Kerasnya hidup penyebab prostitusi tak pernah mati

'Ini kan penyakit masyarakat Jakarta, itu semua masih ada karena si peminatnya masih ada dan cenderung bertambah.'

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Kerasnya hidup penyebab prostitusi tak pernah mati
Ilustrasi Prostitusi. ©2013 Merdeka.com/shutterstock

Urusan hiburan syahwat, Jakarta adalah tempatnya. Mau yang berkelas atau kaki lima, tersedia. Tergantung lembaran uang di kantong si penikmatnya.

Sudah berulang kali ditertibkan, nyatanya tempat-tempat prostitusi tak bisa mati. Alasannya klise, pemburu cinta masih banyak berkeliaran, begitu juga si penjaja cinta.

Menurut Sosiolog UIN, Musni Umar, kondisi ini bukan lagi fenomena. Tapi memang sesuatu yang terpelihara sejak dulu.

"Ini kan penyakit masyarakat Jakarta, itu semua masih ada karena si peminatnya masih ada dan cenderung bertambah," kata Musni saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (6/10).

Untuk lokalisasi murahan seperti di Gunung Antang, Jatinegara, misalnya. Meski sudah ada sejak 1976, tapi sampai sekarang semakin menggeliat.

"Karena penikmat syahwat dari kalangan masyarakat bawah ya sanggupnya di situ," tambahnya.

Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Karena setiap orang berhak memperjuangkan kelangsungan hidupny.

"Itu karena kemiskinan yang buat mereka serba salah. Pingin kerja di formal pendidikan rendah, kerja di informal, nggak ada tempat nggak ada modal, jadi melakukan prostitusi lah yang dianggap tepat," ujar Musni.

Sebenarnya ini bisa selesai jika ada perhatian khusus dari pemerintah. Menurutnya, mereka para PSK bukan cuma ditertibkan lalu dilepas lagi setelah diberikan sekadar nasihat lalu dilepas lagi.

"Tapi mereka harus dibina diberikan keterampilan dan diberi modal untuk usaha, otak meraka di cuci, diberi motivasi, dan beri tahu apa yang mereka lakukan itu tidak benar. lakukan pembinaan, beri rusun. Karena sesungguhnya mereka juga korban dari situasi negara dan daerah," kritiknya.

Musni paham, hidupnya lokalisasi di Jakarta yang ada yang membekingi. Maka itu, dia yakin jika semua berupaya bersama-sama, tentu masalah ini bisa selesai.

"Beking itu sebenarnya bisa di atasi, itu ada di mana, itu kan pasti preman dan preman butuh uang, begitu juga di PSK, jadi kan simbiosis mutualisme. Tapi sekali lagi kalau ditertibkan dan kasih tepat tinggal dan dikasih modal usaha, itu bisa ditertinkan. Tinggal kemauan saja," kata Musni.

Dan Musni yakin kepemimpinan Jokowi saat akan membuat Jakarta lebih baik. "Pak Jokowi bisa selesaikan masalah ini, karena beliau human relationnya bagus, jd orang gak merasa penertiban cara beliau itu dipaksaan, lebih banyak penyadaran," tandasnya.

Rekomendasi