Media televisi, kini menjadi salah satu sumber hiburan bagi masyarakat. Hampir setiap rumah kini, memiliki satu layar televisi.Semakin besarnya kepemilikan televisi membuat sejumlah lembaga penyiaran semakin berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Merebut ribuan hingga jutaan pasang mata untuk menyaksikan siaran andalannya. Berbagai jurus pun diterapkan untuk menarik minat para penonton.Salah satunya program komedi atau melawak. Untuk meningkatkan minat penonton, berbagai jurus kreatif pun dikeluarkan, termasuk mendandani para talent pria berganti peran menjadi seorang wanita.Munculnya sejumlah aktor pria menjadi wanita menimbulkan pro dan kontra sendiri di tengah masyarakat. Ada yang setuju, ada pula yang tidak setuju.Salah satunya Kunang (48), pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang masak ini tidak masalah dengan gaya para talent di layar televisi ketika berdandan layaknya seorang wanita. Apalagi, kelucuan yang diberikan memberikan hiburan tersendiri di tengah penatnya pekerjaan."Cari lucu-lucu aja cari sensasi biar ngurangin stress di Jakarta," aku Kunang (48) saat berbincang dengan merdeka.com ketika beristirahat di pinggir Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan.Dirinya tidak masalah dengan kehadiran para pelawak yang hadir dengan busana ala wanita, atau tampil dengan gaya kebanci-bancian. Ia justru menyukai lawakan tersebut karena dianggapnya menghibur.Meski demikian, dia meminta masyarakat tetap cerdas untuk tidak mengikuti atau menyontek adegan yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari.
Topik Pilihan: televisi | Selebriti Indonesia"Jelas itu yang buat saya ketawa sama keluarga. Mau enggak mau, ya sudah nonton aja tayangannya, seperti itu yah kita seneng-seneng aja kalau ada banci ngelawak. Tapi kalau masyarakat normal enggak perlu dicontohin," lanjut Kunang.Berbeda dengan Kunang, Gilang (21) menilai acara yang menampilkan adegan kebanci-bancian tidak mendidik. Mahasiswa Universitas Sahid ini malah mencerca sejumlah talent yang dianggapnya berlebihan saat mengeluarkan celetukan."Kurang penting dan enggak berpendidikan, cuman lelucon aja, enggak positif. Saya enggak suka dengar tayangan YKS, menjatuhkan orang-orang menjelekkan orang lain. Saya aja nonton juga sakit hati. Suka lebay banget," ungkap Gilang saat ditemui di depan kampusnya.Mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2010 ini meminta agar lembaga penyiaran lebih cerdas dalam memilah acara yang berkualitas. Seperti misalnya program 'Si Unyil', atau sejumlah program yang bisa mencerminkan jati diri bangsa.Lain lagi dengan Zainuddin (45), dia justru khawatir dengan munculnya adegan kebanci-bancian terhadap tumbuh kembang anaknya."Enggak suka sama sekali, lebay banget itu. Sebenarnya kurang mendidik. Kodratnya sebagai pria malah jadi perempuan. Saya takut juga anak saya ikut-ikutan," kata Zainuddin.Zainudin berharap tayangan televisi dapat mencerdaskan, sehingga orangtua tidak merasa resah atas hadirnya tayangan gaya kebanci-bancian itu. "Jangan sampai ada tampilan tv seperti itu, saya juga takut dampaknya ke anak saya. Saya jijik liat orang banci di TV, pengennya sih acara yang kaya gitu bisa beri suasana pendidikan," pungkas Zainuddin.