Isu dijualnya Gunung Ceremai kepada Chevron, perusahaan asal Amerika Serikat, santer beredar di media sosial beberapa hari belakangan. Gunung yang terletak di Kuningan, Jawa Barat itu dikabarkan dijual Rp 60 triliun.Menteri Perhutanan Zulkifli Hasan justru mempertanyakan kabar tersebut. Dia mempertanyakan dari mana kabar tersebut berasal."Yang jual siapa? Memang gunung bisa dijual?" kata Zulkifli melalui pesan singkat kepada merdeka, Senin (3/3).Mantan Sekjen PAN ini mengaku heran atas kabar tersebut. Dia juga mempertanyakan pemerintah mana yang menjual Ceremai."Pemerintah mana? Saya baru dengar," katanya.Sebelumnya, aktivis Gerakan Massa Pejuang untuk Rakyat (Gempur) Kuningan, Okky Satrio Djati mengatakan, isu dijualnya Gunung Ceremai muncul tak lepas dari rencana eksploitasi tenaga panas bumi di gunung itu.Menurut Okky, kabar bahwa panas bumi di Gunung Ceremai akan dieksploitasi asing sudah muncul sejak 2004. Ketika itu, muncul surat keputusan menteri kehutanan tentang keberadaan Taman Nasional Gunung Ciremai. Saat itu SK keluar pada era menteri Kaban yang menggantikan menteri M Prakosa. Menurut Okky, warga curiga mengapa ada taman nasional mengingat dari hasil studi perguruan tinggi setempat konservasi di Gunung Ceremai berbasis masyarakat."Masyarakat menganggap ini penuh manipulasi. Masyarakat menilai tidak perlu ada taman nasional di Gunung Ceremai," ujar Okky kepada merdeka.com, Senin (3/3).Kemudian waktu berlanjut, pada 2006 warga masyarakat mendengar pertemuan di Bali muncul usulan dari Pemda Jabar ada tujuh wilayah yang bisa diupayakan untuk energi panas bumi. Tujuh wilayah itu terbentang dari Ceremai, Kuningan, Ciamis, hingga Pangandaran. "Meliputi 3 kabupaten," ujar Okky.Okky menambahkan, masyarakat juga santer mendengar tender pemanfaatan panas bumi sudah dilakukan dengan hanya dua peserta yaitu perusahaan asal Turki, Hitay dan Jasa Daya Chevron. "Ini kan janggal, untuk nilai triliunan, hanya ada dua peserta," ujar Okky.
Menhut: Memang Gunung Ceremai bisa dijual?
Gunung yang terletak di Kuningan, Jawa Barat itu dikabarkan dijual Rp 60 triliun.
Rekomendasi