Matahari sudah terbenam, dan langit mulai gelap. Tapi hiruk-pikuk kehidupan di sepanjang jalan di dekat Stasiun Kereta Api Jatinegara hingga seberang Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta Timur, seolah tak pernah tertidur sejenak.Warga dan kendaraan tetap berlalu lalang, hilir mudik. Di antara mereka terlihat sekelompok wanita pekerja seks komersial (PSK) yang siap beraksi malam itu.Para kupu-kupu malam ini bermunculan dari gelapnya tembok pinggir rel. Usia mereka beragam, ada yang sudah wanita paruh baya sampai remaja. Suasana di sana pun makin ramai tatkala hadir geng waria. Sekilas, penampilan wanita penjaja cinta ini sangat menggiurkan hasrat birahi.Dari penelusuran merdeka.com, sebenarnya pemandangan itu tak hanya di pinggiran Jl Raya Bekasi Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, saja. Mereka membuka lapak lain di sekitar rel.Mulanya si pria hidung belang hanya mengobrol biasa. Ketika pembicaraan mulai memanas, tangan para pasangan mesum itu pun saling bercengkrama, dan tak jarang pulang sambil berpelukan tanpa peduli ada ratusan yang mungkin melihat.Santi (38), seorang pelayan nafsu syahwat itu bercerita soal profesinya. Siapa yang ingin bercinta dengannya, Santi membanderol tarif RP 100.000 - Rp 200.000 untuk sekali kencan.Ketika nafsu memuncak, lanjut janda anak dua ini, dia bersama pasangan semalamnya itu lantas berpindah tempat. Soal lokasinya, tergantung persetujuan di awal."Tarif segitu udah harga pas, kalau yang banyak duit dibawa ke hotel, uang hotel pasti tamu kita yang bayar. Kalau mau irit main di tenda, tapi kena cas Rp 30.000 buat uang tendanya," katanya sambil menunjuk sebuah tenda berukuran 1.5x1.5 meter yang ada di pinggir rel yang ditutupi rumput setinggi dengkul dewasa.Santi yang belasan tahun menjadi pemuas syahwat para lelaki hidung belang ini mengaku, lebih banyak melayani para pelanggannya di balik tenda tersebut. Meski hanya beralaskan tikar dan koran, menurut Santi, sensasi yang didapat melebihi saat melakukan hubungan seks di ranjang empuk hotel."Kalau di tenda itu biasanya cepet saja 'maennya', makanya aku pasang tarif hanya 100 ribu. Lagian kalau lama-lama di tenda kan gak enak. Panas tahu," ucapanya sambil tertawa lepas.
Bilik cinta murahan di rel Jatinegara
Para kupu-kupu malam ini bermunculan dari gelapnya tembok pinggir rel.
Advertisement
Rekomendasi