Kuis kebangsaan Win-HT menuai polemik lantaran tanya jawab yang disiarkan secara langsung di RCTI itu diduga kuat sudah diskenariokan sebelumnya (settingan). Atas perbuatan itu, stasiun televisi milik Cawapres Hanura, Hary Tanoesoedibjo itu bisa dipolisikan.Koordinator Divisi Penyiaran dan Media Baru Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Dandhy Dwi Laksono berpendapat, kuis kebangsaan Win-HT adalah bentuk pembohongan publik. "Menurut saya bisa dianggap sebagai indikasi delik penipuan publik. Kuis itu kan disiarkan langsung, semua penonton ingin menelepon untuk mendapatkan hadiahnya, tapi sudah disiapkan pemenangnya dan jawabannya. Ini bentuk pembohongan publik," ucap Dandhy saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (13/12).Oleh karena itu, Dandhy menegaskan, seharusnya Komisi Penyiaran Indoensia (KPI) dapat bersikap tegas dan aktif dalam menangani perkara tersebut. Selain KPI, lanjut Dandhy, kepolisian dan kejaksaan dapat menindaklanjuti untuk menyelidiki kasus tersebut."Walaupun tidak ada laporan, kepolisian dan kejaksaan bisa bertindak tegas dan aktif terhadap kuis Win-HT ini. Dengan dalih siapa yang dirugikan? Tentunya orang-orang yang menelepon pada saat kuis dimulai," jelas Dandhy."Kuis ini juga bisa dianggap sebagai bentuk money politics dan kampanye Win-HT. Kita tahu televisi menggunakan frekuensi milik publik, tapi dibuat untuk pencitraan. Kuis ini membohongi dan mempermainkan publik. Beda halnya jika acaranya tidak langsung atau menggunakan sistem undian dan diacak," tutupnya.Seperti diberitakan, Kuis Kebangsaan Win-HT mengajukan pertanyaan seputar pengetahuan umum seperti sejarah dan geografi. Setiap penelepon yang bisa masuk, kemudian diminta mengucapkan password terlebih dahulu.Passwordnya adalah bersih, peduli dan tegas. Setiap peserta yang bisa menjawab langsung mendapatkan hadiah. Pihak WIN-HT pun menyediakan hadiah seperti dispenser dan kamera.Nah, ada yang aneh dalam kuis ini. Seorang penelepon bernama Syaifudin dari Jawa Timur tiba-tiba langsung menjawab; A. Istana Maimun. Padahal, pertanyaan belum diajukan. Karena nyelonong menjawab terlebih dahulu, presenter kuis kebangsaan kemudian mengarahkan agar Syaifudin memilih huruf W-I-N-H-T untuk memilih pertanyaan. Syaifudin kemudian memilih huruf H."Istana yang menjadi salah satu ikon Kota Medan dan dibangun pada tahun 1888 adalah? tanya presenter kuis.Di layar kaca terlihat tiga pilihan, yaitu; A. Istana Maimun B. Gedung Sate C. Museum Gajah. Kemudian Syaifudin menjawab A. Istana Maimun. Diduga kuat Syaifudin si penelepon merupakan bagian dari penyelenggara kuis.
Kuis Win-HT dinilai bohongi publik, RCTI bisa dipolisikan
Walaupun tidak ada laporan, kepolisian dan kejaksaan bisa bertindak tegas dan aktif terhadap kuis Win-HT ini.
Advertisement
Rekomendasi