Jelang penutupan lokalisasi Gang Dolly dan Jarak, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terus berupaya melakukan sosialisasi menyeluruh. Penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yang ada di Kota Pahlawan ini, bukan sekadar pembubaran tanpa solusi, melainkan juga memberi pemahaman kepada seluruh pekerja seks komersial (PSK).Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu menilai, jika ingin sukses menjalankan program, transformasi pemahaman harus terus dilakukan untuk memberi pengertian kepada para PSK, sumber penghidupan itu bukan menjual tubuh ke lelaki hidung belang, melainkan ada banyak cara mengais rezeki dengan cara halal.Jadi, kata Risma, pembubaran seluruh praktik prostitusi di Surabaya ini, bukan sekedar menutup tanpa solusi. Melainkan juga disertai upaya recovery agar para PSK mampu menjadi pelaku ekonomi secara mandiri."Transformasi pemahaman ini adalah, bagaimana kita bisa menunjukkan dan meyakinkan, bahwa apa yang dilakukan para PSK, sejatinya bukanlah pekerjaan," beber Risma, Kamis (13/3).Hal itu dibuktikan dengan, meski sudah menjadi PSK bertahun-tahun, mereka (PSK) tetap saja perekonomiannya tidak terdongkrak, justru semakin terlilit hutang dengan mucikarinya."Harusnya, kalau sudah bekerja selama bertahun-tahun mestinya ekonomi mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Seharusnya sudah mulai sejahtera," ucap alumni Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) itu.Dan untuk mengentaskan masalah ekonomi para PSK, Pemkot Surabaya telah sepakat tidak hanya sekadar menutup, melainkan juga me-recovery perekonomian seluruh penghuni lokalisasi di Kota Pahlawan ini, termasuk Gang Dolly dan Jarak, yang dipastikan bubar sebelum Ramdhan tahun ini (2014).Dengan cara ini, Risma menilai, sangat efektif untuk memberantas praktik prostitusi di Surabaya. "Cara ini ternyata cukup efektif. Contohnya di Bangunsari. Setelah ditutup beberapa waktu lalu, eks PSK di sana, sekarang justru sukses menggerakkan ekonomi di wilayahnya. Bahkan produk-produk hasil olahan mereka, tahun ini akan ekspor," ucap Risma dengan senyum bangga.Dijelaskan mantan Kepala Dinas Pertamanan itu, ada pilihan usaha produktif yang ditawarkan oleh pihak Pemkot Surabaya, yang kemudian memfasilitasinya dengan peralatan dan modal usaha.Beberapa pilihan usaha yang ditawarkan itu antara lain, usaha di bidang jasa pencucian pakaian, konveksi, pengolahan makanan dan sebagainya."Jadi kalau ada yang ingin membuka usaha pencucian pakaian misalnya, ya akan dibelikan alat pencuci. Jika ingin usaha konveksi, kita belikan mesin jahit, begitu pun yang ingin membuka usaha makanan, akan diberi peralatan memasak, lengkap dengan pelatihan dan modal awal usahanya," beber dia lagi.Sementara untuk mendukung program recovery ekonomi eks PSK tersebut, Risma mengaku kalau pemerintah telah menyiapkan anggaran lebih dari Rp 27 miliar di tahun 2014.Dana ini, dialokasikan untuk merehabilitasi eks lokalisasi di empat titik, yaitu Klakahrejo, Sememi, Morokrembangan, dan Dupak Bangunsari. Sementara untuk Gang Dolly dan Jarak, pihak Pemkot Surabaya masih melakukan perincian anggaran yang dibutuhkan.Dijelaskan wali kota kelahiran Kediri itu, dana rehabilitasi eks lokalisasi tersebut, diambil dari anggaran program Kementerian Sosial senilai Rp 585 juta, yang khusus untuk pemberdayaan PSK, dan Rp 1,4 milyar dari Pemprov Jawa Timur khusus untuk pemberdayaan mucikari."Sedangkan dari Pemkot Surabaya sendiri senilai Rp 25 miliar, yang khusus untuk pembangunan fisik kawasan eks lokalisasi," rinci Risma.
Jelang penutupan Gang Dolly, Risma gencar sosialisasi ke PSK
Risma berupaya memberikan pemahaman agar para PSK bisa berganti profesi.
Advertisement
Rekomendasi