Nestapa Brigadir Zhiang, tak bisa rayakan Imlek zaman Soeharto

"Saya di zaman Gus Dur bisa ngajuin diri jadi polwan dan papi ngajuin diri sebagai WNI," kata Brigadir Zhiang.

Mustiana Lestari
Oleh Mustiana Lestari - Reporter
Nestapa Brigadir Zhiang, tak bisa rayakan Imlek zaman Soeharto
Brigadir Yolla Bernanda . ©2014 Merdeka.com/Imam Buhori

Masih lekat dalam ingatan Chang Mei Zhiang (31) betapa mengerikan perlakuan pribumi terhadap etnis Tionghoa, apalagi menjelang Soeharto lengser. Ayah Brigadir Zhiang alias Yolla Bernada begitu ketakutan sampai mengisolasi dia dan keluarganya."Kerasa banget malamnya banyak orang dibunuhin, diperkosa. Saya sampai seminggu enggak keluar, untung barang distok," kenang Brigadir Zhiang kepada merdeka.com di kantornya, Polsek Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (30/1).Peristiwa ini tidak lebih buruk dari kerusuhan sebelumnya di Jakarta. Bahkan saat itu kakek Yolla yang asli China hendak membawa kembali ayah Yolla ke negara asalnya. Tak sampai situ, kenangan buruk tentang diskriminasi sebagai warga Tionghoa dia rasakan datang bertubi-tubi di masa Soeharto."Sebelumnya saya enggak bisa ngerayain Imlek sama nama tiga huruf saya dilarang, sekarang boleh sudah enak tapi kadang terlalu bebas juga bikin polisinya capek," ujar Yolla sambil berusaha menutupi kesedihannya.Beruntung era kepemimpinan Soeharto berakhir, udara bebas akhirnya didapatkan Yolla sekeluarga setelah Gus Dur menjabat. "Saya di zaman Gus Dur bisa ngajuin diri jadi polwan dan papi ngajuin diri sebagai WNI," katanya lega.Tetapi kekhawatiran belum juga selesai, di pendidikan Secaba Polri, Brigadir Yolla dihantui ketakutan akan diskriminasi dari kaum pribumi."Ternyata enggak ada (diskriminasi), cuma pertama masuk katanya ya ada yang dipukulinlah segala macam. Saya bilang saya juga bisa bela diri kalau digituin saya berani lawan," pungkas wanita yang mengusai bela diri Taekwondo, Wushu, Judo ini mantap.Selepas pendidikan, rasa penasaran dan heran masih juga membayangi Yolla, begitupun saat berhadapan dengan masyarakat. Betapa tidak, orang bertenis Tionghoa memang amat jarang di lingkungan kepolisian."Saya lebih sering dikira Manado dibanding China. Kalau ditanya ya jawab saja Manado," pungkas perempuan yang punya logat China yang kental ini.Di hari Imlek tahun ini, segudang harapan dia panjatkan pada Tuhan. Salah satunya, dia ingin memakai nama tiga hurufnya kembali seperti orang Tionghoa pada umumnya."Sekarang ada orang keturunan yang boleh pakai nama tiga huruf di Akpol. Saya juga mau pakai itu dulu, tapi kata papi takut enggak bisa sekolah. Sekarang juga mau balik nama susah. Saya mau orang keturunan diberi banyak lowongan buat jadi polisi," harap wanita keturunan kedua dari keluarga China ini.Kini meski tidak memeluk agama Budha lagi, Brigadir Yolla ingin tetap merayakan dan menjalankan tradisi Imlek. Menyambut Imlek, dia berniat lebih cepat pulang untuk membersihkan rumahnya dan melanjutkan tradisi Imlek seperti sebelumnya."Nyambang ke rumah orangtua, makan bandeng, makan kue china, bagi-bagi angpao," tutup wanita yang tidak lancar berbahasa China ini. Baca Juga:

Buru angpao, 2 ribu pengemis serbu Wihara di Petak Sembilan

Beretnis Tionghoa, Brigadir Yolla sukses bekuk bandar narkoba

Cerita wanita Tionghoa yang diamuk ayah saat daftar jadi polwan

Cerita warga etnis Tionghoa tinggal di negeri syariah

Kekhusyukan doa warga Tionghoa sambut Tahun Baru Imlek 2565

Rekomendasi