Belakangan ini publik heboh membicarakan film pendek Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang sempat booming pada era 2000-an. AADC muncul lagi lewat iklan Line, fitur chat di smartphone yang banyak dipakai masyarakat Indonesia saat ini.Di Indonesia pun sudah kerap bermunculan iklan-iklan yang kreatif lantaran sudah menjamurnya pekerja periklanan yang mumpuni. Sebagai contohnya, sebelum AADC versi Line juga sudah ada iklan fenomenal produk Mastin, yang mempopulerkan kulit manggis ternyata ada ekstraknya.Praktisi periklanan Brama Danuwinata menilai memang dunia periklanan Indonesia saat ini sudah sangat berkembang pesat. Hal itu disebabkan sudah banyaknya media yang semakin sering diakses masyarakat dan jenis iklan yang semakin beragam."Sekarang kita melihat iklan tidak hanya di TV, koran, majalah, dan billboard pinggir jalan. Tapi kita sekarang bisa juga melihat iklan di YouTube (seperti AADC Line), Twitter, Facebook, Instagram. Dan mungkin ke depannya kita juga bisa melihat di Path dan WhatsApp," kata Brama ketika berbincang dengan merdeka.com, Jumat (14/11) malam.Menurut Brama, selain sudah banyak media baru yang bisa semakin gampang diakses, kini kehadiran perusahaan periklanan (agency) di Indonesia juga semakin banyak."Dengan semakin banyaknya media baru, industri periklanan di Indonesia juga semakin besar dan banyak. Karena tidak semua agency periklanan bisa mengerjakan semua jenis iklan yang tersedia. Semakin banyak agency, maka otomatis semakin banyak orang kreatif di Indonesia," ujarnya.Pria jebolan Ilmu Komunikasi UGM ini juga memaparkan kriteria iklan yang bagus untuk masyarakat. Sebagai contohnya, Brama juga mengambil Line yang dianggapnya jenius memasukkan konten lanjutan AADC hingga akhirnya berhasil menyedot perhatian banyak orang."Iklan yang bisa mengundang perhatian publik menurut saya adalah iklan atau campaign yang seperti Line AADC. Cerdas, out of the box, simple, berhubungan dengan produk, semua orang membicarakan, dan semua orang sharing ke media sosial mereka. Hasil akhir iklan pada masa sekarang bukan cuma untuk membeli produk lho. Contohnya Line, hasil akhir yang mereka ingin dapatkan adalah semakin banyak orang yang menggunakan aplikasi Line," paparnya.Brama yang juga bekerja di agency ini juga menceritakan pengalamannya ketika menggarap sebuah produk. Di agency VML Qais Indonesia, Brama kini menjabat di bidang Social & Engagement Lead dan sempat mengerjakan campaign untuk Mizone (Danone) yang bernama #FresArt ketika meluncurkan varian Mizone Fres'in."Karena rasanya yang beda dan baru pertama kali ada di pasaran Indonesia, kita meminta orang untuk mendeskripsikan rasa Mizone Fres'in baru melalui tweet, dan kita kita bekerjasama dengan 5 orang artist untuk menggambar secara real time tweet deskripsi yang masuk. Dalam satu hari event ini kita mendapat lebih dari 2.000 macam deskripsi melalui Twitter dan sempat menjadi trending topic di Indonesia," ujarnya sembari terkekeh."Kita juga pernah membuat campaign di YouTube untuk Mizone, yaitu specific targetting YouTube Pre Rolls ads, di mana video ads yang kita buat khusus dan hanya akan muncul ketika orang mengetikkan keyword tertentu saja. Seperti dangdut, kucing, geisha, dan milley cyrus. Campaign ini sangat sukses karena tingkat orang tidak men-skip Youtube Ads mencapai lebih dari 90 persen. Angka ini sangat tinggi jika kita bandingkan dengan pre rolls YouTube ads standard," imbuh pria asal Malang ini.
Di masa depan media sosial jadi kunci kesuksesan sebuah iklan
"Kita sekarang bisa juga melihat iklan di YouTube (seperti AADC Line), Twitter, Facebook, Instagram," kata Brama.
Rekomendasi