park, New Kuta Golf, New Kuta Kondotel, dan New Kuta Hotel Resort yang dikelola jaringan bisnis PT Lor International H.
Advertisement
Anak mantan presiden Soeharto lainnya yaitu Bambang Trihatmodjo yang berhasil mendirikan PT Bimantara Citra pada tahun 1981. Bambang bergabung dengan kawan-kawannya sesama alumnus sekolah Percik (Perguruan Cikini dari SD sampai SMP) dan SMA Negeri 1 Jakarta, yakni Mochamad Tachril dan Rosano Barack. Bergabung juga Indra Rukmana, suami Mbak Tutut. Nama PT Bimantara Citra itu diberikan olah Bambang, yang artinya kira-kira, siap mengemban tugas yang berat dengan citra yang baik.Usaha mereka terus berkembang dan merambah cepat, mulai dari perdagangan, broker asuransi, real estate, konstruksi, televisi swasta, perhotelan, transportasi, perkebunan, perikanan, industri otomatif, industri makanan, industri kimia, pariwisata dan sebagainya.Bimantara bukanlah satu-satunya induk usaha mereka. Kemudian bersama keempat mitranya itu Indra Rukmana, Rosano Barack, Mohamad Tachril Sapi?ie dan Peter F Gontha membangun perusahaan induk lainnya dengan nama PT Bumi Kusuma Prima. Beberapa perusahaan Bimantara juga "diboyong" ke perusahaan ini, seperti PT Gelatindo Multi Graha (produsen cangkang kapsul), PT Lima Satria Nirwana (keagenan Mercedes-Benz), dan PT Citra Auto Nusantara (Ford).Banyak proyek baru yang dikelola oleh perusahaan ini. Sebagian di antaranya adalah proyek-proyek besar. Salah satunya adalah, Bali Turtle Island Development, yang mengembangkan 1.000 ha kawasan wisata baru di Bali dengan nilai investasi keseluruhan 2 miliar dollar AS.Di samping Bimantara dan PT. Bumi Kusuma Prima, Bambang disebut juga memiliki tak kurang 34 perusahaan pribadi. Termasuk diantaranya adalah Bank Andromedia atau dengan nama PT. Andromeda Bank. Perusahaan Bambang tersebut bergerak di berbagai bidang, seperti perdagangan, Perkebunan, Kehutanan, Kimia, Farmasi, Kontruksi, Properti - Perkantoran/Pembelanjaan, Real-Industrial Estate, Transportasi, Jasa dan bidang Keuangan.Jumlah investasi yang ditanam di seluruh perusahaan tersebut terbagi dua, masing-masing investasi asing dan investasi domistik. Investasi asing totalnya USD 102 juta Sementara investasi domestik sebesar Rp 332,7 miliar.
Advertisement
Disamping Bimantara, Bambang juga mempunyai usaha lain yang cukup mempunyai prospek, yakni Satelindo, Candra Asri, dan Kanindotex. Satelindo, adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi. Disamping melayani sambungan langsung internasional, perusahaan ini juga menyediakan layanan satelit. Serta pula layanan telepon seluler. Di Satelindo, lewat Bima Graha Telekomindo, ia menguasai 45 persen saham.Sementara Candra Asri dimiliki oleh Bambang, Prajogo Pangestu, dan Henry Pribadi. Perusahaan yang total investasinya Rp 4 triliun lebih tersebut memproduksi ethylene, prophylene, dan butadiene, masing-masing dengan kapasitas 495 ribu ton, 245 ribu ton, dan 24 ribu ton per tahun. Dengan jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pabrik petrokimia semihilir (antara) di dalam negeri. Bahkan bisa berlebih, sehingga dapat digunakan untuk diekspor.Terakhir adalah PT. Kanindotex, perusahaan tekstil terpadu yang didirikan oleh Robby Tjahjadi. Seperti ditulis SWA, bersama Johannes Kotjo, Bambang Rijadi Soegomo, dan Wisnu Suwardono, Bambang menguasai mayoritas saham (90 persen) perusahaan itu. Tak kurang, enam perusahaan menjadi pendukung prabrik tekstil tersebut. Salah satunya adalah PT. Kanindo Success Textile. Perusahaan ini mengoperasikan 440 ribu mata pintal.Ketika pada zaman orde baru, bisnis keluarga Soeharto memang semakin menggurita, enam anak Soeharto memiliki saham dalam jumlah signifikan sekurang-kurangnya di 564 perusahaan, dan kekayaan luar negeri mereka mencakup ratusan perusahaan-perusahaan lainnya, tersebar dari Amerika ke Uzbekistan, Belanda, Nigeria, Vanuatu, dan Negara-negara lainnya. Jika ditotal dari investasinya maka jumlah harta kekayaan keluarga Soeharto adalah sebagai berikut:1. Properti di Indonesia USD 4.000.000.000
2. Import pangan USD 3.600.000.000
3. TV, Radio, Penerbitan USD 2.800.000.000
4. Telekomunikasi USD 2.500.000.000
5. Hotel dan turisme USD 2.200.000.000
6. Jalan tol USD 1.500.000.000
7. Perusahaan penerbangan dan jasa angkasa USD 1.000.000.000
8. Produksi dan distribusi tembakau USD 1.000.000.000
9. Kendaraan USD 460.000.000
10. Penghasil daya USD 450.000.000
11. Manufaktur USD 350.000.000
12. Properti di luar negeri USD 80.000.000Dengan total kekayaan USD 73.240.000.000, dan kekayaan saat ini hanya sebesar USD 15.000.000.000.