Kisah Tan Malaka bohongi Jepang lewat CV lamaran kerja

Tan sadar penganut paham komunis sangat dicari-cari fasis Jepang.

Angga Yudha Pratomo
Oleh Angga Yudha Pratomo - Reporter
Kisah Tan Malaka bohongi Jepang lewat CV lamaran kerja
Tan Malaka. Buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia

Tan Malaka kembali ke tanah air pada 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang. Setelah sempat tinggal di Rawa Jati, Kalibata, Jakarta Selatan, dekat pabrik sepatu Bata, Tan lantas pindah ke Bayah, Banten, untuk bekerja di tengah-tengah romusha.Tambang batu bara itu dikuasai Jepang dan tentaranya yang kejam menyiksa para romusha. Awalnya, Tan Malaka harus mengisi formulir lamaran sebelum diterima bekerja. Saat itu Jepang ingin mengetahui apakah para pelamar pernah bergabung dalam suatu kumpulan, terutama komunis."Tidak mudah menuliskan riwayat diri sendiri bagi siapa pun juga dalam keadaan seperti saya di masa itu," kata Tan seperti dikutip dari buku 'Dari Penjara ke Penjara'.Tan sadar penganut paham komunis sangat dicari-cari fasis Jepang. Jika ketahuan, akan dibenci, disiksa hingga dibunuh oleh para serdadu negeri matahari terbit."Caranya Jepang membasmi komunisme menunjukkan kekolotannya dalam ideologi dan kesingkatan akal serta kejamnya dalam siasat politik," jelasnya.Namun demikian, Jepang kesulitan menemukan pelamar yang menganut paham komunis. Sebab, tiap pelamar sudah tahu apa akibatnya jika terus terang mengaku komunis. Dalam aplikasi lamaran, Tan Malaka menggunakan nama Ilyas Hussein. Tan mengaku keluaran MULO dan pernah bekerja sebagai juru tulis sebuah firma di Singapura."Yang mengenai nama saya, ialah Hussein itu, pada permulaan tiadalah menarik perhatian pekerja dan pegawai Bajah Kozan. Memangnya di Bajah Kozan untunglah tak ada yang berkenalan dengan saya waktu 20 tahun lampau, walaupun mereka berasal dari hampir semuanya pulau di Indonesia ini," ungkapnya.Tan pun diterima bekerja di perusahaan tambang itu. Namun, Tan ditempatkan tidak sesuai dengan keahliannya. Saat itu Tan diposisikan di bagian gudang yang berisi berbagai perkakas seperti mesin bor, pompa dll. Perkakas itu didatangkan terus menerus dari Sukabumi dan Jakarta.Di posisi itu, Tan lebih banyak mengangkut barang ketimbang menulis sesuai keahliannya. Selama bekerja, tak ada kesempatan untuk Tan duduk di kursi empuk dan menyentuh mesin ketik seperti biasa yang dilakukannya. Tan justru lebih banyak berdiri atau mengangkat barang yang diterima, dikirim atau dihitung."Tetapi ada pula yang keluar atas permintaan dari cabang Bajah Kozan, ialah tambang Madura, Cihara dang Cimang," kata Tan Malaka .

Rekomendasi