Tertangkapnya empat WNA dengan paspor palsu Turki di Sulawesi Tengah membuktikan suksesnya komunikasi kelompok ISIS dengan kelompok teroris di Indonesia. "Penangkapan mereka merupakan keberhasilan deteksi dini intelijen yang harus diapresiasi," ujar Ridlwan Habib, peneliti terorisme dari S2 Kajian Stratejik Intelijen UI di Jakarta, Senin (15/9).Ridlwan menilai penangkapan itu akan memberi petunjuk lebih jelas tentang cara berkomunikasi antara jaringan kelompok teroris Santoso dan ISIS di Suriah. "Mereka diduga kuat akan memberikan dana sekaligus melihat langsung peta kekuatan kelompok Mujahidin Indonesia Timur sebagai bahan laporan ke amirnya Abu Bakr Al Baghdady," katanya.Hubungan kedua kelo
mpok ini saling menguntungkan. "Kelompok Santoso sedang membutuhkan dana dan bantuan persenjataan dari luar, sedangkan ISIS perlu proxy untuk melebarkan pengaruhnya ke Indonesia," katanya.Pengiriman dana melalui wire transfer atau perbankan sudah tidak dilakukan lagi. Sebab, mudah dideteksi oleh aparat keamanan. Karena itu, prosedurnya kembali ke cara klasik yakni cash and carry.Hal yang serupa pernah terjadi di bulan Juli 2001. Saat itu Yusuf Galan, anggota sel Al Qaeda Spanyol diutus oleh pemimpinnya Abu Dahdah untuk membawa uang tunai untuk mendanai kamp pelatihan jihad Poso. Kamp militer itu terpotret satelit lembaga sandi negara. Aparat intelijen RI pada 23 Desember 2001 berangkat ke Spanyol dan menemukan bukti paspor dan foto kunjungan Yusuf Galan.Saat ini anggota kelompok MIT Santoso sebagian sudah berada di Suriah dan bergabung dengan kelompok Islamic State atau Daulah Islamiyah. "Intelijen imigrasi dibantu oleh Baintelkam Polri harus lebih memperkuat pengawasan di pintu-pintu masuk Indonesia yang selama ini lemah," kata Ridlwan.Ridlwan meyakini kunjungan 4 WNA di Sulawesi Tengah itu bukan yang pertama dan juga bukan yang terakhir. "Jika satu pola sudah terbongkar biasanya mereka akan langsung berganti strategi. Kelompok ini dua tiga langkah di depan kepolisian kita," katanya.